PARKINSON
AYU KRISTIANA
(1110711009)
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS
PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2012-2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa kami panjatkan atas limpahan rahmat dan berkahnya yang diberikan kepada kami, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Parkinson”. Makalah ini merupakan tugas dari mata kuliah Sistem Neurobehavior . Terimakasih kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini baik yang terlibat secara langsung maupun yang tidak.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna karena keterbatasan yang kami miliki. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun dari para pembaca sangat kami harapkan agar terciptanya makalah yang lebih baik lagi.
Jakarta, Oktober 2013
Tim Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penyakit Parkinson adalah
suatu penyakit degeneratif pada sistem saraf (neurodegenerative) yang bersifat progressive, ditandai dengan
ketidakteraturan pergerakan (movement disorder), tremor pada saat istirahat, kesulitan pada saat memulai
pergerakan, dan kekakuan otot.
Penyakit Parkinson pertama kali
diuraikan dalam sebuah monograf oleh James
Parkinson seorang dokter di London, Inggris, pada tahun 1817. Di dalam
tulisannya, James Parkinson
mengatakan bahwa penyakit (yang akhirnya dinamakan sesuai dengan namanya)
tersebut memiliki karakteristik yang khas yakni tremor, kekakuan dan gangguan dalam cara berjalan (gait difficulty).
Penyakit Parkinson bisa
menyerang laki-laki dan perempuan. Rata-rata usia mulai terkena penyakit
Parkinson adalah 61 tahun, tetapi bisa lebih awal pada usia 40 tahun atau
bahkan sebelumnya. Jumlah orang di Amerika Serikat dengan penyakit Parkinson's
diperkirakan antara 500.000 sampai satu juta, dengan sekitar 50.000 ke 60.000
terdiagnosa baru setiap tahun. Angka tersebut meningkat setiap tahun seiring
dengan populasi umur penduduk Amerika. Sementara sebuah sumber menyatakan bahwa
Penyakit Parkinson menyerang
sekitar 1 diantara 250 orang yang berusia diatas 40 tahun dan sekitar 1 dari
100 orang yang berusia diatas 65 tahun.
Beberapa orang ternama yang mengidap
penyakit Parkinson diantaranya
adalah Bajin (sasterawan
terkenal China), Chen Jingrun (ahli
matematik terkenal China), Muhammad Ali
(mantan peninju terkenal A.S.), Michael
J Fox (seorang bintang film Hollywood terkenal) yang kini aktif dengan The Michael J Fox Foundation For Parkinson’s
Research.
1.2
Rumusan Masalah
è Apa definisi
dari parkinson?
è Apa
etiologinya?
è Bagaimana
patofisiologinya?
è Apa faktor
resiko dari parkinson?
è Seperti apa
pengklasifikasiannya
è Bagaimana
gejala klinisnya?
è Apa saja
komplikasinya?
è Bagaimana
Penatalaksanaannya?
1.3
Tujuan
è Menjelaskan
definisi dari parkinson
è Menjelaskan
etiologi parkinson
è Menjelaskan
tentang patofisiologinya
è Menjelaskan
faktor resiko dari parkinson
è Menjelaskan
klasifikasi parkinsn
è Menjelaskan
gejala klinis
è Menjelaskan
komplikasi dari penyakit parkinson serta
è Menjelaskan
penatalaksanaannya.
1.4 Manfaat
Memberikan pemaparan secara detail mengenai penyakit
parkinson
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Anatomi dan Fisiologi
Sistem
saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan bersambungan serta terdiri
terutama dari jaringan saraf.Sistem persarafan merupakan salah satu organ yang
berfungsi untuk menyelenggarakan kerjasama yang rapi dalam organisasi dan
koordinasi kegiatan tubuh
Fungsi
sistem saraf yaitu :
1. Mendeteksi perubahan dan merasakan sensasi
2. Menghantarkan informasi dari satu tempat ke tempat
yang lain
3.
Mengolah informasi sehingga dapat digunakan segera atau menyimpannya
untuk masa mendatang sehingga menjadi jelas artinya pada pikiran.
Sistem
saraf dibedakan atas 2 divisi anatomi yaitu
:
1.Sistem
saraf pusat (sentral), terbagi atas:
a. Otak
b. Sumsum tulang belakang(medula spinalis)
2.Sistem
saraf perifer (tepi) terdiri atas:
a. Divisi
Aferen, membawa informasi ke SSP (memberitahu SSP mengenai lingkungan eksternal
dan aktivitas-aktivitas internal yg diatur oleh SSP
b. Divisi
Eferen, informasi dari SSP disalurkan melalui divisi eferen ke organ
efektor (otot atau kelenjar yg melaksanakan perintah untuk menimbulkan efek yg
diinginkan), terbagi atas:
Ø Sistem
saraf somatik, yg terdiri dari serat-serat neuron motorik yg mempersarafi
otot-otot rangka
Ø Sistem
saraf otonom, yg mempersarafi otot polos, otot jantung dan kelenjar,
terbagi atas :
1.
Sistem saraf simpatis
2.
Sistem saraf Parasimpatis
Neuron (sel Saraf)
v Sistem
saraf manusia mengandung lebih dari 1010 saraf atau neuron.
v Neuron
merupakan unit structural dan fungsional system saraf
v Sel
saraf terdiri dari badan sel yang di dalamnya mempunyai inti sel,nukleus,
Mitokondria, Retikulum endoplasma, Badan golgi, di luarnya banyak terdapat
dendrit,kemudian bagian yang menjulur yang menempel pada badan sel yang di
sebut akson
v Dendrit
menyediakan daerah yg luas untuk hubungan dengan neuron lainnya. Dendrit adalah
serabut aferen karena menerima sinyal dari neuron-neuron lain dan meneruskannya
ke badan sel.
v Pada
akson terdapat selubung mielin,nodus ranvier,inti sel Schwan,butiran
neurotransmiter
v Akson
dengan cabang-cabangnya (kolateral), adalah serabut eferen karena membawa
sinyal ke saraf-saraf otot dan sel-sel kelenjar. Akson akan berakhir pada
terminal saraf yg berisi vesikel-vesikel yg mengandung neurotransmitter.
Terminal inilah yg berhubungan dengan badan sel, dendrit atau akson neuron
berikutya.
Sel saraf menurut bentuk dan fungsinya terbagi atas
:
1.
Sel saraf sensoris (neuron aferen)
Bentuknya
berbeda dari neuron aferen dan interneuron, di ujung perifernya terdapat reseptor
sensorik yang menghasilkan potensial aksi sebagai respon terhadap
rangsangan spesifik.
Sel
saraf ini menghantarkan impuls(pesan) dari reseptor ke sistem saraf
pusat,dendritnya berhubungan dengan reseptor(penerima rangsangan ) dan ujung
aksonnya berhubungan dengan sel saraf asosiasi,
Klasifikasi
reseptor sensoris menurut jenis stimulusnya yaitu :
Mekanoreseptor mendeteksi stimulus mekanis seperti nyeri,suara,raba
Termoreseptor mendeteksi perubahan temperatur seperti panas dan dingin
Nosiseptor mendeteksi kerusakan jaringan baik fisik maupun mekanik seperi nyeri
Elektromaknetik reseptor mendeteksi cahaya yang masuk ke mata seperti
warna,cahaya
Khemoreseptor mendeteksi pengecapan,penciuman,kadar O2 dan CO2
2. Sel saraf motoris
Sel saraf ini mengirim impuls dari
sistem saraf pusat ke otot/skelet yang hasilnya berupa tanggapan terhadap
rangsangan. Badan sel saraf berada di sistem saraf pusat dan dendritnya
berhubungan dengan akson sel saraf asosiasi dan aksonnya berhubungan dengan
efektor(bagian motoris yang menghantarkan sinyal ke otot/skelet).
Aktivitas sistem motoris tergantung
dari aktivitas neuron motoris pada medula spinalis. Input yang masuk ke neuron
motorik menyebabkan 3 kegiatan dasar motorik yaitu :
1.
Aktivitas volunter( di
bawah kemauan)
2.
Penyesuaian posisi
untuk suatu gerakan tubuh yang stabil
3.
Koordinasi kerja dari
berbagai otot untuk membuat gerakan yang tepat dan mulus.
3. Sel saraf intermedit/Asosiasi
(Interneuron)
Ditemukan seluruhnya dalam SSP.
Neuron ini menghubungkan neuron sensorik dan motorik atau menyampaikan
informasi ke interneuron lainnya. Beberapa interneuron dalam otak terkait
dengan fungsi berfikir, belajar dan mengingat
Sel saraf ini terbagi 2 yaitu :
1.
Sel saraf ajustor yaitu
menghubungkan sel saraf sensoris dan motoris
2.
Sel saraf konektor
yaitu untuk menghubungkan neuron yang satu dengan neuron yang lainnya.
Sel
Neuroglial
Biasa
disebut glia yg merupaka sel penunjang tambahan pada SSP yg berfungsi sebagai
jaringan ikat
Sel
glial dapat mengalami mitosis selama rentang kehidupannya dan bertanggungjawab
atas terjadinya tumor system saraf.
IMPULS
SARAF
Terjadinya
impuls listrik pada saraf sama dengan impuls listrik yg dibangkitkan dalam
serabut otot
Sebuah
neuron yg tdk membawa impuls dikatakan dalam keadaan polarisasi, dimana
ion Na+ lebih banyak diluar sel dan ion K+ dan ion
negative lain lebih banyak dalam sel
Suatu
rangsangan (ex: neurotransmiter) membuat membrane lebih permeable terhadap ion
Na+ yang akan masuk ke dalam sel, keadaan ini menyebabkan depolarisasi
dimana sis luar akan bermuatan negative dan sisi dalam bermuatan positif.
Segera
setelah depolarisasi terjadi, membrane neuron menjadi lbih permeable terhadap
ion K+, yg akan segera keluar dari sel. Keadaan ini memperbaiki
muatan positif diluar sel dan muatan negatif di dalam sel, yg disebut repolarisasi.
Kemudian
pompa atrium dan kalium mengmbalikan Na+ keluar dan ion K+
ke dalam, dan neuron sekarang siap merespon stimulus lain dan mengahantarkan
impuls lain.
Sebuah
potensial aksi dalam merespon stimulus berlangsung sangat cepat dan dpt di ukur
dlm hitungan milidetik.sss
Sebuah neuron tunggal mampu meghantarkan ratusan
impuls setiap detik.
SISTEM SARAF PUSAT
OTAK
Merupakan alat tubuh yang sangat vital karena pusat
pengatur untuk seluruh alat tubuh,terletak di dalam rongga tengkorak
(Kranium) yang dibungkus oleh selaput otak yang kuat.Otak terdiri dari 3 bagian
besar yaitu:
1.Otak Besar (serebrum)
Merupakan bagian terluas dan terbesar dari otak
,bentuk telur dan mengisi penuh bagian atas rongga tengkorak. Adapun fungsi serebrum
yaitu :
untuk pusat pengaturan semua aktivitas mental yaitu Berkenaan
dengan kepandaian(Intelegensi),ingatan(memori),kesadaran,pusat
menangis,keinginan buang air besar
maupun kecil.
Terdiri atas:
·
Lobus frontalis
(depan), sebagai area motorik yg embangkitkan impuls u/ pergerakan volunteer.
Area motorik kiri mengatur pergeakan sisi kanan tubuh dan sebalikya.
·
Lobus oksipital
(belakang), untuk pusat penglihatan
·
Lobus temporal
(samping) untuk pusat pendengaran
·
Lobus parietal (tengah)
untuk pusat pengatur kulit dan otot terhadap panas, dingin, sentuhan,tekanan.
Antara bagian tengah dan belakang merupakan pusat
perkembangan kecerdasan,ingatan,kemauan dan sikap
2.
Batang otak(Truncus serebri) terdiri dari :
a.
Diensephalon
Merupakan
bagian batang otak paling atas,terdapat di antara serebrum dan
mesensephalon,Adapun fungsinya yaitu :
Ø Vasokonstriksi
yaitu mengecilkan pembuluh darah
Ø Respiratori
Ø Mengontrol
kegiatan refleks
Ø Membantu
pekerjaan jantung.
b.
Mesensephalon (Otak tengah)
Terletak
diantara pons dan Diensephalon. Di depan otak tengah ada talamus dan
hipotalamus,fungsinya:
Ø Menjaga
tetap tegak dan mempertahankan keseimbangan
Ø Membantu
pigmen mata dan mengangkat kelopak mata
Ø Memutar
mata dan pusat pergerakan mata
c.
Pons varoli
Terletak
antara Medula oblongata dan mesensephalon,Adapun fungsinya
Ø Penghubung
antara serebrum dan medula oblongata
Ø pencernaan
Pusat saraf N.Trigeminus,N.Optalmicus,N.Maxillaris dan N.Mandibularis
d.
Medula oblongata
Merupakan
bagian otak paling bawah,menghubungkan pons varoli dengan medula
spinalis,Adapun fungsinya yaitu:
Ø Mengontrol
kerja jantung
Ø Vasokonstriksi
Ø Pusat
pernafasan
Ø Mengontrol
kegiatan refleks
3.
Otak kecil (Serebelum)
Terletak
di bagian bawah dan belakang tengkorak dipisahkan dengan cerebrum,diatas medula oblangata,
Adapun fungsinya yaitu :
Ø Pusat
keseimbangan
Ø Mengkoordinasi
dan mengendalikan ketepatan gerakan otot dgn baik
Ø Menghantarkan
impuls dari otot-otot bagian kiri dan kanan tubuh
Talamus
Pusat
pengatur sensoris untuk serabut aferen dari medula spinalis ke serebrum
Hipotalamus
ü Berperan
penting dalam pengendalian aktivitas SSO yg melakukan fungsi vegetative penting
untuk kehidupan seperti pengaturan frekuensi jantung, TD, Suhu tubuh,
keseimbangan air, selera makan, saluran pencernaan dan aktivitas seksual
ü Sebagai
pusat otak untuk emosi seperti kesenangan, nyeri, kegembiraan dan kemarahan.
ü Memproduksi
hormone yg mengatur pelepasan atau inhibisi hormion kelenjar hipofisis,
sehingga mempengaruhi keseluruhan system endokrin.
4.
SUMSUM TULANG BELAKANG (Medulla spinalis)
Merupakan
bagian SSP yang terletak di dalam canalis cervikalis bersama ganglion
radix pos yang terdapat pada setiap toramen intervertebralis terletak
berpasangan kiri dan kanan
Fungsi
sumsum tulang belakang adalah :
1.
Penghubung impuls dari
dan ke otak
2.
Memungkinkan jalan
terpendek pada gerak reflex
3.
Organ ini mengurus
persyarafan tubuh,anggota badan dan bagian kepala
Cairan
serebrospinal
ü Terdapat
pd ruang subaraknoid yang mengisi ventrikel dlm otak yg terletak antara
araknoid dan piameter
ü Lapisan
pelindung otak (piameter, araknoid dan durameter)
ü Menyerupai
plasma dan cairan interstisial tp tdk mengandung protein
Fungsinya:
Sebagai
bantalan untuk jaringan lunak otak dan medulla spinalis
Sebagai
media pertukaran nutrient dan zat buangan antara darah dan otak serta medulla
spinalis.
SISTEM SARAF TEPI (Perifer)
Sistem
saraf perifer mempunyai 2 subdivisi fungsional utama yaitu sistem somatik dan
otonom.Eferen somatik dipengaruhi oleh kesadaran yang mengatur
fungsi-fungsi seperti kontraksi otot untuk memindahkan suatu benda,sedangkan
sistem otonom tidak dipengaruhi oleh kesadaran dalam mengatur kebutuhan
tubuhsehari-hari,sistem saraf otonom terutama terdiri atas saraf motorik visera
(eferen) yang menginversi otot polos organ visera,otot jantung,pembuluh darah
dan kelenjar eksokrin
Sistem
saraf tepi terdiri dari :
ü 12
pasang saraf serabut otak ( saraf cranial ) yang terdiri dari 3 pasang saraf
sensorik, 5 pasang saraf motorik dan 4 pasang saraf gabungan.
ü 31
pasang saraf sumsum tulang belakang ( saraf spinal ) yang terdiri dari 8 pasang
saraf leher,12 pasang saraf punggung,5 pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf
pinggul dan 1 pasang saraf ekor.
SISTEM SARAF TAK SADAR ( OTONOM )
Sistem
saraf otonom bersama-sama dengan sistem endokrin mengkoordinasi pengaturan dan
integrasi fungsi-fungsi tubuh.
Sistem
saraf mengirimkan sinyal pada jaringan targetnya melalui transmisi impuls
listrik secara cepat melalui serabut-serabut saraf yang berakhir pada organ
efektor dan efek khusus akan timbul sebagai akibat pelepasan substansi
neuromediator(Neurotransmiter)
Neurotransmitor
adalah suatu penandaan kimiawi antar sel yang berfungsi sebagai komunikasi
antar sel saraf dan antara sel saraf dengan organ efektor .
Neurotransmiter adalah senyawa yang disintesa, disimpan dalam saraf tempat dia
bekerja,sekresinya bergantung pada adanya ion kalsium dan diatur
melalui fosforilasi protein sinapsis.Menyebar secara cepat sepanjang celah
sinaps antara ujung neuron dan berikatan dengan reseptor spesifik pada sel
target ( pasca sinaps).
Adapun
jenis-jenis neurotransmiter yaitu :
1.
Acetylcolin : Bersifat
inhibisi melalui susunan saraf parasimpatis
2.
Norepinefrin dan epinefrin : Bersifat
inhibisi melalui susunan saraf simpatis
3.
Dopamin : Terdapat
di ganglia otonom dan bagian otak seperti substansi nigra,dopamin menyebabkan
vasodilatasi,relaksasi saluran cerna,meningkatkan sekresi kelenjar
ludah(salivas) dan sekresi insulin.
4.
Serotonin : Terdapat
di saluran cerna,di ssp yaitu di medula spinalis dan hipotalamus,fungsinya
menghambat impuls nyeri dan mengatur perasaan seseorang.
5.
Asam gamma aminobutirat(GABA) : Bersifat
inhibisi pada otak,medulla spinalis dan retina,berperan dalam mekanisme kerja
obat hipnotif-sedatif dan psikotropik pada penyakit epilepsi.
6.
Histamin
7.
Prostaglandin
8.
Asam glutamat
SSO
memiliki 2 devisi yaitu sistem simpatis dan sistem parasimpatis.
1.
Saraf simpatis berasal
dari area toraks dan lumbal pada medula spinalis,memiliki neurotransmiter
norefinefrin/Adrenalin shg disebut juga saraf adrenergik,fungsinya
mempertahankan derajat keaktifan(menjaga tonus vaskuler),memberi respon pada
situasi stres seperti.trauma,ketakutan,hipoglikemi,kediginanan,latihan.
2.
Saraf parasimpatis
berasal dari area otak dan sakral pada medula spinalis,neurotransmiternya yaitu
asetilkolin shg disebut jg saraf kolinergik,fungsinya menjaga fungsi tubuh
esensial seperti proses dan pengurangan zat-zat sisa.
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Penyakit Parkinson adalah
penyakit neurodegeneratif progresif yang berkaitan erat dengan usia. Penyakit
ini mempunyai karakteristik terjadinya degenerasi dari neuron dopaminergik pas
substansia nigra pars kompakta, ditambah dengan adanya inklusi intraplasma yang
terdiri dari protein yang disebut dengan Lewy Bodies. Neurodegeneratif pada
parkinson juga terjadi pasa daerah otak lain termasuk lokus ceruleus, raphe
nuklei, nukleus basalis Meynert, hipothalamus, korteks cerebri, motor nukelus
dari saraf kranial, sistem saraf otonom. 2
Dua hipotesis yang disebut
juga sebagai mekanisme degenerasi neuronal ada penyakit Parkinson ialah:
hipotesis radikal bebas dan hipotesis neurotoksin. 2
1.
Hipotesis radikal bebas
Diduga
bahwa oksidasi enzimatik dari dopamine dapat merusak neuron nigrotriatal,
karena proses ini menghasilkan hidrogren peroksid dan radikal oksi lainnya.
Walaupun ada mekanisme pelindung untuk mencegah kerusakan dari stress
oksidatif, namun pada usia lanjut mungkin mekanisme ini gagal.
2.
Hipotesis neurotoksin
Diduga satu
atau lebih macam zat neurotoksik berperan pada proses neurodegenerasi pada Parkinson.
Pandangan saat ini
menekankan pentingnya ganglia basal dalam menyusun rencana neurofisiologi yang
dibutuhkan dalam melakukan gerakan, dan bagian yang diperankan oleh serebelum
ialah mengevaluasi informasi yang didapat sebagai umpan balik mengenai
pelaksanaan gerakan. Ganglia basal tugas primernya adalah mengumpulkan program
untuk gerakan, sedangkan serebelum memonitor dan melakukan pembetulan kesalahan
yang terjadi seaktu program gerakan diimplementasikan. Salah satu gambaran dari
gangguan ekstrapiramidal adalah gerakan involunter. Dasar patologinya mencakup
lesi di ganglia basalis (kaudatus, putamen, palidum, nukleus subtalamus) dan
batang otak (substansia nigra, nukleus rubra, lokus seruleus).
Secara sederhana , penyakit
atau kelainan sistem motorik dapat dibagi sebagai berikut
1. Piramidal ; kelumpuhan
disertai reflek tendon yang meningkat dan reflek superfisial yang abnormal
2. Ekstrapiramidal :
didomonasi oleh adanya gerakan-gerakan involunter
3. Serebelar
: ataksia alaupun sensasi propioseptif normal sering disertai nistagmus
4. Neuromuskuler
: kelumpuhan sering disertai atrofi otot dan reflek tendon yang menurun
Patofisiologi depresi pada
penyakit Parkinson sampai saat ini belum diketahui pasti. Namun teoritis diduga
hal ini berhubungan dengan defisiensi serotonin, dopamin dan noradrenalin.
Pada penyakit Parkinson
terjadi degenerasi sel-sel neuronyang meliputi berbagai inti subkortikal
termasuk di antaranya substansia nigra, area ventral tegmental, nukleus
basalis, hipotalamus, pedunkulus pontin, nukleus raphe dorsal, locus cereleus,
nucleus central pontine dan ganglia otonomik. Beratnya kerusakan struktur ini
bervariasi. Pada otopsi didapatkan kehilangan sel substansia nigra dan lokus
cereleus bervariasi antara 50% - 85%, sedangkan pada nukleus raphe dorsal
berkisar antara 0% - 45%, dan pada nukleus ganglia basalis antara 32 % - 87 %.
Inti-inti subkortikal ini merupakan sumber utama neurotransmiter. Terlibatnya
struktur ini mengakibatkan berkurangnya dopamin di nukleus kaudatus (berkurang
sampai 75%), putamen (berkurang sampai 90%), hipotalamus (berkurang sampai
90%). Norepinefrin berkurang 43% di lokus sereleus, 52% di substansia nigra,
68% di hipotalamus posterior. Serotonin berkurang 40% di nukleus kaudatus dan
hipokampus, 40% di lobus frontalis dan 30% di lobus temporalis, serta 50% di ganglia
basalis. Selain itu juga terjadi pengurangan nuropeptid spesifik seperti
met-enkephalin, leu-enkephalin, substansi P dan bombesin.
Perubahan
neurotransmiter dan neuropeptid menyebabkan perubahan neurofisiologik yang
berhubungan dengan perubahan suasana perasaan. Sistem transmiter yang terlibat
ini menengahi proses reward, mekanisme motivasi, dan respons terhadap
stres. Sistem dopamin berperan dalam proses reward dan reinforcement.
Febiger mengemukakan hipotesis bahwa abnormalitas sistem neurotransmiter pada
penyakit Parkinson akan mengurangi keefektifan mekanisme reward dan
menyebabkan anhedonia, kehilangan motivasi dan apatis. Sedang Taylor menekankan
pentingnya peranan sistem dopamin forebrain dalam fungsi-fungsi tingkah
laku terhadap pengharapan dan antisipasi. Sistem ini berperan dalam motivasi
dan dorongan untuk berbuat, sehingga disfungsi ini akan mengakibatkan
ketergantungan yang berlebihan terhadap lingkungan dengan berkurangnya
keinginan melakukan aktivitas, menurunnya perasaan kemampuan untuk mengontrol
diri. Berkurangnya perasaan kemampuan untuk mengontrol diri sendiri dapat
bermanifestasi sebagai perasaan tidak berguna dan kehilangan harga diri.
Ketergantungan terhadap lingkungan dan ketidakmampuan melakukan aktivitas akan
menimbulkan perasaan tidak berdaya dan putus asa. Sistem serotonergik berperan
dalam regulasi suasana perasaan, regulasi bangun tidur, aktivitas agresi dan
seksual. Disfungsi sistem ini akan menyebabkan gangguan pola tidur, kehilangan
nafsu makan, berkurangnya libido, dan menurunnya kemampuan konsentrasi.
Penggabungan disfungsi semua unsur yang tersebut di atas merupakan gambaran
dari sindrom klasik depresi.2
Pada umumnya diagnosis
sindrom Parkinson mudah ditegakkan, tetapi harus diusahakan menentukan jenisnya
untuk mendapat gambaran tentang etiologi, prognosis dan penatalaksanaannya.
4
1.
Parkinsonismus primer/ idiopatik/paralysis agitans.
Sering dijumpai dalam
praktek sehari-hari dan kronis, tetapi penyebabnya belum jelas. Kira-kira 7
dari 8 kasus parkinson termasuk jenis ini.
2.
Parkinsonismus sekunder atau simtomatik
Dapat disebabkan pasca
ensefalitis virus, pasca infeksi lain : tuberkulosis, sifilis meningovaskuler,
iatrogenik atau drug induced, misalnya golongan fenotiazin, reserpin,
tetrabenazin dan lain-lain, misalnya perdarahan serebral petekial pasca trauma
yang berulang-ulang pada petinju, infark lakuner, tumor serebri, hipoparatiroid
dan kalsifikasi.
3.
Sindrom paraparkinson (Parkinson plus)
Pada kelompok ini gejalanya
hanya merupakan sebagian dari gambaran penyakit keseluruhan. Jenis ini bisa
didapat pada penyakit Wilson (degenerasi hepato-lentikularis),
hidrosefalus normotensif, sindrom Shy-drager, degenerasi striatonigral,
atropi palidal (parkinsonismus juvenilis).
Nama
Penyakit Penyakit
Parkinson, Parkinson Disease (PD), Parkinsonisme, Idiopathic Parkinsonis
Etiologi
Penyakit
Parkinson sering dihubungkan dengan kelainan neurotransmitter di otak
faktor-faktor lainnya seperti :
v Defisiensi
dopamine dalam substansia nigra di otak memberikan respon gejala penyakit Parkinson.
v Etiologi
yang mendasarinya mungkin berhubungan dengan virus, genetik, toksisitas, atau
penyebab lain yang tidak diketahui.
Klasifikasi
1.
Parkinsonisme primer /
idiopatik/paralysis agitans.
Penyakit parkinson
primer terjadi karena produksi dopamine rendah karna keturunan (Gen)
2.
Parkinsonisme sekunder atau
simtomatik
Sedangkan penyakit parkinson
sekunder disebabkan faktor dari luar. Misalnya, asupan obat-obat
antihipertensi, antiaritmia, jantung, antimuntah, atau obat gangguan jiwa.
Selain itu keracunan akibat zat-zat polutan seperti karbon monoksida, sianida,
karbon disulfida, pestisida, dan herbisida bisa merusak sel saraf yang
memproduksi dopamine. Infeksi virus, trauma kepala, dan stroke juga bisa menimbulkan
parkinson.
·
Pasca ensefalitis virus
·
Pasca infeksi lain, misalnya sifilis
nominovaskular, tuberculosis, aterosklerosis
·
Iatrogenic atau terinduksi obat
misalnya obat-obat golongan fenotiazin, reserpine, tertrabenazin
·
Toksik, misalnya karena intoksikasi
karbonmonoksida, karbondisulfida, mangan, sianida
·
Lain-lain, misalnya karena
perdarahan serebral petekial pasca-trauma yang berulang-ulang pada petinju,
infark lacunar, tumor serebri, hipoparatiroid, kalsifikasi
Sindrom paraparkinson ( Parkinson plus )
Pada kelompok ini gejalanya hanya merupakan sebagian
dari gambaran penyakit keseluruhan. Jenis ini bisa didapat pada penyakit Wilson
( degenerasi hepato-lentikularis ), hidrosefalus normotensif, sindrom
Shy-drager, degenerasi striatonigral, atropi palidal ( parkinsonismus juvenilis
)
Tanda dan Gejala
Tanda Penting Perkinsonisme adalah rigiditas, tremor
(khususnya saat istirahat), akinesia atau bradikinesia, dan hilangnya refleks
tubuh. Disfungsi ini bersifat kronik dan progresif tetapi dengan berbagai variasi
gejala antar pasien.
Rigiditas mungkin hanya terbatas pada satu kelompok
otot dan terutama unilateral atau dapat menyebar dan bilateral. Parkinsonisme
menurunkan kekuatan dan menurunkankecepatan otot, dan merupakan faktor utama
dalam terjadinya deformitas akibat sindrom ini. Gejala pasif yang melibatkan
ekstrimitas atau trunkus mengalami resistensi “traffylike” yang relatif stabil melalui kisaran gerakan.
Parkinsonisme telah dibandingkan dengan pipa saluran yang ditekuk sehingga
kadang disebut rigiditas pipa saluran.
“Catches “ sering timbul selama gerakan pasif, menyebabkan karakter roda pedati
atau “rachetlike” pada rigiditas yang
disebut rigiditas roda pedati. Otot
fleksor maupun ekstensor berkontraksi kuat(tonus
meningkat), mengindikasikan adanya gangguan kontrol pada kelompok otot yang
bersebrangan.
Jika rigiditas melibatkan trunkus, rigiditas itu
bertanggungjawab terhadap gaya berjalan dan masalah posisi tubuh akibat
Parkinson. Pasien membungkuk ketika mereka berdiri sehingga dagu maju jauh ke depan
daripada ibu jarinya. Mereka berjalan sambil menyeret kakinya terburu-buru,
langkah yang semakin cepat bila tersandung ke depan dan mencoba untuk cepat
mengembalikan kaki mereka pada keadaan semula (festinating gait).
Tremor akibat parkinsonisme timbul pada saat
istirahat dan disebut tremor istirahat.
Ketika otot menegang untuk melakukan tindakan yang bertujuan, biasanya tremor
akan berhenti. (sekitar sepertiga pasien mengalami tremor yang hebat bersamaan
dengan tremor istirahat, namun seperti yang telah disebutkan, tremor hebat
biasanya berkaitan dengan disfungsi serebelum). Tremor yang melibatkan tangan
dijelaskan sebagai pill rolling dan mengakibatkan gerakan ritmis ibu jari
pertama dan kedua. Tremor adalah akibat dari kontraksi bergantian yang regular
(4 hingga 6 siklus per detik) pada otot yang berlawanan. Tremor sepertinya akan
memburuk jika pasien lelah, di bawah tekanan emosi, atau terfokus pada tremor.
Dasar tremor tidak jelas. Degenerasi ganglia basalis menyebabkan hilangknya
pengaruh inhibitor dan menigkatkan timbal balik berbagai sirkuit yang berakibat
dalam osilasi. Tidak semua pasien memiliki tremor yang jelas. Bila pasien
secara tidak sengaja mengalami kecelakaan serebrovaskular (CVA, stroke) dan
timbul hemiplegia, tremor akan hilang pada bagian yang paralisis.
Kedua gejala di atas
biasanya masih kurang mendapat perhatian sehingga tanda akinesia/bradikinesia
muncul. Gerakan penderita menjadi serba lambat. Dalam pekerjaan sehari-hari pun
bisa terlihat pada tulisan/tanda tangan yang semakin mengecil, sulit mengenakan
baju, langkah menjadi pendek dan diseret. Kesadaran masih tetap baik sehingga
penderita bisa menjadi tertekan (stres) karena penyakit itu. Wajah menjadi
tanpa ekspresi. Kedipan dan lirikan mata berkurang, suara menjadi kecil, refleks
menelan berkurang, sehingga sering keluar air liur. 3
Gerakan volunteer menjadi
lambat sehingga berkurangnya gerak asosiatif, misalnya sulit untuk bangun dari
kursi, sulit memulai berjalan, lambat mengambil suatu obyek, bila berbicara
gerak lidah dan bibir menjadi lambat. Bradikinesia mengakibatkan berkurangnya
ekspresi muka serta mimik dan gerakan spontan yang berkurang, misalnya wajah
seperti topeng, kedipan mata berkurang, berkurangnya gerak menelan ludah
sehingga ludah suka keluar dari mulut.4
Tulisan tangan secara
gradual menjadi kecil dan rapat, pada beberapa kasus hal ini merupakan gejala
dini, berjalan dengan langkah kecil menggeser dan makin
menjadi cepat (marche a petit pas), stadium lanjut kepala difleksikan ke
dada, bahu membengkok ke depan, punggung melengkung bila berjalan.4
Sering pula terjadi bicara monoton karena bradikinesia dan rigiditas otot pernapasan,
pita suara, otot laring, sehingga bila berbicara atau mengucapkan kata-kata
yang monoton dengan volume suara halus ( suara bisikan ) yang lambat. 4
Demensia, adanya perubahan status mental selama perjalanan penyakitnya dengan
deficit kognitif. Gangguan Behavioral, lambat-laun menjadi dependen ( tergantung kepada orang
lain ), mudah takut, sikap kurang tegas, depresi. Cara berpikir dan respon
terhadap pertanyaan lambat (bradifrenia) biasanya masih dapat memberikan
jawaban yang betul, asal diberi waktu yang cukup,
dan gejala lain yaitu kedua
mata berkedip-kedip dengan gencar pada pengetukan diatas pangkal hidungnya
(tanda Myerson positif)
Ada pula gejala non motorik5
1. Disfungsi
otonom
v Keringat berlebihan, air ludah berlebihan, gangguan
sfingter terutama inkontinensia dan hipotensi
ortostatik.
v Kulit berminyak dan infeksi kulit seborrheic
v Pengeluaran urin yang banyak
v Gangguan seksual yang berubah fungsi, ditandai dengan
melemahnya hasrat seksual, perilaku, orgasme.
2. Gangguan
suasana hati, penderita sering mengalami depresi
3. Ganguan kognitif,
menanggapi rangsangan lambat
4. Gangguan tidur,
penderita mengalami kesulitan tidur (insomnia)
5. Gangguan
sensasi,
Ø kepekaan kontras visuil lemah, pemikiran mengenai
ruang, pembedaan warna,
Ø penderita sering mengalami pingsan, umumnya disebabkan
oleh hypotension orthostatic, suatu kegagalan sistemsaraf otonom untuk
melakukan penyesuaian tekanan darah sebagai jawaban atas perubahan posisi badan
Ø berkurangnya atau hilangnya kepekaan indra perasa bau
( microsmia atau anosmia),
Gambaran tambahan
parkinsonisme adalah
1. Gangguan
okulomotorius : Pandangan yang kabur bila melihat suatu titik akibat ketidakmampuan untuk
mempertahankan kontraksi otot okular. Gejala ini seringkali tidak dapat
dibedakan dari gejala awal gangguan gerak neurodegeneratif yang jarang terjadi
dan secara terpisah disebut palsi supranuklear progressive (PSP).
2. Krisis
okuligirik : spasme otot mata untuk berkonjugasi dengan mata yang
terfiksasi(biasanya pada pandangan ke atas, selama beberapa menit hingga
beberapa jam; berkaitan dengan parkinsonisme yang berasal dari eksogen, seperti
penggunaan obat atau pascaensefalitis.
3. Kelelahan
dan nyeri otot yang sangat pada kelelahan otot akibat rigiditas.
4. Hipotensipostural
akibat efek samping pengobatan dengan campur tangan kontrol tekanan darah yang
diperantarai oleh ANS.
5. Gangguan
fungsi pernapasan yang berkaitan dengan hipoventilasi, inaktivitas, aspirasi
makanan atau saliva, dan berkurangnya bersihan jalan napas.
|
Tabel
2 Temuan Neurologis utama pada PD
|
|
|
Temuan Neurologis
|
Keterangan
|
|
Tremor
istirahat*
|
Gerakan
memilin pada jari tangan yang khas; tremor berkurang dengan gerakan voluntar
selama tidur.
|
|
Bradikinesia*
|
Perlahan-lahan
dalam memulai dan mempertahankan gerakan
|
|
Rigiditas
roda pedati*
|
Gerakan
dihalangi dengan “menangkap” ; resistensi relatif konstan sepanjang rentang
gerakan.
|
|
Kelainan
posisi tubuh dan cara berjalan*
|
Membungkuk,
berjalan dengan kaki diseret, cara berjalan yang capat, berbalik badan secara
bersamaan (en bolic).
|
|
Mikrografia
|
Tulisan
tangan yang kecil-kecil dan secara perlahan; tremor dapat jelas terlihat
ketika menggambar lingkaran yang konsentrik.
|
|
Wajah
seperti topeng
|
Mata
yang melotot, tidak berkedip, ekspresi dingin, berkedip 2 atau 3 kali/menit
(kedip normal 12-20 kali/ menit)
|
|
Suara
datar (monoton)
|
Bicara
tanpa ekspresi
|
|
Refleks
Hiperaktif glabelar
|
Sensitivitas
yang berlebihan terhadap ketukan jari di atas glabela (antara alis mata)
menyebabkan pasien berkedip setiap kali ketukan.
|
*Gejala
kardinal atau utama pada PD6
Patofisiologi
Penyakit parkinson terjadi ketika sel saraf atau
neuron di dalam otak yang disebut substantia nigra mati atau menjadi lemah.
Secara normal sel ini menghasilkan bahan kimia yang penting di dalam otak yang
disebut dopamine. Dopamine adalah suatu bahan kimia yang dapat menghantarkan
sinyal-sinyal listrik diantara substantia nigra dan di sepanjang jalur sel
saraf yang akan membantu menghasilkan gerakan tubuh yang halus. Ketika
kira-kira 80% sel yang memproduksi dopamine rusak, gejala penyakit parkinson
akan nampak.
PARA peneliti telah berhasil mengungkap gen yang
merupakan dalang di balik penyakit parkinson. Ahli syaraf di kampus Mayo Clinic di Florida
menemukan bagaimana gen, EIF4G1, dapat mengakibatkan kematian sel otak
menyebabkan penyakit Parkinson dan gangguan neurodegeneratif. Peneliti lainnya
Owen Ross mengatakan bahwa ilu pengetahuan dapat membantu mengembangkan terapi
baru untuk mengobati atau memperlambat penyakit parkinson.
Penyebab
Beberapa hal yang diduga
bisa menyebabkan parkinson adalah sebagai berikut 2:
1.
Usia
Insiden
meningkat dari 10 per 10.000 penduduk pada usia 50 sampai 200 dari 10.000 penduduk
pada usia 80 tahun. Hal ini berkaitan dengan reaksi mikrogilial yang
mempengaruhi kerusakan neuronal, terutama pada substansia nigra, pada penyakit
parkinson.
2. Geografi
Di Libya 31 dari 100.000 orang, di Buinos aires 657 per
100.000 orang. Faktor resiko yang mempengaruhi perbedaan angka secara geografis
ini termasuk adanya perbedaaan genetik, kekebalan terhadap penyakit dan paparan
terhadap faktor lingkungan.
3. Periode
Fluktuasi jumlah penderita
penyakit parkinson tiap periode mungkin berhubungan dengan hasil pemaparan
lingkungan yang episodik, misalnya proses infeksi, industrialisasi ataupn gaya
hidup. Data dari Mayo Klinik di Minessota, tidak terjadi perubahan besar pada
angka morbiditas antara tahun 1935 sampai tahun 1990. Hal ini mungkin karena
faktor lingkungan secara relatif kurang berpengaruh terhadap timbulnya penyakit
parkinson.
4. Genetik
Penelitian menunjukkan
adanya mutasi genetik yang berperan pada penyakit parkinson. Yaitu mutasi pada
gen a-sinuklein pada lengan panjang kromosom 4 (PARK1) pada
pasien dengan Parkinsonism autosomal dominan. Pada pasien dengan autosomal
resesif parkinson, ditemukan delesi dan mutasi point pada gen parkin
(PARK2) di kromosom 6. Selain itu juga ditemukan adanya disfungsi mitokondria.
Adanya riwayat penyakit
parkinson pada keluarga meningakatkan faktor resiko menderita penyakit
parkinson sebesar 8,8 kali pada usia kurang dari 70 tahun dan 2,8 kali pada
usia lebih dari 70 tahun. Meskipun sangat jarang, jika disebabkan oleh
keturunan, gejala parkinsonisme tampak pada usia relatif muda. Kasus-kasus
genetika di USA sangat sedikit, belum ditemukan kasus genetika pada 100
penderita yang diperiksa. Di Eropa pun demikian. Penelitian di Jerman menemukan
hasil nol pada 70 penderita. Contoh klasik dari penyebab genetika ditemukan
pada keluarga-keluarga di Italia karena kasus penyakit itu terjadi pada usia 46
tahun. 3
5. Faktor Lingkungan
a. Xenobiotik :Berhubungan erat dengan paparan pestisida yang dapat
menimbulkan
kerusakan mitokondria
b. Pekerjaan :
Lebih banyak pada orang
dengan paparan metal yang lebih tinggi dan lama.
c. Infeksi :
Paparan virus influenza
intrautero diduga turut menjadi faktor predesposisi penyakit parkinson melalui
kerusakan substansia nigra. Penelitian pada hewan menunjukkan adanya kerusakan
substansia nigra oleh infeksi Nocardia astroides.
d. Diet : Konsumsi lemak dan kalori tinggi meningkatkan stress
oksidatif, salah satu mekanisme kerusakan neuronal pada penyakit parkinson.
Sebaliknya,kopi merupakan neuroprotektif.
e. Trauma kepala :
Cedera kranio serebral bisa
menyebabkan penyakit parkinson, meski peranannya masih belum jelas benar
f. Stress dan depresi :
Beberapa penelitian menunjukkan depresi dapat mendahului
gejala motorik. Depresi dan stress dihubungkan dengan penyakit parkinson karena
pada stress dan depresi terjadi peningkatan turnover katekolamin yang memacu
stress oksidatif.
Mekanisme
Penyakit Parkinson merupakan
gangguan neurodegeneratif kedua terbanyak, setelah penyakit Alzheimer.
Dikarakterisasi secara klinis oleh parkinsonisme (resting tremor,
bradikinesia, rigiditas, dan ketakstabilan postural) dan secara patologis
dengan kehilangan neuron pada substantia nigra, dan dimana saja yang
berhubungan dengan adanya deposit protein ubiquinated pada sitoplasma
neuron (Lewy bodies) dan inklusi pada proteinaseus seperti benang
dalam neurit (Lewy neurites).
Kejadian penyakit Parkinson
sekitar 0,5-1% pada orang usia 65-69 tahun, meningkat 1-3% pada orang usia 80
tahun atau lebih. Diagnosa secara klinis, meskipun gangguan lain dengan gejala
menyolok dan tanda parkinsonisme, seperti postencephalitis, drug-induced, dan
parkinsonisme arteriosklerotik, dapat rancu dengan penyakit Parkinson sampai
diagnosa dipastikan dengan otopsi. Komponen genetik pada penyakit Parkinson
telah lama dibicarakan, karena kebanyakan pasien memiliki penyakit sporadis dan
penelitian awal pada orang kembar memperlihatkan persamaan rata-rata rendah
dari concordance pada kembar monozigot dan dizigot. Pandangan bahwa
genetik terlibat pada beberapa bentuk penyakit Parkinson telah diperkuat,
bagaimanapun, dengan penelitian bahwa kembar monozigot dengan onset penyakit
sebelum usia 50 tahun memiliki pembawa genetik yang sangat tinggi, lebih tinggi
dari kembar dizigot dengan penyakit early-onset. Lebih jauh, tanpa
memperhatikan usia onset, hal yang nyata terlihat antara kembar monozigot dapat
ditingkatkan secara signifikan jika uptake dopaminergik striatial
abnormal pada kembar tanpa gejala dari pasangan yang tidak harmonis, sebagai
pernyataan oleh tomografi emisi positron dengan fluorodopa F18, digunakan
sebagai tanda penyakit Parkinson presimtomatik.
Peningkatan risiko
penyakit Parkinson juga dapat dilihat pada hubungan tingkat-pertama pasien,
biasanya ketika hasil tomografi emisi positron hubungan asimtomatik diambil
untuk dihitung, memenuhi bukti lebih lanjut dari adanya komponen genetik
terhadap penyakit. Bagaimanapun, keuntungan nyata muncul ketika sejumlah kecil
keluarga dengan early-onset, Lewy body penyakit Parkinson didomiasi oleh
faktor autosomal positif teridentifikasi. Penelitian pada keluarga ini,
dari Mediterania dan Jerman, mengarahkan identifikasi dari 2 mutasi missense
(Ala53Thr dan Ala30Pro) pada gen penyandi α-synuclein,
protein presinaps kecil yang tidak diketahui fungsinya. Meskipun mutasi pada
α-synuclein terbukti jarang pada pasien penyakit Parkinson, mereka telah
memenuhi petunjuk pertama bahwa protein ini dapat terlibat dalam rantai
molekuler kejadian yang menyebabkan penyakit. Pentingnya α-synuclein telah
ditingkatkan oleh penemuan bahwa Lewy-bodies dan Lewy neurit yang
ditemukan pada penyakit Parkinson pada umumnya mengandung agregat α-synuclein.
Molekul protein α-synuclein cenderung untuk menjadi oligomer in vitro; protein
dengan mutasi missense Ala53Thr dan Ala30Pro tampaknya lebih cenderung seperti
ini.
Analisis Immunohistochemical
dari Belahan Substantia Nigra pada Pasien dengan Penyakit Parkinson
Sporadis, Mengindikasikan Keterlibatan α-synuclein dalam Pembentukan Lewy
Bodies dan Lewy Neurit. Kotak A memperlihatkan Lewy body diwarnai oleh
antibodi terhadap ubiquitin (hijau) (x3000). Kotak B memperlihatkan Lewy
body yang sama yang diwarnai oleh antibodi terhadap α-synuclein (merah)
(x3000). Kotak C, menggabungkan gambar yang tampak pada kotak A dan B,
memperlihatkan bahwa Lewy bodies mengandung inti sentral protein
ubiquinated dan α-synuclein dikelilingi oleh lingkaran material fibrilar
positif α-synuclein (x3000). Kotak D,E, dan F menunjukkan proses neuronal dari
substantia nigra pasien penyakit Parkinson sporadis dimana neurit mengembang
dan dilatasi dan mewarnai α-synuclein (warna hitam). Kotak skala pada kotak D,
E, dan F adalah 10 μm.
Meskipun penelitian pada keluarga dengan penyakit
Parkinson early-onset membuktikan bahwa α-synuclein abnormal dapat menyebabkan penyakit, hal ini masih
belum jelas apakah fibril dari agregat α-synuclein, yang terlihat pada Lewy-bodies
dan Lewy neurit, berperan penting sebagai penyebab pada bentuk umum
penyakit Parkinson atau hanya merupakan penanda untuk proses patogenetik yang
terjadi. Positif Lewy-bodies pada α-synuclein
tidak hanya ditemukan pada berbagai subnuklei pada substantia nigra, locus
ceruleus, dan brain-stem lain dan thalamic nuclei pada pasien
penyakit Parkinson, tetapi juga pada distribusi yang lebih menyebar, termasuk
korteks pada beberapa pasien penyakit Parkinson seperti pada pasien demensia
jenis diffuse Lewy-bodies .
α-synuclein teragregasi pada glia juga merupakan gambaran atropi berbagai
sistem, menyebabkan penciptaan terhadap terminologi nosologic baru,
“synucleinopathy”, untuk mengacu pada kelas penyakit neurodegeneratif yang
berhubungan dengan α-synuclein teragregasi. Autosomal recessive juvenile
parkinsonism adalah sindrom neurologi genetik lain yang telah memenuhi
pandangan penting terhadap penyakit parkinson. Autosomal recessive juvenile
parkinsonism merupakan sindrom yang relatif jarang yang memberikan banyak
gambaran parkinsonisme, termasuk ketidakresponsifan terhadap levodopa dan
hilangnya nigrostriatal dan neuron lokus ceruleus, tetapi ini memiliki onset
yang sangat dini (sebelum usia 40 tahun), penelitian klinis selama beberapa
dekade menunjukkan tidak ada Lewy bodies dan Lewy neurit pada
otopsi. Pemetaan genetik sindrom pada 6q25-27 menutun untuk identifikasi mutasi
yang bertanggungjawab terhadap terhadap Autosomal recessive juvenile
parkinsonism pada gen penyandi protein yang disebut parkin. Parkin
diekspresikan utamanya di sistem saraf dan merupakan salah satu anggota
keluarga protein yang dikenal sebagai E3 ubiquitin ligase, yang menempel pada
rantai peptida ubiquitin pendek pada protein, suatu proses yang disebut ubiquination,
dengan cara demikian menandai mereka untuk degradasi melalui jalur degradasi
proteosomal.
|
Tabel
1. Mutasi gen tunggal yang mengarah pada penyakit Parkinson
|
||||
|
Locus/letak
|
Gen
|
Lokasi
|
Mode
keturunan
|
Dimana
didapat
|
|
PARK1
PARK2
PARK3
PARK4
PARK5
PARK6
PARK7
PARK8
|
Α-synuclein
Parkin
Tdk
diketahui
Tdk
diketahui
Ubiquitin
C-terminal Hydrolase
Tdk
diketahui
DJ-1
Tdk
diketahui
|
4q21
6q25-27
2p13
4p15
4p14
1p35
1p36
12p11.2-q13.1
|
Autosomal
dominan Autosomal recessive mungkin juga yang dominan Autosomal dominan
Autosomal dominan Mungkin autosomal Dominan Autosomal recessive Autosomal
recessive Autosomal dominan
|
Yunani,
Itali, dan Jerman Ubiquitous
Jerman
United
state
Jerman
Itali
Belanda
Jepang
|
Autosomal recessive juvenile parkinsonism yang
dihasilkan dari hilangnya fungsi pada kedua kopi gen parkin, mengakibatkan
keturunan autosomal resesif, sebagai kebalikan dari mutasi missense yang
mengubah α-synuclein dan menyebabkan gangguan yang dominan diturunkan. Saat
ini, bagaimanapun, spektrum penyakit yang diketahui disebabkan oleh mutasi
parkin telah tersebar luas, dengan penyakit Parkinson rupanya muncul sporadis
pada orang dewasa, pada dekade ke-5 dan 6 kehidupan, yang berhubungan dengan
mutasi gen parkin.
Telah ada beberapa pasien dengan penyakit Parkinson
sporadis klasik dengan onset pada orang dewasa yang hanya memiliki 1 alel
parkin mutan, meskipun demonstrasi yang lengkap bahwa alel lain normal dan
tidak mengandung mutasi tidak biasa diluar sekuens penyandian dan sekitarnya
masih kurang. Tepatnya peran apa yang dimiliki oleh mutasi parkin pada
mayoritas kasus penyakit Parkinson dan adanya heterozigot (dimana lebih
umumpada populasi dibandingkan homozigositas terhadap 2 alel mutan) menunjukkan
faktor risiko penting yang tak dapat dipungkiri. Bukti terkini menunjukkan
bahwa ubiquinasi oleh parkin mungkin penting dalam pergantian normal α-synuclein.
Penemuan 1 keluarga dengan beberapa anggota mengidap
penyakit Parkinson yang memiliki mutasi missense mengganggu pada gen yang
menyandi neuron hidrolase ubiquitin c-terminal spesifik, yaitu gen lain yang
terlibat dalam metabolisme ubiquitin. Kesimpulan yang jelas dari bagian yang
berbeda dari data ini adalah agregasi protein abnormal, disfungsi ubiquitin
yang memediasi mesin degradasi, atau keduanya mungkin merupakan langkah penting
dalam patogenesis penyakit Parkinson. Demikian juga pada gen α-synuclein,
parkin, dan ubiquitin C-hydrolase, setidaknya lima tempat-tempat (lokus) lain
sedang diusulkan untuk autosomal dominan dan autosomal resesif pada penyakit
Parkinson (tabel 1). Analisis genetik secara umum, bentuk sporadis
penyakit Parkinson menunjukkan bahwa ada suatu komponen yang dapat diturunkan
dalam bentuk yang tidak jelas diturunkan sebagai autosomal dengan sifat dominan
atau resesif. Sebagai contoh, alel tertentu pada suatu polimorfis kompleks
pengulangan DNA yang terletak sekitar 10 kilobase yang selalu digunakan
bersama-sama ke hulu oleh gen α-synuclein menunjukkan hubungan dengan penyakit
Parkinson sporadis dalam beberapa populasi, tetapi tidak pada yang lain.
Identifikasi positif gen pada lokus/letak tersebut seperti membuktikan gen
tambahan dan protein yang dapat dipelajari perannya dalam patogenesis suatu
penyakit. Karena mutasi α-synuclein yang amat sangat jarang didapat, tes
genetik pada mutasi ini seharusnya hanya dilakukan pada penelitian yang
mendasar saat sejarah keluarga yang kuat autosomal dominan penyakit Parkinson
ditemui. Mutasi parkin yang homozigot diperoleh pada hampir setengah dari
pasien yang menunjukkan penyakit Parkinson pada anak-anak dan masa remaja dan
mungkin 5% orang dewasa muda dengan penyakit Parkinson. Ada kejadian kecil yang
mendukung suatu peran mutasi dalam gen parkin pada jenis penyakit Parkinson late-onset,
dan bahkan pengujian α-synuclein ataupun gen parkin yang saat ini dilakukan
dalam pelayanan klinis rutin.
Diagnosis
CT Scan dan
MRI
(biasanya terjadi atropi kortikal difus, sulki
melebar, hidrosefalua eks vakuo). Merupakan
metode non invasif yang beresolusi tinggi untuk melihat kwantifikasi perubahan
volume jaringan otak pada penderita alzheimer antemortem. Pemeriksaan ini
berperan dalam menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab demensia lainnya
selain alzheimer seperti multiinfark dan tumor serebri. Atropi kortikal
menyeluruh danpembesaran ventrikel keduanya merupakan gambaran marker dominan
yang sangat spesifik pada penyakit ini. Tetapi gambaran ini juga didapatkan
pada demensia lainnya seperti multiinfark, parkinson, binswanger sehingga kita
sukar untuk membedakan dengan penyakit alzheimer.
EEG
(biasanya terjadi perlambatan yang progresif).Berguna untuk mengidentifikasi
aktifitas bangkitan yang suklinis. Sedang pada penyakit alzheimer didapatkan
perubahan gelombang lambat pada lobus frontalis yang non spesifik.
PET
(Positron Emission Tomography)
Pada
penderita alzheimer, hasil PET ditemukan penurunan aliran darah, metabolisma
O2, dan glukosa didaerah serebral. Up take I.123 sangat menurun pada regional
parietal, hasil ini sangat berkorelasi dengan kelainan fungsi kognisi danselalu
dan sesuai dengan hasil observasi penelitian neuropatologi.
SPECT
(Single Photon Emission Computed Tomography)
Aktivitas I.
123 terendah pada refio parieral penderita alzheimer. Kelainan ini berkolerasi
dengan tingkat kerusakan fungsional dan defisit kogitif. Kedua pemeriksaan ini
(SPECT dan PET) tidak digunakan secara rutin.
Penanganan
Penyakit Parkinson merupakan
penyakit kronis yang membutuhkan penanganan secara holistik meliputi berbagai
bidang. Pada saat ini tidak ada terapi untuk menyembuhkan penyakit ini, tetapi
pengobatan dan operasi dapat mengatasi gejala yang timbul. 7
Pengobatan penyakit parkinson bersifat individual dan simtomatik,
obat-obatan yang biasa diberikan adalah untuk pengobatan penyakit atau
menggantikan atau meniru dopamin yang akan memperbaiki tremor, rigiditas, dan slowness.
8
Perawatan pada
penderita penyakit parkinson bertujuan untuk memperlambat dan menghambat
perkembangan dari penyakit itu. Perawatan ini dapat dilakukan dengan pemberian
obat dan terapi fisik seperti terapi berjalan, terapi suara/berbicara dan
pasien diharapkan tetap melakukan kegiatan sehari-hari.
Terapi Obat-obatan
Beberapa obat yang diberikan pada penderita
penyakit parkinson:
a. Antikolinergik
7
Benzotropine (
Cogentin), trihexyphenidyl ( Artane). Berguna untuk mengendalikan gejala dari
penyakit parkinson. Untuk mengaluskan pergerakan.
b. Carbidopa/levodopa
Levodopa merupakan pengobatan utama untuk
penyakit parkinson. Di
dalam otak levodopa dirubah menjadi dopamine. L-dopa akan diubah menjadi
dopamine pada neuron dopaminergik oleh L-aromatik asam amino dekarboksilase
(dopa dekarboksilase). Walaupun demikian, hanya 1-5% dari L-Dopa memasuki
neuron dopaminergik, sisanya dimetabolisme di sembarang tempat, mengakibatkan
efek samping yang luas. Karena mekanisme feedback, akan terjadi inhibisi pembentukan L-Dopa
endogen. Carbidopa dan benserazide adalah dopa dekarboksilase inhibitor,
membantu mencegah metabolisme L-Dopa sebelum mencapai neuron dopaminergik. 9
Levodopa mengurangi tremor, kekakuan otot dan
memperbaiki gerakan. Penderita penyakit parkinson ringan bisa kembali menjalani
aktivitasnya secara normal. Obat ini diberikan bersama carbidopa untuk
meningkatkan efektivitasnya dan mengurangi efek sampingnya.10
Sejak diperkenalkan akhir tahun 1960an,
levodopa dianggap merupakan obat yang paling banyak dipakai sampai saat ini.
Levodopa dianggap merupakan tulang punggung pengobatan penyakit parkinson.
Berkat levodopa, seorang penderita parkinson dapat kembali beraktivitas secara
normal.10
Banyak dokter menunda pengobatan simtomatis
dengan levodopa sampai memang dibutuhkan. Bila gejala pasien masih ringan dan
tidak mengganggu, sebaiknya terapi dengan levodopa jangan dilakukan. Hal ini
mengingat bahwa efektifitas levodopa berkaitan dengan lama waktu
pemakaiannya.Levodopa melintasi sawar-darah-otak dan memasuki susunan saraf
pusat dan mengalami perubahan ensimatik menjadi dopamin. Dopamin menghambat
aktifitas neuron di ganglia basal.10
Efek
samping levodopa dapat berupa:11
1. Neusea, muntah, distress abdominal
2. Hipotensi postural
3. Sesekali akan didapatkan aritmia jantung,
terutama pada penderita yang berusia lanjut. Efek ini diakibatkan oleh efek
beta-adrenergik dopamine pada system konduksi jantung. Ini bias diatasi dengan
obat beta blocker seperti propanolol.
4. Diskinesia.
Diskinesia yang paling sering ditemukan
melibatkan anggota gerak, leher atau muka. Diskinesia sering terjadi pada
penderita yang berespon baik terhadap terapi levodopa. Beberapa penderita
menunjukkan gejala on-off yang sangat mengganggu karena penderita tidak
tahu kapan gerakannya mendadak menjadi terhenti, membeku, sulit. Jadi
gerakannya terinterupsi sejenak.
5. Abnormalitas laboratorium.
Granulositopenia, fungsi hati abnormal dan
ureum darah yang meningkat merupakan komplikasi yang jarang terjadi pada terapi
levodopa.
Efek samping
levodopa pada pemakaian bertahun-tahun adalah diskinesia yaitu gerakan motorik
tidak terkontrol pada anggota gerak maupun tubuh. Respon penderita yang
mengkonsumsi levodopa juga semakin lama semakin berkurang. 7
Untuk
menghilangkan efek samping levodopa, jadwal pemberian diatur dan ditingkatkan
dosisnya, juga dengan memberikan tambahan obat-obat yang memiliki mekanisme
kerja berbeda seperti dopamin agonis, COMT inhibitor atau MAO-B inhibitor. Jika
kombinasi obat-obatan tersebut juga tidak membantu disini dipertimbangkan
pengobatan operasi. Operasi
bukan merupakan pengobatan standar untuk penyakit parkinson juga bukan sebagai
terapi pengganti terhadap obat-obatan yang diminum.11
c. COMT
inhibitors
Entacapone
(Comtan), Tolcapone (Tasmar). Untuk mengontrol fluktuasi motor pada pasien yang
menggunakan obat levodopa. Tolcapone
adalah penghambat enzim COMT, memperpanjang efek L-Dopa. Tapi karena efek
samping yang berlebihan seperti liver toksik, maka jarang digunakan. Jenis yang
sama, entacapone, tidak menimbulkan penurunan fungsi liver. 11
d.
Agonis dopamin
Agonis dopamin
seperti bromokriptin (Parlodel), pergolid (Permax), pramipexol (Mirapex),
ropinirol, kabergolin, apomorfin dan lisurid dianggap cukup efektif untuk
mengobati gejala Parkinson. Obat ini bekerja dengan merangsang reseptor
dopamin, akan tetapi obat ini juga menyebabkan penurunan reseptor dopamin
secara progresif yang selanjutnya akan menimbulkan peningkatan gejala
Parkinson. 10
Obat ini dapat
berguna untuk mengobati pasien yang pernah mengalami serangan yang berfluktuasi
dan diskinesia sebagai akibat dari levodopa dosis tinggi. Apomorfin dapat
diinjeksikan subkutan. Dosis rendah yang diberikan setiap hari dapat mengurangi
fluktuasi gejala motorik. 9
e.
MAO-B inhibitors
Selegiline
(Eldepryl), Rasagaline (Azilect). Inhibitor MAO diduga berguna pada penyakit Parkinson karena
neuotransmisi dopamine dapat ditingkatkan dengan mencegah perusakannya.
Selegiline dapat pula memperlambat memburuknya sindrom Parkinson, dengan
demikian terapi levodopa dapat ditangguhkan selama beberapa waktu. Berguna untuk mengendalikan gejala dari penyakit
parkinson. Yaitu untuk mengaluskan pergerakan. 11
Selegilin dan
rasagilin mengurangi gejala dengan dengan menginhibisi monoamine oksidase B
(MAO-B), sehingga menghambat perusakan dopamine yang dikeluarkan oleh neuron
dopaminergik. Metabolitnya mengandung L-amphetamin and L-methamphetamin. Efek sampingnya
adalah insomnia. Kombinasi dengan L-dopa dapat meningkatkan angka kematian,
yang sampai saat ini tidak bisa diterangkan secara jelas. Efek lain dari
kombinasi ini adalah stomatitis.10
f.
Amantadine (Symmetrel)
Berguna
untuk perawatan akinesia, dyskinesia, kekakuan, gemetaran.1
g.
Inhibitor dopa dekarboksilasi dan levodopa
Untuk mencegah
agar levodopa tidak diubah menjadi dopamin di luar otak, maka levodopa
dikombinasikan dengan inhibitor enzim dopa dekarboksilase. Untuk maksud ini
dapat digunakan karbidopa atau benserazide ( madopar ). Dopamin dan karbidopa
tidak dapat menembus sawar-otak-darah. Dengan demikian lebih banyak levodopa
yang dapat menembus sawar-otak-darah, untuk kemudian dikonversi menjadi
dopamine di otak. Efek sampingnya umunya hampir sama dengan efek samping yang
ditimbulkan oleh levodopa. 7
2. Deep
Brain Stimulation (DBS) 8
Pada
tahun 1987, diperkenalkan pengobatan dengan cara memasukkan elektroda yang
memancarkan impuls listrik frekuensi tinggi terus-menerus ke dalam otak. Terapi
ini disebut deep brain stimulation (DBS). DBS adalah tindakan minimal
invasif yang dioperasikan melalui panduan komputer dengan tingkat kerusakan
minimal untuk mencangkokkan alat medis yang disebut neurostimulator untuk
menghasilkan stimulasi elektrik pada wilayah target di dalam otak yang terlibat
dalam pengendalian gerakan.
Terapi
ini memberikan stimulasi elektrik rendah pada thalamus. Stimulasi ini
digerakkan oleh alat medis implant yang menekan tremor. Terapi ini memberikan
kemungkinan penekanan pada semua gejala dan efek samping, dokter menargetkan
wilayah subthalamic nucleus (STN) dan globus pallidus (GP)
sebagai wilayah stimulasi elektris. Pilihan wilayah target tergantung pada
penilaian klinis.
DBS
kini menawarkan harapan baru bagi hidup yang lebih baik dengan kemajuan
pembedahan terkini kepada para pasien dengan penyakit parkinson. DBS
direkomendasikan bagi pasien dengan penyakit parkinson tahap lanjut (stadium 3
atau 4) yang masih memberikan respon terhadap levodopa.
Pengendalian
parkinson dengan terapi DBS menunjukkan keberhasilan 90%. Berdasarkan
penelitian, sebanyak 8 atau 9 dari 10 orang yang menggunakan terapi DBS
mencapai peningkatan kemampuan untuk melakukan akltivitas normal sehari-hari.
Selain
terapi obat yang diberikan, pemberian makanan harus benar-benar diperhatikan,
karena kekakuan otot bisa menyebabkan penderita mengalami kesulitan untuk
menelan sehingga bisa terjadi kekurangan gizi (malnutrisi) pada penderita.
Makanan berserat akan membantu mengurangi ganguan pencernaan yang disebabkan
kurangnya aktivitas, cairan dan beberapa obat.
3. Terapi Fisik
Sebagian
terbesar penderita Parkinson akan merasa efek baik dari terapi fisik. Pasien
akan termotifasi sehingga terapi ini bisa dilakukan di rumah, dengan diberikan
petunjuk atau latihan contoh diklinik terapi fisik. Program terapi fisik pada
penyakit Parkinson merupakan program jangka panjang dan jenis terapi
disesuaikan dengan perkembangan atau perburukan penyakit, misalnya perubahan
pada rigiditas, tremor dan hambatan lainnya.7
Latihan fisik
yang teratur, termasuk yoga, taichi, ataupun tari dapat bermanfaat dalam
menjaga dan meningkatkan mobilitas, fleksibilitas, keseimbangan, dan range of motion. Latihan dasar selalu dianjurkan, seperti membawa
tas, memakai dasi, mengunyah keras, dan memindahkan makanan di dalam mulut. 7
4. Terapi Suara
Perawatan
yanG paling besar untuk kekacauan suara yang diakibatkan oleh penyakit
Parkinson adalah dengan Lee Silverman Voice Treatment ( LSVT ). LSVT fokus
untuk meningkatkan volume suara. Suatu studi menemukan bahwa alat elektronik
yang menyediakan umpan balik indera pendengar atau frequency auditory
feedback (FAF) untuk meningkatkan kejernihan suara. 1
5. Terapi gen
Pada saat
sekarang ini, penyelidikan telah dilakukan hingga tahap terapi gen yang
melibatkan penggunaan virus yang tidak berbahaya yang dikirim ke bagian otak
yang disebut subthalamic nucleus (STN). Gen yang digunakan memerintahkan untuk
mempoduksi sebuah enzim yang disebut glutamic acid decarboxylase (GAD) yang
mempercepat produksi neurotransmitter (GABA). GABA bertindak sebagai penghambat
langsung sel yang terlalu aktif di STN. 7
Terapi lain
yang sedang dikembangkan adalah GDNF. Infus GDNF (glial-derived neurotrophic
factor) pada ganglia basal dengan menggunakan implant kathether melalui
operasi. Dengan berbagai reaksi biokimia, GDNF akan merangsang pembentukan
L-dopa.
6. Pencangkokan saraf
Cangkok sel
stem secara genetik untuk memproduksi dopamine atau sel stem yang berubah
menjadi sel memproduksi dopamine telah mulai dilakukan. Percobaan pertama yang
dilakukan adalah randomized double-blind sham-placebo dengan pencangkokan
dopaminergik yang gagal menunjukkan peningkatan mutu hidup untuk pasien di
bawah umur.7
7. Operasi
Operasi
untuk penderita Parkinson jarang dilakukan sejak ditemukannya levodopa. Operasi
dilakukan pada pasien dengan Parkinson yang sudah parah di mana terapi dengan
obat tidak mencukupi. Operasi dilakukan thalatotomi dan stimulasi
thalamik. 11
8. Terapi neuroprotektif
Terapi
neuroprotektif dapat melindungi neuron dari kematian sel yang diinduksi
progresifitas penyakit. Yang sedang dikembangkan sebagai agen neuroprotektif
adalah apoptotic drugs (CEP 1347 and CTCT346), lazaroids, bioenergetics,
antiglutamatergic agents, dan dopamine receptors. Adapun yang sering digunakan
di klinik adalah monoamine oxidase inhibitors (selegiline and rasagiline),
dopamine agonis, dan complek I mitochondrial fortifier coenzyme Q10.
9. Nutrisi
Beberapa
nutrient telah diuji dalam studi klinik klinik untuk kemudian digunakan secara
luas untuk mengobati pasien Parkinson. Sebagai contoh, L- Tyrosin yang
merupakan suatu perkusor L-dopa mennjukkan efektifitas sekitar 70 % dalam
mengurangi gejala penyakit ini. Zat besi (Fe), suatu kofaktor penting dalam
biosintesis L-dopa mengurangi 10%- 60% gejala pada penelitian terhadap 110
pasien. 7
THFA, NADH,
dan piridoxin yang merupakan koenzim dan perkusor koenzim dalam biosintesis
dopamine menunjukkan efektifitas yang lebih rendah dibanding L-Tyrosin dan zat
besi. Vitamin C dan vitamin E dosis tinggi secara teori dapat mengurangi
kerusakan sel yang terjadi pada pasien Parkinson. Kedua vitamin tersebut
diperlukan dalam aktifitas enzim superoxide dismutase dan katalase untuk
menetralkan anion superoxide yang dapat merusak sel. 7
Belum lama
ini, Koenzim Q10 juga telah digunakan dengan cara kerja yang mirip dengan
vitamin A dan E. MitoQ adalah suatu zat sintesis baru yang memiliki struktur
dan fungsi mirip dengan koenzim Q10.
10. Qigong
Terdapat
dua penelitian mengenai qigong pada penyakit Parkinson. Dalam percobaan di
Bonn, studi terhadap 56 pasien didapatkan peningkatan gejala motorik dan
non-motorik di antara pasien yang melakukan latihan qigong terstruktur 1 kalin
seminggu selama 8 minggu. Penulis berspekulasi bahwa gambaran aliran energy
yang membantu peningkatan dalam movement pasien.
7
Namun
demikian studi kedua menunjukkan qigong tak efektif pada penyakit Parkinson.
Dalam studi tersebut, peneliti menggunakan randomized cross-over trial untuk
membandingkan latihan aerobic dengan qigong pada penyakit Parkinson tahap
lanjut.dua kelompok pasien PD dinilai, kemudian melakukan 20 sesi baik latihan
aeronik maupun qigong, dinilai lagi, kemudian setelah selang 2 bulan, ditukar
dengan 20 sesi lainnya, kemudian dinilai lagi. Penulis mendapatkan peningkatan
kemampuan motorikdan fungsi kardiorespirator setelah mengikuti latihan aerobic,
tetapi tak mendapatkan manfaat setelah mengikuti qigong. Penulis juga
menyimpulkan latihan aerobik tak memiliki manfaat terhadap kualitas hidup
pasien. 7
11. Botox
Baru-baru
ini, injeksi Botox sedang diteliti sebagai salah satu pengobatan non-FDA di
masa mendatang. 7
Prognosis
Obat-obatan
yang ada sekarang hanya menekan gejala-gejala parkinson, sedangkan perjalanan
penyakit itu belum bisa dihentikan sampai saat ini. Sekali terkena parkinson, maka penyakit ini
akan menemani sepanjang hidupnya.7
Tanpa
perawatan, gangguan yang terjadi mengalami progress hingga terjadi total
disabilitas, sering disertai dengan ketidakmampuan fungsi otak general, dan
dapat menyebabkan kematian. 9
Dengan
perawatan, gangguan pada setiap pasien berbeda-berbeda. Kebanyakan pasien
berespon terhadap medikasi. Perluasan gejala berkurang, dan lamanya gejala
terkontrol sangat bervariasi. Efek samping pengobatan terkadang dapat sangat
parah. 10.
LEGAL-ETIK
Dalam
kasus ini, peran perawat sebagai advokat harus bertanggung jawab membantu klien
dan keluarganya dalam hal laporan concern atas tindakan keperawatan yang
dilakukan selain itu harus mempertahankan dan melindungi hak-hak klien serba
memastikan kebutuhan klien terpenuhi.
a.
Otonomi
Prinsip
bahwa individu mempunyai hak menentukan diri sendiri memperoleh kebebesan dan
kemandirian. Contoh : menghargai keputusan klien mengenai perawatan
penyakitnya.
b.
Nonmaleficience
Prinsip
ini menghinddari tindakan yang membahayakan. Bahaya dapat berarti dengan sengaja,
resiko, atau tidak di sengaja membahayakan. Contoh : hati-hati dalam pemberian
pengobatan harus sesuai dengan indikasi yang diberikan dokter terhadap penyakit
pasien.
c.
Beheficience
Prinsip
bahwa seorang perawat harus melakukan kebaikan. Perawat melakukan kebaikan
dengan menginflementasi tindakan yang mengntungkan. Contoh: memberikan
kebutuhan pertama dari pasien.
d.
Fidelity
Prinsip
bahwa individu wajib setia terhadap komitmen atau kesepakatan dan tanggun jawab
yang dimiliki. Kesetiaan yang meliputi aspek kerahasiaan/ privasi adan komitmen
adanya kesesuanan antara informasi fakta. Contoh : perawat harus menjaga
kerahasiaan atas penyakit decompensasi cordis yang diderita pasien terhadap
orang lain.
e.
Veracity
Mengacu
pada mengatakan kebenaran. Book (1992) mengatakan bahwa bohong pada orang sakit
atau menjelang ajal jarang dibenarkan. Kehilangan kepercayaan kepada perawat
dan kecemasan tidak mengetahui kebenaran biasanya lebih merugikan. Contoh :
agar pasien tidak kehilangan kepercayaan maka dalam menjelaskan penyakitnya
jangan sampai membuat pasien menjadi droop.
f.
Justice
Prinsip
bahwa individu memiliki hak diperlukan setara. Contoh : merawat pasien tidak boleh melihat tingkatan
social pasien.
Advokasi :
a.
Memberikan penjelasan
yang sesuai dengan penyakitnya, apabila pasien kurang mengerti pejelasan yang
diberikan oleh dokter.
b.
Memberikan dukungan
moral, agar klien lebih memiliki semangat untuk sembuh.
c.
Membeikanr penjelasan
mengenai perawatan dan pengobatan yang harus pasien dapatkan agar cepat sembuh.
ASUHAN KEPERAWAAN
KASUS 4 :
PARKINSON
“Tuan Jhonson Kena
Parkinson”
Tn. J, 65 tahun, datang ke IGD
diantar anaknya dengan keluhan lemah dan
badan yang gemetar terus menerus. Anak klien mengatakan klien mengalami susah
tidur sejak 1 bulan belakangan. Anak klien juga mengatakan klien sudah mulai
pikun, selalu lupa makan selain juga karena gerak klien mulai menjadi lambat
sehingga membuatnya malas makan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan gerakan yang
tidak terkontrol pada tangan, klien tampak berkeringat dan wajah tampak tidak
memiliki ekspresi. TTV: TD 85/50 mmHg, N: 100x/menit, RR: 26x/menit, T:360C.
1.
Data Demografi
Nama klien : Tn.J
Umur : 65 Tahun
Diagnosa
Medik : Parkinson
Tanggal Masuk : 12 Desember 2012 n
Alamat : Jl. Tipar Halim rt.005/06 no 60j mekarsari-cimanggis
depok
Suku : batak
Agama : islam
Pekerjaan : wiraswasta
Status perkawinan :
menikah
Status pendidikan : SMP
2.
Riwayat Penyakit
a.
Keluhan Utama
Klien
mengeluh lemah
dan badan yang gemetar terus menerus, mengalami susah tidur sejak 1 bulan
belakangan. Anak klien mengatakan klien sudah mulai pikun, selalu lupa
makan selain juga karena gerak klien mulai menjadi lambat sehingga membuatnya
malas makan
b.
Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat kesehatan menunjukkan terjadi
gerakan yang tidak terkontrol pada tangan, klien tampak berkeringat dan wajah
tampak tidak memiliki ekspresi.
c.
Riwayat Penyakit Terdahulu
Klien
mengatakan tidak pernah mengalami penyakit yang di alaminya saat ini.
d.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Menurut pengakuan keluarga, dalam
keluarganya tidak ada yang mengalami penyakit yang sedang di derita pasien.
3.
Keluhan waktu di data
Pada saat
dilakukan pengkajian ditemukan gerakan yang tidak terkontrol pada tangan, berkeringat dan wajah tampak
tidak memiliki ekspresi.
4.
Pemeriksaan fisik
a.
Aktivitas/ Istirahat
Gejala: merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas
karena kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis (hemiplegia), merasa mudah
lelah, susah untuk beristirahat (nyeri/ kejang otot).
Tanda: gangguan tonus otot, paralitik
(hemiplegia), dan terjadi kelemahan umum, gangguan penglihatan, gangguan
tingkat kesadaran.
b. Sirkulasi
Gejala: adanya penyakit jantung, polisitemia,
riwayat hipotensi postural.
Tanda: hipertensi arterial sehubungan dengan
adanya embolisme/ malformasi vaskuler, frekuensi nadi bervariasi, dan
disritmia.
c. Integritas
Ego
Gejala: perasaan tidak
berdaya, perasaan putus asa
Tanda: emosi yang
labil dan ketidaksiapan untuk marah, sedih, dan gembira, kesulitan untuk
mengekspresikan diri.
d. Eliminasi
Gejala: perubahan pola
berkemih
Tanda: distensi
abdomen dan kandung kemih, bising usus negatif.
e. Makanan/
Cairan
Gejala: nafsu makan hilang,
mual muntah selama fase akut, kehilangan sensasi pada lidah, dan tenggorokan,
disfagia, adanya riwayat diabetes, peningkatan lemak dalam darah.
Tanda: kesulitan
menelan, obesitas.
f. Neurosensori
Gejala:
sakit kepala, kelemahan/ kesemutan, hilangnya rangsang sensorik kontralateral
pada ekstremitas, penglihatan menurun, gangguan rasa pengecapan dan penciuman.
Tanda:
status mental/ tingkat kesadaran biasanya terjadi koma pada tahap awal
hemoragis, gangguan fungsi kognitif, pada wajah terjadi paralisis, afasia,
ukuran/ reaksi pupil tidak sama, kekakuan, kejang.
g. Kenyamanan
/ Nyeri
Gejala: sakit kepala
dengan intensitas yang berbeda-beda
Tanda: tingkah laku
yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada otot
h. Pernapasan
Gejala: merokok
Tanda: ketidakmampuan
menelan/ batuk/ hambatan jalan nafas, timbulnya pernafasan sulit, suara nafas
terdengar ronchi.
i.
Keamanan
Tanda: masalah dengan
penglihatan, perubahan sensori persepsi terhadap orientasi tempat tubuh,
tidak mampu mengenal objek, gangguan berespons terhadap panas dan dingin,
kesulitan dalam menelan, gangguan dalam memutuskan.
j.
Interaksi Sosial
Tanda:
masalah bicara, ketidakmampuan untuk berkomunikasi
A.DATA FOKUS
Tn. J
|
DATA SUBJEKTIF
|
DATA OBJEKTIF
|
|
-Pasien mengeluh lemah
dan badan yang gemetar terus menerus.
-Anak klien mengatakan klien mengalami susah tidur
sejak 1 bulan belakangan.
- Anak klien mengatakan klien sudah mulai pikun,
selalu lupa makan selain juga karena gerak klien mulai menjadi lambat
sehingga membuatnya malas makan.
Data yang perlu dikaji:
-kemungkinan pasien mengeluh mengalami gangguan
penciuman
-kemungkinan pasien mengeluh susah tidur
-kemungkinan anak
klien mengeluh klien sulit makan dan berat badan berkurang
- Kemungkinan anak
klien mengatakan klien adanya
kesulitan dalam berbicara
|
- ditemukan pasien gerakan yang tidak terkontrol
pada tangan
- ditemukan pasien berkeringat dan wajah tampak
tidak memiliki ekspresi.
-ditemukan pasien dengan TTV: TD 85/50 mmHg, N:
100x/menit, RR: 26x/menit,SH:360C.
Data yang perlu dikaji:
-kemungkinan
pasien tampak mengalami perubahan suara
-kemungkinan
ditemukan pasien dengan lengan tidak berayun dengan bebas
-kemungkinan
pasien tampak berkeringan yang berlebihan
-kemungkinan klien tampak kurus,
-kemungkinan
berat badan kurang dari 20% berat badan ideal
-kemungkinan pasien tampak konjungtiva pucat,
-kemungkinan pasien
tampak membran mukosa pucat.
-kemungkinan
kata-kata pasien tampak sulit dipahami
-kemungkinan
pasien tampak wajah kaku
|
B. Analisa Data
|
No
|
Data fokus
|
Problem
|
Etiologi
|
|
1
|
DS:
-Pasien mengeluh lemah
dan badan yang gemetar terus menerus.
DO:
-ditemukan pasien gerakan yang tidak terkontrol
pada tangan
- ditemukan pasien berkeringat dan wajah tampak
tidak memiliki ekspresi.
|
Kerusakan mobilitas fisik
|
kelemahan otot.
|
|
2
|
DS:
-Anak klien mengatakan klien mengalami susah tidur
sejak 1 bulan belakangan.
DO:
-ditemukan pasien dengan TTV: TD 85/50 mmHg, N:
100x/menit, RR: 26x/menit,SH:360C.
|
.
Kurang perawatan diri (makan, minum, berpakaian, higiene)
|
tretremor
( kelemahan otot ) dan gangguan motorik.
|
|
3
|
DS:
- Anak klien mengatakan klien sudah mulai pikun,
selalu lupa makan selain juga karena gerak klien mulai menjadi lambat
sehingga membuatnya malas makan.
DO:
-kemungkinan klien tampak kurus,
-kemungkinan
berat badan kurang dari 20% berat badan ideal
-kemungkinan pasien tampak konjungtiva pucat,
-kemungkinan pasien
tampak membran mukosa pucat.
|
Gangguan pemenuhan
nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
|
kesulitan dalam mengunyah dan
menelan makanan
|
|
4
|
DS:
- Kemungkinan anak
klien mengatakan klien adanya
kesulitan dalam berbicara
DO:
-kemungkinan
kata-kata pasien tampak sulit dipahami
-kemungkinan
pasien tampak wajah kaku
|
. Risiko
Kerusakan komunikasi verbal
|
pepenurunan
volume bicara perlambatan bicara, ketidakmampuan untuk menggerakkan otot-otot
wajah.
|
Diagnosa Keperawatan secara umum
1. Hambatan mobilitas fisik yang
berhubungan dengan kekakuan dan kelemahan otot.
2. Defisit perawatan diri yang
berhubungan dengan kelemahan neuromuscular,menurunnya kekuatan,kehilamgan
control/koordinasi.
3. Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan tremor,pelambatan dalam proses
makan,kesulitan mengunyah,dan menelan.
4. Hambatan komunikasi verbal yang berhubungan
dengan penurunan volume bicara,pelambatan bicara,ketidak mampuan menggerakkan
otot-otot wajah.
5. Koping individu tidak efektif yang
berhungan dengan depresi dan disfungsi karena perkembangan penyakit.
6.
Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan sumber informasi proedur
perawatan rumah yang tidak adekuat.
C.Diagnosa Keperawatan menurut kasus
1.
Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan otot.
2.
Kurang perawatan diri (makan, minum, berpakaian, higiene) berhubungan dengan
tremor ( kelemahan otot ) dan gangguan motorik.
3. gangguan
pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan b.d kesulitan dalam mengunyah dan
menelan makanan.
4.
risiko kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan volume
bicara perlambatan bicara, ketidakmampuan untuk menggerakkan otot-otot wajah
D.Intervensi Keperawatan
1. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan dan
kelemahan otot.
Tujuan : setelah dilakukan
indakan keperawatan dalam waktu 3 x 24 jam,klien mampu melaksanakan aktivitas
fisik sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria hasil : Klien dapat ikut serta dalam program latihan,tidak terjadi kontraktur sendi,bertambahnya kekuatan otot,klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
INTERVENSI
Kriteria hasil : Klien dapat ikut serta dalam program latihan,tidak terjadi kontraktur sendi,bertambahnya kekuatan otot,klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
INTERVENSI
Mandiri :
1. Kaji mobilitas yang ada dan observasi
peningkatan kerusakan.Kaji secara teratur fungsi motorik.R: Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam
melakukan aktivitas.
2. Lakukan program latihan yang
meningkatkan kekuatan otot.R: Meningkatkan koordinasi dan
ketangkasan,menurunkan kekuatan otot dan mencegah kontraktur bila otot tidak di
gunakan
3. Lakukan latihan postural.R: Latihan
postural untuk melawan kecenderungan kepala dan leher tertarik ke depan dan ke
bawah.
4. Ajarkan teknik berjalan khusus :
- Melakukan periode istirahat yang sering untuk membantu pencegahan frustasi dan kelelahan.R: Teknik berjalan kusus dapat juga dipelajari untuk mengimbangi gaya berjalan menyeret dan kecenderungan tubuh condong ke depan.
- Melakukan periode istirahat yang sering untuk membantu pencegahan frustasi dan kelelahan.R: Teknik berjalan kusus dapat juga dipelajari untuk mengimbangi gaya berjalan menyeret dan kecenderungan tubuh condong ke depan.
5. Anjurkan mandi hangat dan masase
otot.R: Mandi hangat dan masase membantu otot-otot rileks saat melakukan
aktivitas pasif dan aktif dan mengurangi nyeri otot akibat spasme yang
mengakibatkan kekuatan.
6. Bantu klien melakukan latihan
ROM,perawatan diri sesuai toleransi. R:Untuk memelihara fleksibilitas sendi
sesuai kemampuan.
Kolaberasi :
1. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi
untuk latihan fisik klien.R: Meningkatkan kemampuan dalam mobilasasi
ekstremitas dapat ditingkatkan dengan latihan fisik oleh tim fisioterapis.
2.Kurang
perawatan diri (makan, minum, berpakaian, higiene) berhubungan dengan tremor (
kelemahan otot ) dan gangguan motorik.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam
waktu 3 x 24 jam keperawatan diri klien terpenuhi
Kriteria Hasil: Klien dapat menunjukkan perubahan
hidup untuk kebutuhan merawat diri, klien mampu melakukan aktivitas perawatan
diri sesuai dengan tingkat kemampuan ,dan mengidentifikasi personal/masyarakat
yang dapat membantu.
INTERVENSI :
Mandiri
1) hindari apa yang
tidak dapat dilakukan klien dan bantu bila perlu.R: klien dalam keadaan cemas
dan tergantung hal ini dilakukan untuk untuk mencegah frustasi dan harga diri
klien.
2) ajarkan dan dukung
klien selama klien aktifitas. R: Dukungan padsa klien selama aktifitas
kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan perawatan diri.
3) modifikasi
lingkungan. R: Modifikasi lingkungan diperlukan untuk mengompensasi
ketidakmampuan fungsi
Kolaberasi
1) kolaborasi pemberian
pencahar dan konsul ke dokter terapi okepasi. R: pertolongan utama terhadap
fungsi usus atau defekasi,untuk mengembangkan terapi dan melegkapi kebutuhan
khusus.
3. gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan b.d kesulitan dalam
mengunyah dan menelan makanan.
Tujuan :
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan dalam 3x24 jam diharapkan pasien tetap
mendapatkan nutrisi secara adekuat
Kriteria
hasil :
Intake
nutrisi adekuat
INTERVENSI:
Mandiri
1)
Kaji kemampuan pasien untuk mengunyah dan menelan. R: faktor ini menentukan
pemilihan terhadap jenis makanan sehingga pasien harus terlindung dari
aspirasi.
2)
Auskultasi bising usus, catat adanya penurunan/ hilangnya atau suara yang
hiperaktif. R: fungsi saluran pencernaan biasanya tetap baik pada kasus cedera
kepala, jadi bising usus membantu dalam menentukan respons untuk makan atau
berkembangnya komplikasi, seperti paralitik ileus
3)
Jaga kenyamanan dalam memberikan makan pada pasien, seperti tinggikan kepala tempat tidur selama pasien
makan. R: menurunkan risiko regurgitasi dan/atau terjadinya aspirasi
kolaberasi
1)
Berikan makanan yang lunak dan yang sesuai dengan selera pasien. R: dengan
memberikan makanan yang lunak pasien bisa lebih mudah untuk menelan dan makanan
yang sesuai dengan selera pasien bisa meningkatkan nafsu makan pasien
2)
Konsultasi dengan ahli gizi. R: merupakan sumber yang efektif untuk
mengidentifikasi kebutuhan kalori/ nutrisi tergantung pada usia, berat badan,
ukuran tubuh, dan keadaan penyakit sekarang.
4. Risiko
kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan kemampuan bicara
dan kekakuan otot wajah
Tujuan :
Setelah di
berikan asuhan keperwatan di harap pasien bisa berkomonikasi dengan benar
Kriteria
Hasil :
Memaksimalkan
kemampuan berkomunikasi.
INTERVENSI :
1) Ajarkan klien latihan
wajah dan menggunakan metoda bernafas R: untuk memperbaiki kata-kata, volume,
dan intonasi.
2) Nafas dalam sebelum berbicara
R: untuk meningkatkan volume suara dan jumlah kata dalam kalimat setiap
bernafas
3) Latih berbicara dalam
kalimat pendek, membaca keras di depan kaca atau ke dalam perekam suara (tape
recorder) R: untuk memonitor kemajuan dalam berbicara aau mengungkapkan
kata-kata.
Kolaberasi
1) Jaga komplikasi
pengobatan. R: agar pada saat melakukan tindakan, pasien tidak mendapatkan
komplikasi dari penyakit lain.
2) Rujuk ke terapi
wicara.R: untuk memperlancar bebicara.
|
Tanggal
|
No dx
|
Implementasi
|
paraf
|
|
17-12-2012
|
1
|
1.
mengkaji
mobilitas yang ada dan observasi peningkatan kerusakan.Kaji secara teratur
fungsi motorik.
2.
melakukan program latihan yang meningkatkan
kekuatan otot.
3.
melakukan latihan postural.
4.
mengajarkan teknik berjalan khusus :
- Melakukan periode istirahat yang sering untuk membantu pencegahan frustasi dan kelelahan
5.
menganjurkan
mandi hangat dan masase otot.
6.
Membantu
klien melakukan latihan ROM,perawatan diri sesuai toleransi.
7.
megkolaborasi
dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.
|
|
|
17-12-2012
|
2
|
1) menghindari apa
yang tidak dapat dilakukan klien dan bantu bila perlu.
2) mengajarkan
dan dukung klien selama klien aktifitas.
4) memodifikasi
lingkungan.
5) mengkolaborasi
pemberian pencahar dan konsul ke dokter terapi okepasi.
|
|
|
17-12-2012
|
3
|
1)
mengkaji kemampuan pasien untuk mengunyah dan menelan.
2)
mengauskultasi bising usus, catat adanya penurunan/ hilangnya atau suara yang
hiperaktif.
3)
menjaga kenyamanan dalam memberikan makan pada pasien, seperti tinggikan kepala tempat tidur selama
pasien makan.
4)
memberikan makanan yang lunak dan yang sesuai dengan selera pasien.
5)
mengkonsultasi dengan ahli gizi.
|
|
|
17-12-2012
|
4
|
1) mengajarkan klien
latihan wajah dan menggunakan metoda bernafas
2) memberikan nafas
dalam sebelum berbicara
3) melatih berbicara
dalam kalimat pendek, membaca keras di depan kaca atau ke dalam perekam suara
(tape recorder)
4) menjaga komplikasi
pengobatan.
5) merujuk ke terapi
wicara.
|
|
EVALUASI
S.O.A.P
|
Tanggal
|
Masalah
|
S.O.A.P
|
Paraf dan
nama jelas
|
|
17-12-12
|
1
|
S=-Pasien sudah tidak lemah
dan badan yang sudah tidak gemetar
O=-sudah tidak
ditemukan pasien gerakan yang tidak terkontrol pada tangan
- sudah tidak ditemukan pasien berkeringat dan
wajah tampak tidak memiliki ekspresi.
A=masalah
teratasi
P=intervensi
dihentikan
|
|
|
17-12-12
|
2
|
S=
-Anak klien mengatakan klien sudah tidur dengan
nyenyak
O=-ditemukan pasien
dengan TTV: TD 130/80 mmHg, N: 90x/menit, RR: 24x/menit,SH:36,50C.
A=masalah
teratasi
P=intervensi
dihentikan
|
|
|
17-12-12
|
3
|
S=- Anak klien
mengatakan klien sudah menghabiskan porsi makanan
O=berat
badan klien normal, membran mukosa normal, dan konjungtifa normal
A=masalah
teratasi
P=intervensi
dihentikan
|
|
|
17-12-12
|
4
|
S=
Kemungkinan anak klien sudah
tidak mengatakan klien adanya kesulitan dalam berbicara
O=-kemungkinan
kata-kata pasien sudah bisa dipahami
A=masalah
teratasi
P=intervensi
dihentikan
|
|
SATUAN ACARA PENYULUHAN
( SAP )
|
Tema
|
: Penyakit
Parkinson
|
|
Sub Tema
|
:
Pengetahuan tentang penyakit Parkinson
|
|
Sasaran
|
: Keluarga Tn. J
|
|
Tempat
|
: Di rumah sakit
|
|
Hari/Tanggal
|
: Senin, Januari
2013
|
|
Waktu
|
: 30 Menit
|
A. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit,
diharapkan Keluarga Tn. J dapat mengetahui tentang penyakit Parkinson
B. Tujuan Instruksional
Khusus
Setelah
mengikuti penyuluhan selama 30 menit, diharapkan Keluarga Klien Dapat:
•
Menjelaskan pengertian
tentang penyakit Parkinson
•
Menyebutkan penyebab
yang dapat menimbulkan penyakit Parkinson
•
Menyebutkan
tanda/gejala tentang penyakit Parkinson
•
Menjelaskan
penatalaksanaan penyakit Parkinson
C. Materi
1.
Pengertian tentang
penyakit Parkinson
2.
Penyebab penyakit Parkinson
3.
Tanda dan gejala
penyakit Parkinson
4.
Penatalaksanaan
penyakit Parinson
D. Metode
1.
Ceramah
2.
Tanya jawab
E. Kegiatan Penyuluhan
|
No
|
Kegiatan
|
Penyuluh
|
Peserta
|
Waktu
|
|
1.
|
Pembukaan
|
•
Salam pembuka
•
Menyampaikan tujuan
penyuluhan
|
•
Menjawab salam
•
Menyimak,
Mendengarkan,
Menjawab pertanyaan
|
5 Menit
|
|
2.
|
Kerja/ isi
|
Penjelasan pengertian, penyebab, gejala & penatalaksanaan tentang
penyakit Parkinson
•
Memberi kesempatan
peserta untuk
bertanya
•
Menjawab pertanyaan
•
Evaluasi
|
•
Mendengarkan
dengan penuh perhatian
•
Menanyakan hal-hal yang belum jelas
•
Memperhatikan
jawaban dari penceramah
•
Menjawab pertanyaan
|
20 menit
|
|
3.
|
Penutup
|
•
Menyimpulkan
•
Salam penutup
|
•
Mendengarkan
•
Menjawab salam
|
5 menit
|
F. Media
•
Leaflet : Tentang
penyakit Parkinson
•
Power point
G. Sumber/Referensi
(Inggris)"Protein kinases CK1 and CK2 as
new targets for neurodegenerative diseases".
Instituto de Quimica Medica-CSIC;
Perez DI, Gil C, Martinez A.. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20577972.
Diakses pada 7 Juli 2010.
Dittmar
T, Z̈änker KS. 2009. Stem Cell Biology
in Health and Disease. Dordrecht: Springer verlag.
H. Evaluasi
Formatif :
i.
Klien dapat menjelaskan
pengertian penyakit Parkinson.
ii.
Klien dapat menyebutkan penyebab penyakit Parkinson
iii.
Klien dapat menyebutkan
tanda dan gejala penyakit Parkinson
iv.
Klien mampu menjelaskan penatalaksanaan penyakit
Parkinson
Sumatif : Klien
dapat mengetahui perawatan tentang penyakit
Parkinson
Jakarta , Oktober
2013
Penyuluh
BAB IV
PENUTUP
Penyakit Parkinson adalah
penyakit neurodegeneratif yang bersifat kronis progresif, merupakan suatu
penyakit/sindrom karena gangguan pada ganglia basalis akibat penurunan atau
tidak adanya pengiriman dopamine dari substansia nigra ke globus palidus/ neostriatum
(striatal dopamine deficiency). Di Amerika Serikat, ada sekitar 500.000 penderita parkinson. Di Indonesia
sendiri, dengan jumlah penduduk 210 juta orang, diperkirakan ada sekitar
200.000-400.000 penderita
Penyakit Parkinson merupakan
penyakit kronis yang membutuhkan penanganan secara holistik meliputi berbagai
bidang. Pada saat ini tidak ada terapi untuk menyembuhkan penyakit ini, tetapi
pengobatan dan operasi dapat mengatasi gejala yang timbul . Obat-obatan yang ada sekarang hanya menekan gejala-gejala
parkinson, sedangkan perjalanan penyakit itu belum bisa dihentikan sampai saat
ini. Sekali
terkena parkinson, maka penyakit ini akan menemani sepanjang hidupnya.
Tanpa perawatan,
gangguan yang terjadi mengalami progress hingga terjadi total disabilitas,
sering disertai dengan ketidakmampuan fungsi otak general, dan dapat
menyebabkan kematian. Dengan perawatan, gangguan pada setiap pasien
berbeda-berbeda. Kebanyakan pasien berespon terhadap medikasi. Perluasan gejala
berkurang, dan lamanya gejala terkontrol sangat bervariasi. Efek samping
pengobatan terkadang dapat sangat parah.
DAFTAR
PUSTAKA
(Inggris)"Protein kinases CK1 and CK2
as new targets for neurodegenerative diseases". Instituto de Quimica Medica-CSIC; Perez DI,
Gil C, Martinez A.. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20577972. Diakses
pada 7 Juli 2010.
Dittmar T, Z̈änker KS. 2009. Stem Cell Biology in Health and Disease.
Dordrecht: Springer verlag.
Arenas, et al. 2008.Penyakit Parkinson.jakarta
file:///G:/obat%20parkinson.htm
No comments:
Post a Comment