AYU KRISTIANA
1110711009
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2012-2013
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nyalah penulis
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul HYDROCEPHALUS
tepat pada waktunya.
Penulisan makalah ini merupakan penugasan dari mata
kuliah blok Neurobehavior. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen
pembimbing yang telah memberikan sarannya dalam pembuatan makalah ini dan
teman-teman yang telah memberikan dukungan dan membantu dalam pembuatan makalah
ini, serta rekan-rekan lain yang membantu pembuatan makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca dan penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca guna memberikan
sifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah
ini masih jauh dari sempurna mengingat penulis masih tahap belajar dan oleh
karna itu mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dan kekurangan di dalam
penulisan makalah ini.
Jakarta, Oktober 2013
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Hydrocephalus telah dikenal sajak zaman Hipocrates, saat itu hydrocephalus
dikenal sebagai penyebab penyakit ayan. Di saat ini dengan teknologi yang
semakin berkembang maka mengakibatkan polusi didunia semakin meningkat pula
yang pada akhirnya menjadi factor penyebab suatu penyakit, yang mana kehamilan
merupakan keadaan yang sangat rentan terhadap penyakit yang dapat mempengaruhi
janinnya, salah satunya adalah Hydrocephalus. Saat ini secara umum insidennya
dapat dilaporkan sebesar tiga kasus per seribu kehamilan hidup menderita
hydrocephalus. Dan hydrocephalus merupakan penyakit yang sangat memerlukan
pelayanan keperawatanyangkhusus.
Hydrocephalus itu sendiri adalah akumulasi cairan serebro
spinal dalam ventrikel serebral, ruang subaracnoid, ruang subdural (Suriadi dan
Yuliani, 2001). Hydrocephalus dapat terjadi pada semua umur tetapi paling
banyak pada bayi yang ditandai dengan membesarnya kepala melebihi ukuran
normal. Meskipun banyak ditemukan pada bayi dan anak, sebenarnya hydrosephalus
juga biasa terjadi pada oaran dewasa, hanya saja pada bayi gejala klinisnya
tampak lebih jelas sehingga lebih mudah dideteksi dan diagnosis. Hal ini
dikarenakan pada bayi ubun2nya masih terbuka, sehingga adanya penumpukan cairan
otak dapat dikompensasi dengan melebarnya tulang2 tengkorak. Sedang pada orang
dewasa tulang tengkorak tidak mampu lagi melebar.
2. Tujuan
2.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah untuk
mengetahui berbagai hal yang berhubungan dengan hidrosefalus dan dapat
merancang berbagai cara untuk mengantisipasi masalah serta dapat melakukan
asuhan pada kasus hidrosefalus.
2.2 Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian anamnesa
pada bayi dengan hidrosefalus
b. Menentukan diagnosa, masalah serta kebutuhan dari data
yang telah dikumpulkan terhadap bayi dengan hidrosefalus
c. Menentukan antisipasi terhadap diagnosa dan masalah
potensial yang ditemukan pada bayi dengan hidrosefalus
d. Melakukan tindakan segera berdasarkan data yang telah
dikumpulkan terhadap bayi dengan hidrosefalus
e. Merencanakan tindakan yang akan dilakukan kepada bayi
berdasarkan interpretasi data yang yang ditentukan
f. Melaksanakan tindakan yang telah direncanakan secara
sistematis kepada bai dengan hidrosefalus
g. Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan
kepada bayi dengan hidrosefalus
3.RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi dari HYDROCEPHALUS?
2. Apa klasifikasi dari HYDROCEPHALUS?
3. Apa etiologi dari HYDROCEPHALUS?
4. Bagaimana patofisiologi dari HYDROCEPHALUS ?
5. Apa manifestasi klinis dari HYDROCEPHALUS?
6. Apa komplikasi dari HYDROCEPHALUS?
7. Apa saja pemeriksaan diagnostic spesifik pada
HYDROCEPHALUS ?
8. Bagaimana penatalaksanaan dari HYDROCEPHALUS
?
9.
Bagaimana asuhan keperawatan dari
HYDROCEPHALUS?
HIDROSEFALUS
A.
PENGERTIAN
Hidrosefalus
adalah suatu keadaan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan
serebrospinalis, disebabkan baik oleh produksi yang berlebihan maupun gangguan
absorpsi, dengan atau pernah disertai tekanan intrakanial yang meninggi
sehingga terjadi pelebaran ruanganruangan tempat aliran cairan serebrospinalis.
Hidrosefalus
adalah keadaan dimana terjadi akumulasi CCS yang berlebihan pada satu / lebih
ventrikel dan ruang subarakhnoid.
Hidrosefalus
adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan
serebrospinal dengan tekanan intrakranial yang meninggi, sehingga terdapat
pelebaran ventrikel.
Hidrosefalus
merupakan sindroma klinis yang progresif pada system ventrikuler cerebral dan
kompresi gabungan dari jaringan-jaringan serebral selama produksi CSF
berlangsung yang meningkatkan kecepatan absorbsi oleh vili arackhnoid.
Hidrocefalus
adalah keadaan patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan
cerebrospinal dengan adanya tekanan intrakranial (TIK) yang meninggi sehingga
terdapat pelebaran ruangan tempat mengeluarkan liguor (Depkes RI, 1989)
Hidrocefalus
adalah kelebihan cairan cerebrospinalis di dalam kepala. Biasanya di dalam
sistem ventrikel atau gangguan hidrodinamik cairan liguor sehingga menimbulkan
peningkatan volume intravertikel (Setyanegara, 1998)
Hidrocefalus adalah keadaan
patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinalis di dalam
kepala (CSS) dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial yang meninggi
sehingga terdapat ruangan tempat mengalirnya CSS (Ngastiyah, 1997)
Hidrocefalus
adalah suatu kondisi dimana terjadi pembesaran sistem ventrikular akibat
ketidakseimbangan antara produksi dan absorbsi cairan cerebrospinal (CSF:
Cerebrospinal Fluid).
( Ricard &
Victor, 1992)
Jadi Hidrocefalus merupakan
suatu keadaan patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinalis
sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya cairan cerebrospinal.
B. ANATOMI
FISIOLOGI
Cairan Serebro Spinal (CSS) ditemukan di ventrikel otak dan sisterna
dan ruang subarachnoid yang mengelilingi
otak dan medula spinalis. Seluruh ruangan berhubungan satu sama lain, dan tekanan cairan diatur pada suatu tingkat yang
konstan.
Fungsi
Bantalan Cairan Serebrospinal
Fungsi utamanya adalah untuk melindungi sistem saraf pusat (SSP)
terhadap trauma. Otak dan cairan
serebrospinal memiliki gaya berat spesifik yang kurang lebih sama (hanya
berbeda sekitar 4%), sehingga otak terapung dalam cairan ini. Oleh karena itu,
benturan pada kepala akan menggerakkan seluruh otak dan tengkorak secara
serentak, menyebabkan tidak satu bagian pun dari otak yang berubah bentuk
akibat adanya benturan tadi.
Pembentukan,
Aliran dan Absorpsi Cairan Serebrospinal
Sebagian besar CSS (dua pertiga atau lebih)
diproduksi di pleksus choroideus ventrikel
serebri (utamanya ventrikel lateralis). Sejumlah kecil dibentuk oleh sel
ependim yang membatasi ventrikel dan membran arakhnoid dan sejumlah kecil
terbentuk dari cairan yang bocor ke ruangan perivaskuler disekitar pembuluh
darah otak (kebocoran sawar darah otak).
Pada orang dewasa, produksi total CSS yang normal adalah sekitar 21
mL/jam (500 mL/ hari), volume CSS total hanya sekitar 150 mL. CSS mengalir dari
ventrikel lateralis melalui foramen intraventrikular (foramen Monroe) ke
venrikel ketiga, lalu melewati cerebral aquaductus (aquaductus sylvii) ke
venrikel keempat, dan melalui apertura medialis (foramen Magendi) dan apertura
lateral (foramen Luschka) menuju ke sisterna cerebelomedular (sisterna magna).
Dari sisterna cerebelomedular, CSS memasuki ruang subarakhnoid, bersirkulasi
disekitar otak dan medula spinalis sebelum diabsorpsi pada granulasi arachnoid
yang terdapat pada hemisfer serebral.
Sekresi
Pleksus Koroideus
Pleksus koroideus adalah pertumbuhan
pembuluh darah seperti kembang kol yang dilapisi oleh selapis tipis sel.
Pleksus ini menjorok ke dalam kornu temporal dari setiap ventrikel lateral,
bagian posteror ventrikel ketiga dan atap ventrikel keempat.
Sekresi cairan oleh pleksus koroideus terutama bergantung pada
transpor aktif dari ion natrium melewati sel epitel yang membatasi bagian luar
pleksus. Ion- ion natrium pada waktu
kembali akan menarik sejumlah besar ion-ion klorida, karena ion natrium
yang bermuatan positif akan menarik ion klorida yang bermuatan negatif.
Keduanya bersama sama meningkatkan kuantitas osmotis
substansi aktif dalam cairan serebrospinal, yang kemudian segera menyebabkan
osmosis air melalui membran, jadi menyertai sekresi cairan tersebut. Transpor
yang kurang begitu penting memindahkan sejumlah kecil glukosa ke dalam cairan
serebrospinal dan ion kalium dan bikarbonat keluar dari cairan serebrospinal ke
dalam kapiler. Oleh karena itu, sifat khas dari cairan serebrospinal adalah sebagai
berikut: tekanan osmotik kira-kira sama dengan plasma; konsentrasi ion natrium
kira-kira sama dengan plasma; klorida kurang lebih 15% lebih besar dari plasma;
kalium kira-kira 40% lebih kecil; dan glukosa kira-kira 30% lebih sedikit.
Inhibitor carbonic anhidrase
(acetazolamide), kortikosteroid, spironolactone, furosemide, isoflurane
dan agen vasokonstriksi untuk mengurangi produksi CSS.
Absorpsi Cairan Serebrospinal
Melalui Vili Arakhnoidalis
Absorpsi CSS melibatkan translokasi cairan dari granulasi arachnoid ke
dalam sinus venosus otak. Vili arakhnoidalis, secara mikroskopis adalah
penonjolan seperti jari dari membran arakhnoid ke dalam dinding sinus venosus.
Kumpulan besar vili-vili ini biasanya ditemukan bersama-sama, dan membentuk
suatu struktur makroskopis yang disebut granulasi arakhnoid yang terlihat
menonjol ke dalam sinus. Dengan menggunakan mikroskop elektron, terlihat bahwa
vili ditutupi oleh sel endotel yang memiliki lubang-lubang vesikular besar yang
langsung menembus badan sel. Telah dikemukakan bahwa lubang ini cukup besar
untuk menyebabkan aliran yang relatif bebas dari cairan serebrospinal, molekul
protein, dan bahkan partikelpartikel sebesar eritrosit dan leukosit
ke dalam darah vena. Sebagian kecil diabsorpsi di nerve root sleeves dan
limfatik meningen. Walaupun mekanismenya belum jelas diketahui, absorpsi CSS
ini tampaknya berbanding lurus terhadap tekanan intra kranial (TIK) dan
berbanding terbalik dengan tekanan vena serebral (Cerebral Venous Pressure =
CVP). Karena otak dan medula spinalis sedikit disuplai oleh sistem limfatik,
absorpsi melalui CSS merupakan mekanisme utama untuk mengembalikan protein
perivaskuler dan interstitiil ke dalam aliran darah.
Ruang Perivaskuler dan Cairan Serebrospinal
Pembuluh darah yang mensuplai otak pertama-tama berjalan melalui
sepanjang permukaan otak dan kemudian menembus ke dalam, membewa selapis pia
mater, yaitu membran yang menutupi otak. Pia mater hanya melekat longgar pada
pembuluh darah, sehingga terdapat sebuah ruangan, yaitu ruang perivaskuler,
yang ada di antara pia mater dan setiap pembuluh darah. Oleh karena itu, ruang
perivaskuler mengikuti arteri dan vena ke dalam otak sampai arteriol dan
venula, tapi tidak sampa ke kapiler.
Fungsi Limfatik Ruang Perivaskuler
Sama halnya dengan di tempat lain
dalam tubuh, sejumlah kecil protein keluar dari parenkim kapiler ke dalam ruang
interstitiil otak, karena tidak ada pembuluh limfe dalam jaringan otak, protein
ini meninggalkan jaringan terutama dengan mengalir bersama cairan yang melalui ruang
perivaskuler ke dalam ruang subarakhnoid. Untuk mencapai ruang subarakhnoid,
protein akan mengalir bersama cairan serebrospinal untuk diabsorpsi melalui
vili arakhnoidalis ke dlam vena-vena serebral. Ruang perivaskuler, sebenarnya,
merupakan sistem limfatik yang khusus untuk otak.
Selain menyalurkan cairan dan protein, ruang perivaskuler juga
menyalurkan partikel asing dari otak ke dalam ruang subarakhnoid. Misalnya,
ketika terjadi infeksi di otak, sel darah putih dan jaringan mati infeksius
lainnya dibawa keluar melalui ruang perivaskuler.
T ekanan Cairan Serebrospinal
Tekanan normal dari sistem cairan serebrospinal ketika seseorang
berbaring pada posisi horizontal, rata-rata 130 mm air (10 mmHg), meskipun
dapat juga serendah 65 mm air atau setinggai 195 mm air pada orang normal.
Pengaturan Tekanan Cairan Serebsrospinal
oleh Vili Arakhnoidalis
Normalnya, tekanan cairan serebrospinal hampir
seluruhnya diatur oleh absorpsi cairan melalui vili arakhnoidalis. Alasannya
adalah bahwa kecepatan normal pembentukan cairan serebrospinal bersifat
konstan, sehingga dalam pengaturan tekanan jarang terjadi faktor perubahan
dalam pembentukan cairan. Sebaliknya, vili berfungsi seperti katup yang
memungkinkan cairan dan isinya mengalir ke dalam darah dalam sinus venosus dan
tidak memungkinkan aliran sebaliknya. Secara normal, kerja katup vili tersebut
memungkinkan cairan serebrospinal mulai mengalir ke dalam darah ketika tekanan
sekitar 1,5 mmHg lebih besar dari tekanan darah dalam sinus venosus. Kemudian,
jika tekanan cairan serebrospinal masih meningkat terus, katup akan terbuka
lebar, sehingga dalam keadaan normal, tekanan tersebut tidak pernah meningkat
lebih dari beberapa mmHg dibanding dengan tekanan dalam sinus. Sebaliknya,
dalam keadaan sakit vili tersebut kadang-kadang menjadi tersumbat oleh
partikel-partikel besar, oleh fibrosis, atau bahkan oleh molekul protein plasma
yang berlebihan yang bocor ke dalam cairan serebrospinal pada penyakit otak.
Penghambatan seperti ini dapat menyebabkan tekanan cairan serebrospinal menjadi
sangat tinggi.
Pengukuran Tekanan Cairan Serebrospinal
Prosedur yang biasa digunakan untuk mengukur tekanan cairan
serebrospinal adalah sebagai berikut : Pertama, orang tersebut berbaring
horizontal pada sisi tubuhnya, sehingga tekanan cairan spinal sama dengan
tekanan dalam ruang tengkorak. Sebuah jarum spinal kemudian dimasukkan ke dalam
kanalis spinalis lumbalis di bawah ujung terendah medula spinalis dan
dihubungkan dengan sebiuah pipa kaca. Cairan spinal tersebut dibiarkan naik
pada pipa kaca sampai setinggitingginya. Jika nilainya naik sampai setinggi 136
mm di atas tingkat jarum tersebut, tekanannya dikatakan 136 mm air atau, dibagi
dengan 13,6 yang merupakan berat jenis air raksa, kira-kira 10 mmHg.
Fungsi Cairan serebrospinal
Cairan serebrospinal mengelilingi
ruang subaraknoid di sekitar otak dan medulla spinalis. Cairan ini juga mengisi
ventrikel dalam otak.
• Komposisi
Cairan serebrospinal menyerupai plasma darah dan cairan intersisial
(air,elektrolit,oksigan,karbondioksida,
glukose, beberapa lekosit ( terutama limfosit ) dan sedikit protein.
• Produksi
Cairan
serebrospinal dihasilkan oleh pleksus koroid yaitu jaring-jaring kapiler
berbentuk bunga kol yang menonjol dari pia mater ke dalam dua ventrikel otak
• Sirkulasi
Cairan
bergerak dari ventrikel lateral melalui foramen interventrikuler ( foramen
munro ) menuju ventrikel ketiga otak,kemudian mengalir melalui akuaduktus
serebral ( Sylvius ) menuju ventrikel keempat cairan mengalir melalui tiga
lubang langit-langit ventrikel keempat kemudan bersirkulasi melalui ruang
subaraknoid. Setelah mencapai ruang subaraknoid,maka cairan serebrospinal akan
bersirkulasi sekitar otak dan medulla spinalis,lalu keluar menuju sistem
vaskular. Sebagian besar cairan serebrospinal direabsorpsi ke dalam darah
melalui struktur khusus yang dinamakan villi araknoidalis kedalam sinus vena
pada dura mater dan kembali ke aliran darah tempat asal produksi cairan
tersebut.
• Fungsi
Cairan serebrospinal berfungsi sebagai bantalan
untuk jaringan lunak otak dan medulla spinalis,juga sebagai media pertukaran
nutrien dan zat buangan antara darah dan otak serta medulla spinalis. Secara
klinis cairan serebrospinal dapat diambil untuk pemeriksaan melalui prosudur
pungsi lumbal , yaitu jarum berongga diinsersi ke dalam ruang subaraknoid di
antara lengkung saraf vertebra lumbal ke tiga dan ke empat.
C. PENYEBAB
Hidrosefalus terjadi bila terdapat
penyumbatan aliran CSS pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS
dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subarackhnoid. akibat
penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya. Penyumbatan aliran CSS
sering terdapat pada bayi dan anak ialah : 1) Kelaina bawaan ( kongenital )
• Stenosis
aquaductus sylvii merupakan penyebab yang paling sering pada bayi/anak (60-90%)
Aquaductus dapat berubah saluran yang buntu sama sekali atau abnormal ialah
lebih sempit dari biasanya. Umumnya gejala Hidrocefalus terlihat sejak
lahir/progresif dengan cepat pada bulan-bulan pertama setelah lahir.
• Spina
bifida dan kranium bifida Biasanya berhubungan dengan sindrom ArnoldChiari
akibat tertariknya medula spinalis dengan medula oblongata dan cerebelum,
letaknya lebih rendah dan menutupi foramen magnum sehingga terjadi penyumbatan
sebagian/total.
• Syndrom
Dandy-Walker Merupakan atresia congenital foramen luscha dan mengendie dengan
akibat Hidrocefalus obstruktif dengan pelebran sistem ventrikel terutama
ventrikel IV sehingga merupakan krista yang besar di daerah losa posterior. Kista arakhnoid dan anomali pembuluh
darah
2) Infeksi
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan
meningen. secara patologis terlihat penebalan jaringan piameter dan arakhnoid
sekitar sisterna basalis dan daerah lain. penyebab lain infeksi adalah
toksoplasmosis.
3) Neoplasma
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat
terjadi di setiap tempat aliran CSS.
pada
anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel IV / akuaduktus sylvii
bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal dari cerebelum, penyumbatan
bagian depan ventrikel III disebabkan kraniofaringioma.
4) Perdarahan
Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak,
dapat menyebabkan fibrosis leptomeningfen terutama pada daerah basal otak,
selain penyumbatan yang terjadi akibat organisasi dari darah itu sendiri.
D. KLASIFIKASI
Klasifikasi hidrosefalus bergantung
pada faktor yang berkaitan dengannya, berdasarkan :
• Gambaran
klinis, dikenal hidrosefalus manifes ( overt hydrosefalus ) dan hidrosefalus
tersembunyi ( occult hydrosefalus ).
•
Waktu pembentukan, dikenal hidrosefalus
kongenital dan hidrosefalus akuisita.
•
Proses terbentuknya, dikenal hidrosefalus akut
dan hidrosefalus kronik.
•
Sirkulasi CSS, dikenal hidrosefalus komunikans
dan hidrosefalus non komunikans.
Hidrosefalus interna menunjukkan adanya dilatasi
vertikal, hidrosealus eksternal menunjukkan adanya pelebaran rongga
subarakhnoid diatas permukaan korteks. hidrosefalus obstruktif menjabarkan
kasus yang mengalami obstruksi pada aliran likuor. Berdasarkan gejala, dibagi
menjadi hidrosefalus simptomatik dan asimptomatik. hidrosefalus arrasted
menunjukkan keadaan dimana faktor-faktor yang menyebabkan dilatasi ventrikel
pada saat tersebut sudah tidak aktif lagi. hidrosefalus ex: vacuo adalah
sebutan bagi kasus ventrikulomegali yang diakibatkan atropi otak primer, yang biasanya
terdapat pada orang tua.
TIPE
Menurut
Ngatiyah (1997) Hidrocefalus pada bayi dapat dibagi menjadi dua yaitu
1.
Konginetal : Hidrocefalus sudah diderita sejak bayi
dilahirkan
2.
Di dapat : Bayi/anak mengalaminya pada saat sudah besar
dengan penyebabnya adalah penyakit-penyakit tertentu misalnya trauma kepala
yang menyerang otak dan pengobatannya tidak tuntas.
Menurut
Ngastiyah (1997) Hidrocefalus dapat dibagi dua yaitu:
1.
Hidrocefalus obstruksi ---> Tekanan CSS yang tinggi
disebabkan oleh obstruksi pada salah satu tempat antara pembentukan oleh plexus
koroidalis dan keluranya dari ventrikel IV melalui foramen lusckha dan
magendie.
2. Hidrocefalus
komunikans--->Bila tekanan CSS yang meninggi tanpa penyumbatan sistem
ventrikel.
E. PATOFISIOLOGI
CSS yang dibentuk dalam sistem
ventrikel oleh pleksus koroidalis kembali ke dalam peredaran darah melalui
kapiler dalam piameter dan arakhnoid yang meliputi seluruh Susunan Saraf Pusat
( SSP ). Cairan likuor serebrospinalis terdapat dalam satu sistem, yakni sistem
internal dan eksternal.
•
Orang dewasa : jumlah normal CSS = 90 – 150 ml
•
Anak umur 8-10 th : 100-140 ml
•
Bayi : 40-60 ml
•
Neonatus : 20-30 ml
• Prematur
kecil : 10-20 ml
Hidrosefalus secara teori
terjadi sebagai akibat dari 3 mekanisme, yaitu :
1) Produksi
likuor yang berlebihan
2) Peningkatan
resistensi aliran likuor
3) Peningkatan
tekanan sinus venosa
Konsekuensi 3 mekanisme di atas adalah
peningkatan tekanan intrakranial sebagai upaya mempertahankan keseimbangan
sekresi dan absorbsi. mekanisme terjadinya dilatasi ventrikel cukup rumit dan
berlangsung berbeda-beda tiap saat selama perkembangan hidrosefalus. dilatasi
ini sebagai berikut :
1) kompresi
sistem serebrovaskuler
2) redistribusi
dari likuor serebrospinalis atau cairan ekstraseluler
3) Perubahan
mekanis dari otak
4) Efek
tekanan denyut likuor serebrospinalis
5) Hilangnya
jaringan otak
6) Pembesaran
volume tengkorak karena regangan abnormal sutura kranial
Produksi likuor yang berlebihan
disebabkan tumor pleksus khoroid. gangguan aliran likuor merupakan awal dari
kebanyakan kasus hidrosefalus. Peningkatan resistensi yang disebabkan gangguan
aliran akan meningkatkan tekanan likuor secara proporsional dalam upaya
mempertahankan resorbsi yang seimbang.
Peningkatan tekanan sinus vena
mempunyai 2 konsekuensi, yaitu peningkatan tekanan vena kortikal sehingga
menyebabkan volume vaskuler intrakranial bertambah dan peningkatan tekanan
intrakranial sampai batas yang dibutuhkan untuk mempertahankan aliran likuor
terhadap tekanan sinus vena yang relatiuf tinggi.
Konsekuensi klinis dari hipertensi vena ini tergantung
dari komplikasi tengkorak.
F. TANDA DAN GEJALA
Tanda awal dan gejala hidrosefalus
tergantung pada awitan dan derajat ketidakseimbangan kapasitas produksi dan
resorbsi CSS. gejala yang menonjol merupakan refleks adanya hipertensi
intrakranial. manifestasi klinis dari hidrosefalus pada anak dikelompokkan
menjadi 2 golongan, yaitu :
a. Awitan hidrosefalus
terjadi pada masa neonatus
Meliputi pembesaran kepala neonatus biasanya
adalah 35-40 cm dan pertumbuhan ukuran lingkar kepala terbesar adalah selama tahuin
pertama kehidupan. kranium terdistensi dalan semua arah, tetapi terutama pada
daerah frontal. tampak dorsum nasi lebih dari biasa. Fontanella terbuka dan
tegang, sutura masih terbuka bebas. tulang-tulang kepala menjadi sangat tipis,
vena-vena disis samping kepala tampak melebar dan berkelok. b. Awitan
hidrosefalus terjadi pada akhir masa kanak-kanak
Pembesaran kepala tidak bermakna,
tetapi nyeri kepala sebagai manifestasi hipertensi intrakranial. Lokasi nyeri
kepala tidak khas. Dapat disertai keluhan penglihatan ganda ( diplopia ) dan
jarang diikuti penurunan visus. secara umum gejala yang paling umum terjadi
pada pasien-pasien hidrosefalus dibawah usia 2 tahun adalah pembsaran normal.
makrokrania biasanya disertai empat gejala hipertensi intrakranial lainnya,
yaitu :
a) Fontanela
yang sangat tegang
b) Sutura
kranium tampak atau teraba melebar
c) Kulit
kepala livin mengkilap dan tampak vena-vena superfisial menonjol
d) Fenomena “
matahari tenggelam “ ( sunset phenomenom )
Gejala
hipertensi intrakranial lebih menonjol pada anak yang lebih besr dibandingkan
denghan bayi. Gejalanya mencakup :
•
Nyeri kepala
•
Muntah
•
Gangguan kesadaran
• Pada
kasus lanjut : gejala batang otak akibat hernia tonsiler (bradikardini aritmia
respirasi)
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Ø Pemeriksaan fisik:
Pengukuran lingkaran kepala secara
berkala. Pengukuran ini penting untuk melihat pembesaran kepala yang progresif
atau lebih dari normal Transiluminasi Pemeriksaan
darah:
Tidak ada pemeriksaan darah khusus untuk
hidrosefalus Pemeriksaan cairan
serebrospinal:
Analisa cairan serebrospinal pada hidrosefalus
akibat perdarahan atau meningitis untuk mengetahui kadar protein dan
menyingkirkan kemungkinan ada infeksi sisa
Ø Pemeriksaan radiologi:
•
X-foto kepala: tampak kranium yang membesar atau
sutura yang melebar.
• USG
kepala: dilakukan bila ubun-ubun besar belum menutup.
• CT
Scan kepala: untuk mengetahui adanya pelebaran ventrikel dan sekaligus
mengevaluasi struktur-struktur intraserebral lainnya
H. KOMPLIKASI
1. Peningkatan
TIK
2. Kerusakan
otak
3. Infeksi:
septisemia, infeksi luka nefritis, meningitis, ventrikulitis, abses otak
4. Emboli
otak
5. Obstruksi
vena kava superior
6. Shunt
tidak berfungsi dengan baik akibat obstruksi mekanik
7. Fisik
dan intelegent kurang dari normal, gangguan penglihatan
8. Kematian
Komplikasi
Hidrocefalus menurut Prasetio (2004)
1. Peningkatan
TIK
2. Pembesaran
kepala
3. kerusakan
otak
4. Meningitis,
ventrikularis, abses abdomen
5. Ekstremitas
mengalami kelemahan, inkoordinasi, sensibilitas kulit menurun
6. Kerusakan
jaringan saraf
7. Proses
aliran darah terganggu
I. PENATALAKSANAAN
•
Farmakologis:
Mengurangi volume cairan
serebrospinalis:
•
Acetazolamide 25 mg/KgBB/hari PO
dibagi dalam 3 dosis. Dosis dapat dinaikkan
25 mg/KgBB/hari (Maksimal 100 mg/KgBB/hari )
•
Furosemide 1 mg/KgBB/hari PO dibagi
dalam 3-4 dosis
Catatan: Lakukan
pemeriksaan serum elektrolit secara berkala untuk mencegah terjadinya efek
samping.
•
Bila ada tanda-tanda infeksi, beri antibiotika
sesuai kuman penyebab.
•
Pembedahan:
•
Bagan
Penatalaksanaan Hidrosefalus Darto Saharso 2006
J. PENCEGAHAN
•
Sebelum menikah, pasangan calon pengantin harus
memeriksakan kondisi kesehatannya untuk mencegah kelainan bawaan pada bayi saat
hamil nanti.
• Sesudah
menikah, khususnya selama masa kehamilan, harus dilakukan pemeriksaan kehamilan
secara teratur ke dokter agar dapat diketahui bagaimana kesehatan janin yang
dikandung dan kemungkinan terjadinya hidrosefalus.
• Pada
masa bayi dan balita, hidrosefalus sering terjadi akibat infeksi otak yang
mengganggu peredaran cairan otak karena TBC otak atau infeksi bakteri, virus,
tumor dan jamur.
• Lindungi
selalu kepala anak dari cedera yang mungkin saja bisa berakibat yang
membahayakan kesehatan anak.
Anda sebagai orang tua juga perlu untuk selalu memantau pertumbuhan
dan perkembangan anak secara teratur melalui Kartu Menuju Sehat (KMS) atau
Kartu Ibu dan Anak (KIA). Lakukan pemeriksaan rutin dengan mengukur lingkar kepala setiap
bulannya. Hal ini merupakan cara deteksi awal yang paling mudah dilakukan untuk
mengetahui terjadinya hidrosefalus. Apabila ukuran lingkar kepala tidak
berkembang sebagaimana mestinya, jangan ragu untuk memeriksanya ke dokter anak
untuk segera ditindaklanjuti.
K. PROGNOSIS
Hidrosefalus yang tidak diterapi akan menimbulkan
gejala sisa, gangguan neurologis serta kecerdasan. Dari kelompok yang tidak
diterapi, 50-70 % akan meninggal karena penyakitnya sendiri atau akibat infeksi
berulang atau oleh karena aspirasi pneumonia. Namun bila prosesnya berhenti (
arreated hidrosefalus ) sekitar 40 % anak akan mencapai keceradasan yang
normal. Pada kelompok ytang dioperasi, angka kematian adalah 7 %. Setelah
operasi sekitar 51 % kasus mencapai fungsi normal dan sekitar 16 % mengalami
retardasi mental ringan. Adalah penting sekali anak hiodrosefalus mendapat
tindak lanjut jangka panjang dengan kelompok multidispliner.
L. EPIDEMIOLOGI
Insidensi hidrosefalus antara 0,2-4 setiap 1000
kelahiran. Insidensi hidrosefalus kongenital adalah 0,5-1,8 pada tiap 1000
kelahiran dan 11%-43% disebabkan oleh stenosis aqueductus serebri. Tidak ada
perbedaan bermakna insidensi untuk kedua jenis kelamin, juga dalam hal
perbedaan ras. Hidrosefalus dapat terjadi pada semua umur. Pada remaja dan
dewasa lebih sering disebabkan oleh toksoplasmosis. Hidrosefalus infantil; 46%
adalah akibat abnormalitas perkembangan otak, 50% karena perdarahan subaraknoid
dan meningitis, dan kurang dari 4% akibat tumor fossa posterior (Darsono,
2005:211).
M. LEGAL-ETIK
Dalam kasus ini, peran perawat sebagai advokat
harus bertanggung jawab membantu klien dan keluarganya dalam hal laporan
concern atas tindakan keperawatan yang dilakukan selain itu harus mempertahankan
dan melindungi hak-hak klien serba memastikan kebutuhan klien terpenuhi.
a.
Otonomi
Prinsip bahwa individu mempunyai hak menentukan diri sendiri
memperoleh kebebesan dan kemandirian. Contoh : menghargai keputusan klien
mengenai perawatan penyakitnya.
b.
Nonmaleficience
Prinsip ini menghinddari tindakan yang membahayakan. Bahaya dapat
berarti dengan sengaja, resiko, atau tidak di sengaja membahayakan. Contoh :
hati-hati dalam pemberian pengobatan harus sesuai dengan indikasi yang
diberikan dokter terhadap penyakit pasien.
c.
Beheficience
Prinsip bahwa seorang perawat harus melakukan kebaikan. Perawat
melakukan kebaikan dengan menginflementasi tindakan yang mengntungkan. Contoh:
memberikan kebutuhan pertama dari pasien.
d.
Fidelity
Prinsip bahwa individu wajib setia terhadap komitmen atau kesepakatan
dan tanggun jawab yang dimiliki. Kesetiaan yang meliputi aspek kerahasiaan/
privasi adan komitmen adanya kesesuanan antara informasi fakta. Contoh :
perawat harus menjaga kerahasiaan atas penyakit decompensasi cordis yang
diderita pasien terhadap orang lain.
e.
Veracity
Mengacu pada mengatakan kebenaran. Book (1992) mengatakan bahwa bohong
pada orang sakit atau menjelang ajal jarang dibenarkan. Kehilangan kepercayaan
kepada perawat dan kecemasan tidak mengetahui kebenaran biasanya lebih
merugikan. Contoh : agar pasien tidak kehilangan kepercayaan maka dalam
menjelaskan penyakitnya jangan sampai membuat pasien menjadi droop.
f.
Justice
Prinsip bahwa individu memiliki hak diperlukan setara. Contoh : merawat pasien tidak boleh melihat tingkatan
social pasien.
N. Advokasi :
a.
Memberikan penjelasan yang sesuai dengan penyakitnya,
apabila pasien kurang mengerti pejelasan yang diberikan oleh dokter.
b. Memberikan
dukungan moral, agar klien lebih memiliki semangat untuk sembuh.
c. Membeikanr
penjelasan mengenai perawatan dan pengobatan yang harus pasien dapatkan agar
cepat sembuh.
O. ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian.
• Anamnesa.
• Insiden
hidrosefalus: 5,8 per 10.000 kelahiran hidup
o
Hidrosefalus dengan spinabifida terdapat kira-kira 3-4 per 1000
kelahiran hidup
o Type hidrosefalus
obstruksi terdapat 99 % kasus pada anak-anak.
• Riwayat
kesehatan masa lalu: o Terutama adanya
riwayat luka/trauma kepala atau infeksi serebral
• Riwayat
kehamilan dan persalinan : o Kelahiran yang
prematur o Neonatal meningitis o
Perdarahan subaracnoid o Infeksi intra
uterin o Perdarahan perinatal,
trauma/cidera persalinan.
Pemeriksaan
Fisik
o
Biasanya adanya myelomeningocele, pengukuran lingkar kepala
( Occipitifrontal ) o Pada
hidrosefalus didapatkan :
§
Tanda-tanda awal:
§
Mata juling Sakit
kepala
§
Lekas marah
§
Lesu
§
Menangis jika digendong dan diam bila berbaring
§
Mual dan muntah yang proyektil
§
Melihat kembar
§
Ataksia
§
Perkembangan yang berlangsung lambat
§
Pupil edema
§
Respon pupil terhadap cahaya lambat dan tidak
sama
§
Biasanya diikuti: perubahan tingkat kesadaran,
opistotonus dan spastik pada ekstremitas bawah
§
Kesulitan dalam pemberian makanan dan menelan
§
Gangguan cardio pulmoner
§
Tanda-tanda selanjutnya:
§
Nyeri kepala diikuti dengan muntah-muntah
§
Pupil edema
§
Strabismus
§
Peningkatan tekanan darah
§
Denyut nadi lambat
§
Gangguan respirasi
§
Kejang
§
Letargi
§
Muntah
§
Tanda-tanda ekstrapiramidal/ataksia
§
Lekas marah
§
Lesu
§
Apatis
§
Kebingungan
§
Sering kali inkoheren
§
Kebutaaan
Diagnosa
keperawatan, Intervensi dan Rasional.
|
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan & Kriteria
Hasil
|
|
Intervensi
|
|
Rasional
|
|
1
|
Risiko perubahan
integritas kulit b/d ketidakmampuan
bayi da-lam mengerakan kepala akibat pe-ningkatan ukuran dan
|
Tidak terjadi gangguan integritas kulit.
Kriteria:
Kulit utuh, ber-sih dan kering.
|
•
•
|
Kaji kulit kepala setiap 2 jam dan monitor terhadap
area yang tertekan
Ubah posisi tiap 2
jam dapat dipertimbangkan untuk mengubah poisisi kepala
|
•
•
|
Untuk memantau keadaan integumen kulit secara dini.
Untuk meningkatkan
|
|
|
berat kepala
|
|
|
setiap jam.
|
|
|
|
|
|
|
•
•
•
|
Hindari tidak adanya linen pada tempat tidur
Baringkan kepala pada bantal karet busa atau menggunakan
tempat tidur air
jika mungkin. Berikan nutrisi sesuai kebutuhan.
|
•
•
|
sirkulasi kulit.
Linen dapat menyerap keringat
sehingga kulit tetap kering Untuk mengurangi tekanan yang menyebabkan stres
mekanik.
|
|
|
|
|
|
|
•
|
Jaringan mudah
nekrosis bila kalori dan protein kurang.
|
|
2
|
Perubahan fungsi keluarga b/d
situasi krisis (anak dalam catat fisik)
|
Keluarga menerima keadaan anaknya, mampu menjelaskan
keadaan penderita.
Kriteria:
• Keluarga
berpartisipasi dalam
|
•
•
|
Jelaskan secara
rinci tentang kon-disi klien, prosedur terapi dan prognosanya. Ulangi
penjelasan tersebut bila perlu dengan contoh bila keluarga belum
|
•
•
|
Pengetahuan dapat
mempersiapkan keluarga dalam merawat penderita. Keluarga dapat menerima
seluruh informasi agar tidak
|
|
|
|
merawat anaknya
•
Secara verbal keluarga da-pat
mengerti tentang penyakit anaknya.
|
•
•
|
mengerti
Klarifikasi kesalahan asumsi dan
misinterpretasi
Berikan kesempatan
keluarga untuk bertanya
|
•
•
|
menimbulkan salah persepsi Untuk menghindari salah
persepsi
Keluarga dapat
mengemukakan pe-rasaannya
|
|
3
|
Resiko tinggi terjadi cidera b/d
peningkatan tekanan intra kranial
|
Tidak terjadi peningkatan TIK Kriteria:
Tanda vital da-lam batas nor-mal,
pola nafas efektif, reflek cahaya
positif, tidak tejadi
gangguan kesadaran,
tidak muntah dan ti-dak
kejang.
|
•
•
•
•
•
•
|
Observasi
ketat tanda-tanda peningkatan TIK
Tentukan skala coma
Hindari pemasangan infus di kepala
Hindari sedasi
Jangan sekalikali
memijat atau
|
•
•
•
•
•
|
Untuk mengetahui secara dini peningkatan TIK
Penurunan kesadar-an menandakakan adanya peningkatan TIK Mencegah
terjadi infeksi sistemik Tingkat
kesadaran merupakan indika-tor peningkatan TIK Dapat mengakibat-kan sumbatan
|
|
|
|
|
•
|
memompa shunt untuk memeriksa fungsinya
Ajari keluarga
mengenai tandatanda peningkatan TIK
|
•
|
sehing-ga terjadi pening-katan CSS atau obtruksi
pada ujung kateter di peritonial.
Keluarga dapat
ber-patisipasi dalam perawatan klien anak hidrosefalus.
|
P. PENKES
SATUAN ACARA PENYULUHAN
( SAP )
|
Tema
|
: Penyakit
Hidrosefalus
|
|
Sub Tema
|
: Pengetahuan
tentang penyakit Hidrosefalus
|
|
Sasaran
|
: Keluarga Tn. D
|
|
Tempat
|
: Di rumah sakit
|
|
Hari/Tanggal
|
: Senin, 17 Desember 2012
|
|
Waktu
|
: 30 Menit
|
A. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30
menit, diharapkan Keluarga Tn. D dapat mengetahui tentang penyakit
Hidrosefalus.
B. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti
penyuluhan selama 30 menit, diharapkan Keluarga Klien Dapat:
•
Menjelaskan pengertian tentang penyakit
Hidrosefalus.
•
Menyebutkan penyebab yang dapat menimbulkan
penyakit Hidrosefalus.
•
Menyebutkan tanda/gejala tentang penyakit
Hidrosefalus.
•
Menjelaskan penatalaksanaan penyakit
Hidrosefalus.
C. Materi
1. pengertian
tentang penyakit Hidrosefalus.
2. Penyebab
penyakit Hidrosefalus
3. Tanda
dan gejala penyakit Hidrosefalus.
4. Penatalaksanaan
penyakit Hidrosefalus.
D. Metode
1.
Ceramah
2. Tanya
jawab
E. Kegiatan Penyuluhan
|
No
|
Kegiatan
|
Penyuluh
|
Peserta
|
Waktu
|
|
1.
|
Pembukaan
|
•
Salam pembuka
•
Menyampaikan
tujuan
penyuluhan
|
•
Menjawab salam
•
Menyimak,
Mendengarkan,
Menjawab pertanyaan
|
5 Menit
|
|
2.
|
Kerja/ isi
|
Penjelasan pengertian, penyebab, gejala & penatalaksanaan
tentang penyakit Hidrosefalus
•
Memberi
kesempatan
peserta untuk bertanya
•
Menjawab
pertanyaan
• Evaluasi
|
•
Mendengarkan
dengan penuh perhatian
•
Menanyakan hal-hal yang belum jelas
•
Memperhatikan
jawaban dari penceramah
•
Menjawab pertanyaan
|
20 menit
|
|
3.
|
Penutup
|
•
Menyimpulkan
•
Salam penutup
|
•
Mendengarkan
• Menjawab salam
|
5 menit
|
F. Media
•
Leaflet : Tentang penyakit Hidrosefalus
•
Power point
G. Sumber/Referensi
•
Haws, paulette s. 2008.”Asuhan neonatal rujukan
cepat”.Jakarta: EGC
•
Subekti, nike budhi. 2007. “Buku saku managemen
masalah BBL”. Jakarta : EGC
•
Surasmi, asriningsih dkk. 2003. “Perawatan bayi
resiko tinggi”. Jakarta : EGC
H. Evaluasi
Formatif :
i.
Klien dapat menjelaskan pengertian penyakit
Hidrosefalus.
ii. Klien dapat
menyebutkan penyebab penyakit Hidrosefalus.
iii. Klien dapat menyebutkan tanda dan gejala penyakit
Hidrosefalus.
iv. Klien mampu
menjelaskan penatalaksanaan penyakit Hidrosefalus.
Sumatif
: Klien dapat mengetahui
perawatan tentang penyakit Hidrosefalus.
Jakarta ,
Oktober 2013
Penyuluh
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Beberapa type hydrocephalus berhubungan dengan kenaikan
tekanan intrakranial.
a. Hidrocephalus
Non – komunikasi (nonkommunicating hydrocephalus)
Biasanya diakibatkan obstruksi dalam system ventrikuler yang mencegah bersikulasinya CSF. Kondisi tersebut sering dijumpai pada orang lanjut usia yang berhubungan dengan malformasi congenital pada system saraf pusat atau diperoleh dari lesi (space occuping lesion) ataupun bekas luka.Pada klien dewasa dapat terjadi sebagai akibat dari obstruksi lesi pada system ventricular atau bentukan jaringan adhesi atau bekas luka didalam system di dalam system ventricular. Pada klien dengan garis sutura yag berfungsi atau pada anak – anak dibawah usia 12 – 18 bulan dengan tekanan intraranialnya tinggi mencapai ekstrim, tanda – tanda dan gejala – gejala kenaikan ICP dapat dikenali. Pada anak – anak yang garis suturanya tidak bergabung terdapat pemisahan / separasi garis sutura dan pembesaran kepala.
Biasanya diakibatkan obstruksi dalam system ventrikuler yang mencegah bersikulasinya CSF. Kondisi tersebut sering dijumpai pada orang lanjut usia yang berhubungan dengan malformasi congenital pada system saraf pusat atau diperoleh dari lesi (space occuping lesion) ataupun bekas luka.Pada klien dewasa dapat terjadi sebagai akibat dari obstruksi lesi pada system ventricular atau bentukan jaringan adhesi atau bekas luka didalam system di dalam system ventricular. Pada klien dengan garis sutura yag berfungsi atau pada anak – anak dibawah usia 12 – 18 bulan dengan tekanan intraranialnya tinggi mencapai ekstrim, tanda – tanda dan gejala – gejala kenaikan ICP dapat dikenali. Pada anak – anak yang garis suturanya tidak bergabung terdapat pemisahan / separasi garis sutura dan pembesaran kepala.
b. Hidrosefalus
Komunikasi (Kommunicating hidrocepalus)
Jenis ini tidak terdapat obstruksi pada aliran CSF
tetapi villus arachnoid untuk mengabsorbsi CSF terdapat dalam jumlah yang
sangat sedikit atau malfungsional. Umumnya terdapat pada orang dewasa, biasanya
disebabkan karena dipenuhinya villus arachnoid dengan darah sesudah terjadinya
hemmorhage subarachnoid (klien memperkembangkan tanda dan gejala – gejala
peningkatan ICP)
c.Hidrosefalus Bertekan Normal (Normal Pressure Hidrocephalus)
Di tandai pembesaran sister basilar dan fentrikel disertai dengan kompresi jaringan serebral, dapat terjadi atrofi serebral. Tekanan intrakranial biasanya normal, gejala – gejala dan tanda – tanda lainnya meliputi ; dimentia, ataxic gait, incontinentia urine. Kelainan ini berhubungan dengan cedera kepala, hemmorhage serebral atau thrombosis, mengitis; pada beberapa kasus (Kelompok umur 60 – 70 tahun) ada kemingkinan ditemukan hubungan tersebut.
Di tandai pembesaran sister basilar dan fentrikel disertai dengan kompresi jaringan serebral, dapat terjadi atrofi serebral. Tekanan intrakranial biasanya normal, gejala – gejala dan tanda – tanda lainnya meliputi ; dimentia, ataxic gait, incontinentia urine. Kelainan ini berhubungan dengan cedera kepala, hemmorhage serebral atau thrombosis, mengitis; pada beberapa kasus (Kelompok umur 60 – 70 tahun) ada kemingkinan ditemukan hubungan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Haws, paulette s. 2008.”Asuhan neonatal rujukan
cepat”.Jakarta: EGC
Subekti, nike budhi. 2007. “Buku saku managemen
masalah BBL”. Jakarta : EGC
Surasmi, asriningsih dkk. 2003. “Perawatan bayi
resiko tinggi”. Jakarta : EGC
DeVito EE, Salmond CH, Owler BK, Sahakian BJ,
Pickard JD. 2007. Caudate structural abnormalities in idiopathic normal
pressure hydrocephalus. Acta Neurol Scand 2007: 116: pages 328–332.
Peter Paul Rickham. 2003. Obituaries. BMJ 2003:
327: 1408-doi: 10.1136/ bmj.327.7428.1408.
Ropper, Allan H. And Robert H. Brown. 2005. Adams
And Victor’s Principles Of Neurology: Eight Edition. USA.
No comments:
Post a Comment