Friday, October 18, 2013

HYDROCEPHALUS







 
AYU KRISTIANA
1110711009






PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2012-2013
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul HYDROCEPHALUS tepat pada waktunya.
            Penulisan makalah ini merupakan penugasan dari mata kuliah blok Neurobehavior. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan sarannya dalam pembuatan makalah ini dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dan membantu dalam pembuatan makalah ini, serta rekan-rekan lain yang membantu pembuatan makalah ini.
            Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca guna memberikan sifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna mengingat penulis masih tahap belajar dan oleh karna itu mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dan kekurangan di dalam penulisan makalah ini.


Jakarta,    Oktober 2013

Penyusun          








BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar belakang
Hydrocephalus telah dikenal sajak zaman Hipocrates, saat itu hydrocephalus dikenal sebagai penyebab penyakit ayan. Di saat ini dengan teknologi yang semakin berkembang maka mengakibatkan polusi didunia semakin meningkat pula yang pada akhirnya menjadi factor penyebab suatu penyakit, yang mana kehamilan merupakan keadaan yang sangat rentan terhadap penyakit yang dapat mempengaruhi janinnya, salah satunya adalah Hydrocephalus. Saat ini secara umum insidennya dapat dilaporkan sebesar tiga kasus per seribu kehamilan hidup menderita hydrocephalus. Dan hydrocephalus merupakan penyakit yang sangat memerlukan pelayanan keperawatanyangkhusus.
Hydrocephalus itu sendiri adalah akumulasi cairan serebro spinal dalam ventrikel serebral, ruang subaracnoid, ruang subdural (Suriadi dan Yuliani, 2001). Hydrocephalus dapat terjadi pada semua umur tetapi paling banyak pada bayi yang ditandai dengan membesarnya kepala melebihi ukuran normal. Meskipun banyak ditemukan pada bayi dan anak, sebenarnya hydrosephalus juga biasa terjadi pada oaran dewasa, hanya saja pada bayi gejala klinisnya tampak lebih jelas sehingga lebih mudah dideteksi dan diagnosis. Hal ini dikarenakan pada bayi ubun2nya masih terbuka, sehingga adanya penumpukan cairan otak dapat dikompensasi dengan melebarnya tulang2 tengkorak. Sedang pada orang dewasa tulang tengkorak tidak mampu lagi melebar.
2. Tujuan
2.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui berbagai hal yang berhubungan dengan hidrosefalus dan dapat merancang berbagai cara untuk mengantisipasi masalah serta dapat melakukan asuhan pada kasus hidrosefalus.
2.2 Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian anamnesa pada bayi dengan hidrosefalus
b. Menentukan diagnosa, masalah serta kebutuhan dari data yang telah dikumpulkan terhadap bayi dengan hidrosefalus
c. Menentukan antisipasi terhadap diagnosa dan masalah potensial yang ditemukan pada bayi dengan hidrosefalus
d. Melakukan tindakan segera berdasarkan data yang telah dikumpulkan terhadap bayi dengan hidrosefalus
e. Merencanakan tindakan yang akan dilakukan kepada bayi berdasarkan interpretasi data yang yang ditentukan
f. Melaksanakan tindakan yang telah direncanakan secara sistematis kepada bai dengan hidrosefalus
g. Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan kepada bayi dengan hidrosefalus

3.RUMUSAN MASALAH
1.      Apa definisi dari HYDROCEPHALUS?
2.      Apa klasifikasi dari HYDROCEPHALUS?
3.      Apa etiologi dari HYDROCEPHALUS?
4.      Bagaimana patofisiologi dari HYDROCEPHALUS ?
5.      Apa manifestasi klinis dari HYDROCEPHALUS?
6.      Apa komplikasi dari HYDROCEPHALUS?
7.      Apa saja pemeriksaan diagnostic spesifik pada HYDROCEPHALUS ?
8.      Bagaimana penatalaksanaan dari HYDROCEPHALUS ?
9.      Bagaimana asuhan keperawatan dari HYDROCEPHALUS?




HIDROSEFALUS
A. PENGERTIAN
Hidrosefalus adalah suatu keadaan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinalis, disebabkan baik oleh produksi yang berlebihan maupun gangguan absorpsi, dengan atau pernah disertai tekanan intrakanial yang meninggi sehingga terjadi pelebaran ruanganruangan tempat aliran cairan serebrospinalis.
Hidrosefalus adalah keadaan dimana terjadi akumulasi CCS yang berlebihan pada satu / lebih ventrikel dan ruang subarakhnoid.
Hidrosefalus adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinal dengan tekanan intrakranial yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ventrikel.
Hidrosefalus merupakan sindroma klinis yang progresif pada system ventrikuler cerebral dan kompresi gabungan dari jaringan-jaringan serebral selama produksi CSF berlangsung yang meningkatkan kecepatan absorbsi oleh vili arackhnoid.
Hidrocefalus adalah keadaan patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinal dengan adanya tekanan intrakranial (TIK) yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengeluarkan liguor (Depkes RI, 1989)
Hidrocefalus adalah kelebihan cairan cerebrospinalis di dalam kepala. Biasanya di dalam sistem ventrikel atau gangguan hidrodinamik cairan liguor sehingga menimbulkan peningkatan volume intravertikel (Setyanegara, 1998)
Hidrocefalus adalah keadaan patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinalis di dalam kepala (CSS) dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial yang meninggi sehingga terdapat ruangan tempat mengalirnya CSS (Ngastiyah, 1997)
Hidrocefalus adalah suatu kondisi dimana terjadi pembesaran sistem ventrikular akibat ketidakseimbangan antara produksi dan absorbsi cairan cerebrospinal (CSF: Cerebrospinal Fluid).
( Ricard & Victor,  1992)
Jadi Hidrocefalus merupakan suatu keadaan patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinalis sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya cairan cerebrospinal.
B. ANATOMI FISIOLOGI
Cairan Serebro Spinal (CSS) ditemukan di ventrikel otak dan sisterna dan ruang subarachnoid  yang mengelilingi otak dan medula spinalis. Seluruh ruangan berhubungan satu sama lain, dan  tekanan cairan diatur pada suatu tingkat yang konstan.
Fungsi Bantalan Cairan Serebrospinal
Fungsi utamanya adalah untuk melindungi sistem saraf pusat (SSP) terhadap trauma. Otak  dan cairan serebrospinal memiliki gaya berat spesifik yang kurang lebih sama (hanya berbeda sekitar 4%), sehingga otak terapung dalam cairan ini. Oleh karena itu, benturan pada kepala akan menggerakkan seluruh otak dan tengkorak secara serentak, menyebabkan tidak satu bagian pun dari otak yang berubah bentuk akibat adanya benturan tadi.
Pembentukan, Aliran dan Absorpsi Cairan Serebrospinal
Sebagian besar CSS (dua pertiga atau lebih) diproduksi di pleksus choroideus ventrikel  serebri (utamanya ventrikel lateralis). Sejumlah kecil dibentuk oleh sel ependim yang membatasi ventrikel dan membran arakhnoid dan sejumlah kecil terbentuk dari cairan yang bocor ke ruangan perivaskuler disekitar pembuluh darah otak (kebocoran sawar darah otak).
Pada orang dewasa, produksi total CSS yang normal adalah sekitar 21 mL/jam (500 mL/ hari), volume CSS total hanya sekitar 150 mL. CSS mengalir dari ventrikel lateralis melalui foramen intraventrikular (foramen Monroe) ke venrikel ketiga, lalu melewati cerebral aquaductus (aquaductus sylvii) ke venrikel keempat, dan melalui apertura medialis (foramen Magendi) dan apertura lateral (foramen Luschka) menuju ke sisterna cerebelomedular (sisterna magna). Dari sisterna cerebelomedular, CSS memasuki ruang subarakhnoid, bersirkulasi disekitar otak dan medula spinalis sebelum diabsorpsi pada granulasi arachnoid yang terdapat pada hemisfer serebral.
Sekresi Pleksus Koroideus
Pleksus koroideus adalah pertumbuhan pembuluh darah seperti kembang kol yang dilapisi oleh selapis tipis sel. Pleksus ini menjorok ke dalam kornu temporal dari setiap ventrikel lateral, bagian posteror ventrikel ketiga dan atap ventrikel keempat.
Sekresi cairan oleh pleksus koroideus terutama bergantung pada transpor aktif dari ion natrium melewati sel epitel yang membatasi bagian luar pleksus. Ion- ion natrium pada waktu  kembali akan menarik sejumlah besar ion-ion klorida, karena ion natrium yang bermuatan positif akan menarik ion klorida yang bermuatan negatif. Keduanya bersama sama meningkatkan kuantitas osmotis substansi aktif dalam cairan serebrospinal, yang kemudian segera menyebabkan osmosis air melalui membran, jadi menyertai sekresi cairan tersebut. Transpor yang kurang begitu penting memindahkan sejumlah kecil glukosa ke dalam cairan serebrospinal dan ion kalium dan bikarbonat keluar dari cairan serebrospinal ke dalam kapiler. Oleh karena itu, sifat khas dari cairan serebrospinal adalah sebagai berikut: tekanan osmotik kira-kira sama dengan plasma; konsentrasi ion natrium kira-kira sama dengan plasma; klorida kurang lebih 15% lebih besar dari plasma; kalium kira-kira 40% lebih kecil; dan glukosa kira-kira 30% lebih sedikit. Inhibitor carbonic anhidrase  (acetazolamide), kortikosteroid, spironolactone, furosemide, isoflurane dan agen vasokonstriksi untuk mengurangi produksi CSS.
Absorpsi Cairan Serebrospinal Melalui Vili Arakhnoidalis
Absorpsi CSS melibatkan translokasi cairan dari granulasi arachnoid ke dalam sinus venosus otak. Vili arakhnoidalis, secara mikroskopis adalah penonjolan seperti jari dari membran arakhnoid ke dalam dinding sinus venosus. Kumpulan besar vili-vili ini biasanya ditemukan bersama-sama, dan membentuk suatu struktur makroskopis yang disebut granulasi arakhnoid yang terlihat menonjol ke dalam sinus. Dengan menggunakan mikroskop elektron, terlihat bahwa vili ditutupi oleh sel endotel yang memiliki lubang-lubang vesikular besar yang langsung menembus badan sel. Telah dikemukakan bahwa lubang ini cukup besar untuk menyebabkan aliran yang relatif bebas dari cairan serebrospinal, molekul protein, dan bahkan partikelpartikel sebesar eritrosit dan leukosit ke dalam darah vena. Sebagian kecil diabsorpsi di nerve root sleeves dan limfatik meningen. Walaupun mekanismenya belum jelas diketahui, absorpsi CSS ini tampaknya berbanding lurus terhadap tekanan intra kranial (TIK) dan berbanding terbalik dengan tekanan vena serebral (Cerebral Venous Pressure = CVP). Karena otak dan medula spinalis sedikit disuplai oleh sistem limfatik, absorpsi melalui CSS merupakan mekanisme utama untuk mengembalikan protein perivaskuler dan interstitiil ke dalam aliran darah.
Ruang Perivaskuler dan Cairan Serebrospinal
Pembuluh darah yang mensuplai otak pertama-tama berjalan melalui sepanjang permukaan otak dan kemudian menembus ke dalam, membewa selapis pia mater, yaitu membran yang menutupi otak. Pia mater hanya melekat longgar pada pembuluh darah, sehingga terdapat sebuah ruangan, yaitu ruang perivaskuler, yang ada di antara pia mater dan setiap pembuluh darah. Oleh karena itu, ruang perivaskuler mengikuti arteri dan vena ke dalam otak sampai arteriol dan venula, tapi tidak sampa ke kapiler.
Fungsi Limfatik Ruang Perivaskuler
Sama halnya dengan di tempat lain dalam tubuh, sejumlah kecil protein keluar dari parenkim kapiler ke dalam ruang interstitiil otak, karena tidak ada pembuluh limfe dalam jaringan otak, protein ini meninggalkan jaringan terutama dengan mengalir bersama cairan yang melalui ruang perivaskuler ke dalam ruang subarakhnoid. Untuk mencapai ruang subarakhnoid, protein akan mengalir bersama cairan serebrospinal untuk diabsorpsi melalui vili arakhnoidalis ke dlam vena-vena serebral. Ruang perivaskuler, sebenarnya, merupakan sistem limfatik yang khusus untuk otak.
Selain menyalurkan cairan dan protein, ruang perivaskuler juga menyalurkan partikel asing dari otak ke dalam ruang subarakhnoid. Misalnya, ketika terjadi infeksi di otak, sel darah putih dan jaringan mati infeksius lainnya dibawa keluar melalui ruang perivaskuler.
T ekanan Cairan Serebrospinal
Tekanan normal dari sistem cairan serebrospinal ketika seseorang berbaring pada posisi horizontal, rata-rata 130 mm air (10 mmHg), meskipun dapat juga serendah 65 mm air atau setinggai 195 mm air pada orang normal.
Pengaturan Tekanan Cairan Serebsrospinal oleh Vili Arakhnoidalis  
Normalnya, tekanan cairan serebrospinal hampir seluruhnya diatur oleh absorpsi cairan melalui vili arakhnoidalis. Alasannya adalah bahwa kecepatan normal pembentukan cairan serebrospinal bersifat konstan, sehingga dalam pengaturan tekanan jarang terjadi faktor perubahan dalam pembentukan cairan. Sebaliknya, vili berfungsi seperti katup yang memungkinkan cairan dan isinya mengalir ke dalam darah dalam sinus venosus dan tidak memungkinkan aliran sebaliknya. Secara normal, kerja katup vili tersebut memungkinkan cairan serebrospinal mulai mengalir ke dalam darah ketika tekanan sekitar 1,5 mmHg lebih besar dari tekanan darah dalam sinus venosus. Kemudian, jika tekanan cairan serebrospinal masih meningkat terus, katup akan terbuka lebar, sehingga dalam keadaan normal, tekanan tersebut tidak pernah meningkat lebih dari beberapa mmHg dibanding dengan tekanan dalam sinus. Sebaliknya, dalam keadaan sakit vili tersebut kadang-kadang menjadi tersumbat oleh partikel-partikel besar, oleh fibrosis, atau bahkan oleh molekul protein plasma yang berlebihan yang bocor ke dalam cairan serebrospinal pada penyakit otak. Penghambatan seperti ini dapat menyebabkan tekanan cairan serebrospinal menjadi sangat tinggi.
Pengukuran Tekanan Cairan Serebrospinal
Prosedur yang biasa digunakan untuk mengukur tekanan cairan serebrospinal adalah sebagai berikut : Pertama, orang tersebut berbaring horizontal pada sisi tubuhnya, sehingga tekanan cairan spinal sama dengan tekanan dalam ruang tengkorak. Sebuah jarum spinal kemudian dimasukkan ke dalam kanalis spinalis lumbalis di bawah ujung terendah medula spinalis dan dihubungkan dengan sebiuah pipa kaca. Cairan spinal tersebut dibiarkan naik pada pipa kaca sampai setinggitingginya. Jika nilainya naik sampai setinggi 136 mm di atas tingkat jarum tersebut, tekanannya dikatakan 136 mm air atau, dibagi dengan 13,6 yang merupakan berat jenis air raksa, kira-kira 10 mmHg.
Fungsi Cairan serebrospinal
Cairan serebrospinal mengelilingi ruang subaraknoid di sekitar otak dan medulla spinalis. Cairan ini juga mengisi ventrikel dalam otak.
      Komposisi
Cairan serebrospinal menyerupai plasma darah dan cairan intersisial
(air,elektrolit,oksigan,karbondioksida, glukose, beberapa lekosit ( terutama limfosit ) dan sedikit protein.
      Produksi
Cairan serebrospinal dihasilkan oleh pleksus koroid yaitu jaring-jaring kapiler berbentuk bunga kol yang menonjol dari pia mater ke dalam dua ventrikel otak
      Sirkulasi
Cairan bergerak dari ventrikel lateral melalui foramen interventrikuler ( foramen munro ) menuju ventrikel ketiga otak,kemudian mengalir melalui akuaduktus serebral ( Sylvius ) menuju ventrikel keempat cairan mengalir melalui tiga lubang langit-langit ventrikel keempat kemudan bersirkulasi melalui ruang subaraknoid. Setelah mencapai ruang subaraknoid,maka cairan serebrospinal akan bersirkulasi sekitar otak dan medulla spinalis,lalu keluar menuju sistem vaskular. Sebagian besar cairan serebrospinal direabsorpsi ke dalam darah melalui struktur khusus yang dinamakan villi araknoidalis kedalam sinus vena pada dura mater dan kembali ke aliran darah tempat asal produksi cairan tersebut.
      Fungsi
Cairan serebrospinal berfungsi sebagai bantalan untuk jaringan lunak otak dan medulla spinalis,juga sebagai media pertukaran nutrien dan zat buangan antara darah dan otak serta medulla spinalis. Secara klinis cairan serebrospinal dapat diambil untuk pemeriksaan melalui prosudur pungsi lumbal , yaitu jarum berongga diinsersi ke dalam ruang subaraknoid di antara lengkung saraf vertebra lumbal ke tiga dan ke empat.
C.    PENYEBAB
Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subarackhnoid. akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya. Penyumbatan aliran CSS sering terdapat pada bayi dan anak ialah : 1) Kelaina bawaan ( kongenital )
      Stenosis aquaductus sylvii merupakan penyebab yang paling sering pada bayi/anak (60-90%) Aquaductus dapat berubah saluran yang buntu sama sekali atau abnormal ialah lebih sempit dari biasanya. Umumnya gejala Hidrocefalus terlihat sejak lahir/progresif dengan cepat pada bulan-bulan pertama setelah lahir.
      Spina bifida dan kranium bifida Biasanya berhubungan dengan sindrom ArnoldChiari akibat tertariknya medula spinalis dengan medula oblongata dan cerebelum, letaknya lebih rendah dan menutupi foramen magnum sehingga terjadi penyumbatan sebagian/total.
      Syndrom Dandy-Walker Merupakan atresia congenital foramen luscha dan mengendie dengan akibat Hidrocefalus obstruktif dengan pelebran sistem ventrikel terutama ventrikel IV sehingga merupakan krista yang besar di daerah losa posterior. Kista arakhnoid dan anomali pembuluh darah
2)  Infeksi
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen. secara patologis terlihat penebalan jaringan piameter dan arakhnoid sekitar sisterna basalis dan daerah lain. penyebab lain infeksi adalah toksoplasmosis.
3)  Neoplasma
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap tempat aliran CSS.
pada anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel IV / akuaduktus sylvii bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal dari cerebelum, penyumbatan bagian depan ventrikel III disebabkan kraniofaringioma.

4)  Perdarahan
Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat menyebabkan fibrosis leptomeningfen terutama pada daerah basal otak, selain penyumbatan yang terjadi akibat organisasi dari darah itu sendiri.
D.    KLASIFIKASI
Klasifikasi hidrosefalus bergantung pada faktor yang berkaitan dengannya, berdasarkan :
       Gambaran klinis, dikenal hidrosefalus manifes ( overt hydrosefalus ) dan hidrosefalus tersembunyi ( occult hydrosefalus ).
       Waktu pembentukan, dikenal hidrosefalus kongenital dan hidrosefalus akuisita.
       Proses terbentuknya, dikenal hidrosefalus akut dan hidrosefalus kronik.
       Sirkulasi CSS, dikenal hidrosefalus komunikans dan hidrosefalus non komunikans.
Hidrosefalus interna menunjukkan adanya dilatasi vertikal, hidrosealus eksternal menunjukkan adanya pelebaran rongga subarakhnoid diatas permukaan korteks. hidrosefalus obstruktif menjabarkan kasus yang mengalami obstruksi pada aliran likuor. Berdasarkan gejala, dibagi menjadi hidrosefalus simptomatik dan asimptomatik. hidrosefalus arrasted menunjukkan keadaan dimana faktor-faktor yang menyebabkan dilatasi ventrikel pada saat tersebut sudah tidak aktif lagi. hidrosefalus ex: vacuo adalah sebutan bagi kasus ventrikulomegali yang diakibatkan atropi otak primer, yang biasanya terdapat pada orang tua.
TIPE
Menurut Ngatiyah (1997) Hidrocefalus pada bayi dapat dibagi menjadi dua yaitu
1.      Konginetal : Hidrocefalus sudah diderita sejak bayi dilahirkan
2.      Di dapat : Bayi/anak mengalaminya pada saat sudah besar dengan penyebabnya adalah penyakit-penyakit tertentu misalnya trauma kepala yang menyerang otak dan pengobatannya tidak tuntas.
Menurut Ngastiyah (1997) Hidrocefalus dapat dibagi dua yaitu:
1.      Hidrocefalus obstruksi ---> Tekanan CSS yang tinggi disebabkan oleh obstruksi pada salah satu tempat antara pembentukan oleh plexus koroidalis dan keluranya dari ventrikel IV melalui foramen lusckha dan magendie.
2.      Hidrocefalus komunikans--->Bila tekanan CSS yang meninggi tanpa penyumbatan sistem ventrikel.
E.     PATOFISIOLOGI
CSS yang dibentuk dalam sistem ventrikel oleh pleksus koroidalis kembali ke dalam peredaran darah melalui kapiler dalam piameter dan arakhnoid yang meliputi seluruh Susunan Saraf Pusat ( SSP ). Cairan likuor serebrospinalis terdapat dalam satu sistem, yakni sistem internal dan eksternal.
     Orang dewasa : jumlah normal CSS = 90 – 150 ml
     Anak umur 8-10 th : 100-140 ml
     Bayi : 40-60 ml
     Neonatus : 20-30 ml
     Prematur kecil : 10-20 ml
Hidrosefalus secara teori terjadi sebagai akibat dari 3 mekanisme, yaitu :
1)  Produksi likuor yang berlebihan
2)  Peningkatan resistensi aliran likuor
3)  Peningkatan tekanan sinus venosa
Konsekuensi 3 mekanisme di atas adalah peningkatan tekanan intrakranial sebagai upaya mempertahankan keseimbangan sekresi dan absorbsi. mekanisme terjadinya dilatasi ventrikel cukup rumit dan berlangsung berbeda-beda tiap saat selama perkembangan hidrosefalus. dilatasi ini sebagai berikut :
1)  kompresi sistem serebrovaskuler
2)  redistribusi dari likuor serebrospinalis atau cairan ekstraseluler
3)  Perubahan mekanis dari otak
4)  Efek tekanan denyut likuor serebrospinalis
5)  Hilangnya jaringan otak
6)  Pembesaran volume tengkorak karena regangan abnormal sutura kranial
Produksi likuor yang berlebihan disebabkan tumor pleksus khoroid. gangguan aliran likuor merupakan awal dari kebanyakan kasus hidrosefalus. Peningkatan resistensi yang disebabkan gangguan aliran akan meningkatkan tekanan likuor secara proporsional dalam upaya mempertahankan resorbsi yang seimbang.
Peningkatan tekanan sinus vena mempunyai 2 konsekuensi, yaitu peningkatan tekanan vena kortikal sehingga menyebabkan volume vaskuler intrakranial bertambah dan peningkatan tekanan intrakranial sampai batas yang dibutuhkan untuk mempertahankan aliran likuor terhadap tekanan sinus vena yang relatiuf tinggi.
Konsekuensi klinis dari hipertensi vena ini tergantung dari komplikasi tengkorak.
F.     TANDA DAN GEJALA
Tanda awal dan gejala hidrosefalus tergantung pada awitan dan derajat ketidakseimbangan kapasitas produksi dan resorbsi CSS. gejala yang menonjol merupakan refleks adanya hipertensi intrakranial. manifestasi klinis dari hidrosefalus pada anak dikelompokkan menjadi 2 golongan, yaitu :
a. Awitan hidrosefalus terjadi pada masa neonatus
Meliputi pembesaran kepala neonatus biasanya adalah 35-40 cm dan pertumbuhan ukuran lingkar kepala terbesar adalah selama tahuin pertama kehidupan. kranium terdistensi dalan semua arah, tetapi terutama pada daerah frontal. tampak dorsum nasi lebih dari biasa. Fontanella terbuka dan tegang, sutura masih terbuka bebas. tulang-tulang kepala menjadi sangat tipis, vena-vena disis samping kepala tampak melebar dan berkelok. b. Awitan hidrosefalus terjadi pada akhir masa kanak-kanak
Pembesaran kepala tidak bermakna, tetapi nyeri kepala sebagai manifestasi hipertensi intrakranial. Lokasi nyeri kepala tidak khas. Dapat disertai keluhan penglihatan ganda ( diplopia ) dan jarang diikuti penurunan visus. secara umum gejala yang paling umum terjadi pada pasien-pasien hidrosefalus dibawah usia 2 tahun adalah pembsaran normal. makrokrania biasanya disertai empat gejala hipertensi intrakranial lainnya, yaitu :
a)   Fontanela yang sangat tegang
b)  Sutura kranium tampak atau teraba melebar
c)   Kulit kepala livin mengkilap dan tampak vena-vena superfisial menonjol
d)  Fenomena “ matahari tenggelam “ ( sunset phenomenom )
Gejala hipertensi intrakranial lebih menonjol pada anak yang lebih besr dibandingkan denghan bayi. Gejalanya mencakup :
     Nyeri kepala
     Muntah
     Gangguan kesadaran
     Pada kasus lanjut : gejala batang otak akibat hernia tonsiler (bradikardini aritmia respirasi)
G.    PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Ø       Pemeriksaan fisik:
Pengukuran lingkaran kepala secara berkala. Pengukuran ini penting untuk melihat pembesaran kepala yang progresif atau lebih dari normal Transiluminasi Pemeriksaan darah:
Tidak ada pemeriksaan darah khusus untuk hidrosefalus Pemeriksaan cairan serebrospinal:
Analisa cairan serebrospinal pada hidrosefalus akibat perdarahan atau meningitis untuk mengetahui kadar protein dan menyingkirkan kemungkinan ada infeksi sisa
Ø       Pemeriksaan radiologi:
      X-foto kepala: tampak kranium yang membesar atau sutura yang melebar.
      USG kepala: dilakukan bila ubun-ubun besar belum menutup.
      CT Scan kepala: untuk mengetahui adanya pelebaran ventrikel dan sekaligus mengevaluasi struktur-struktur intraserebral lainnya
H.    KOMPLIKASI
1.      Peningkatan TIK
2.      Kerusakan otak
3.      Infeksi: septisemia, infeksi luka nefritis, meningitis, ventrikulitis, abses otak
4.      Emboli otak
5.      Obstruksi vena kava superior
6.      Shunt tidak berfungsi dengan baik akibat obstruksi mekanik
7.      Fisik dan intelegent kurang dari normal, gangguan penglihatan
8.      Kematian
Komplikasi Hidrocefalus menurut Prasetio (2004)
1.  Peningkatan TIK
2.  Pembesaran kepala
3.  kerusakan otak
4.  Meningitis, ventrikularis, abses abdomen
5.  Ekstremitas mengalami kelemahan, inkoordinasi, sensibilitas kulit menurun
6.  Kerusakan jaringan saraf
7.  Proses aliran darah terganggu
I.       PENATALAKSANAAN
      Farmakologis:
Mengurangi volume cairan serebrospinalis:
      Acetazolamide 25 mg/KgBB/hari PO dibagi dalam 3 dosis. Dosis dapat dinaikkan
25  mg/KgBB/hari (Maksimal 100 mg/KgBB/hari )
      Furosemide 1 mg/KgBB/hari PO dibagi dalam 3-4 dosis
Catatan: Lakukan pemeriksaan serum elektrolit secara berkala untuk mencegah terjadinya efek samping.
      Bila ada tanda-tanda infeksi, beri antibiotika sesuai kuman penyebab.
      Pembedahan:
      Bagan Penatalaksanaan Hidrosefalus Darto Saharso 2006
J.      PENCEGAHAN
      Sebelum menikah, pasangan calon pengantin harus memeriksakan kondisi kesehatannya untuk mencegah kelainan bawaan pada bayi saat hamil nanti.
      Sesudah menikah, khususnya selama masa kehamilan, harus dilakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur ke dokter agar dapat diketahui bagaimana kesehatan janin yang dikandung dan kemungkinan terjadinya hidrosefalus.
      Pada masa bayi dan balita, hidrosefalus sering terjadi akibat infeksi otak yang mengganggu peredaran cairan otak karena TBC otak atau infeksi bakteri, virus, tumor dan jamur.
      Lindungi selalu kepala anak dari cedera yang mungkin saja bisa berakibat yang membahayakan kesehatan anak.
Anda sebagai orang tua juga perlu untuk selalu memantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara teratur melalui Kartu Menuju Sehat (KMS) atau Kartu Ibu dan Anak (KIA). Lakukan pemeriksaan rutin dengan mengukur lingkar kepala setiap bulannya. Hal ini merupakan cara deteksi awal yang paling mudah dilakukan untuk mengetahui terjadinya hidrosefalus. Apabila ukuran lingkar kepala tidak berkembang sebagaimana mestinya, jangan ragu untuk memeriksanya ke dokter anak untuk segera ditindaklanjuti.
K.    PROGNOSIS
Hidrosefalus yang tidak diterapi akan menimbulkan gejala sisa, gangguan neurologis serta kecerdasan. Dari kelompok yang tidak diterapi, 50-70 % akan meninggal karena penyakitnya sendiri atau akibat infeksi berulang atau oleh karena aspirasi pneumonia. Namun bila prosesnya berhenti ( arreated hidrosefalus ) sekitar 40 % anak akan mencapai keceradasan yang normal. Pada kelompok ytang dioperasi, angka kematian adalah 7 %. Setelah operasi sekitar 51 % kasus mencapai fungsi normal dan sekitar 16 % mengalami retardasi mental ringan. Adalah penting sekali anak hiodrosefalus mendapat tindak lanjut jangka panjang dengan kelompok multidispliner.
L.     EPIDEMIOLOGI
Insidensi hidrosefalus antara 0,2-4 setiap 1000 kelahiran. Insidensi hidrosefalus kongenital adalah 0,5-1,8 pada tiap 1000 kelahiran dan 11%-43% disebabkan oleh stenosis aqueductus serebri. Tidak ada perbedaan bermakna insidensi untuk kedua jenis kelamin, juga dalam hal perbedaan ras. Hidrosefalus dapat terjadi pada semua umur. Pada remaja dan dewasa lebih sering disebabkan oleh toksoplasmosis. Hidrosefalus infantil; 46% adalah akibat abnormalitas perkembangan otak, 50% karena perdarahan subaraknoid dan meningitis, dan kurang dari 4% akibat tumor fossa posterior (Darsono, 2005:211).
M.   LEGAL-ETIK
Dalam kasus ini, peran perawat sebagai advokat harus bertanggung jawab membantu klien dan keluarganya dalam hal laporan concern atas tindakan keperawatan yang dilakukan selain itu harus mempertahankan dan melindungi hak-hak klien serba memastikan kebutuhan klien terpenuhi.
a.         Otonomi
Prinsip bahwa individu mempunyai hak menentukan diri sendiri memperoleh kebebesan dan kemandirian. Contoh : menghargai keputusan klien mengenai perawatan penyakitnya.
b.        Nonmaleficience
Prinsip ini menghinddari tindakan yang membahayakan. Bahaya dapat berarti dengan sengaja, resiko, atau tidak di sengaja membahayakan. Contoh : hati-hati dalam pemberian pengobatan harus sesuai dengan indikasi yang diberikan dokter terhadap penyakit pasien.
c.         Beheficience
Prinsip bahwa seorang perawat harus melakukan kebaikan. Perawat melakukan kebaikan dengan menginflementasi tindakan yang mengntungkan. Contoh: memberikan kebutuhan pertama dari pasien.
d.        Fidelity
Prinsip bahwa individu wajib setia terhadap komitmen atau kesepakatan dan tanggun jawab yang dimiliki. Kesetiaan yang meliputi aspek kerahasiaan/ privasi adan komitmen adanya kesesuanan antara informasi fakta. Contoh : perawat harus menjaga kerahasiaan atas penyakit decompensasi cordis yang diderita pasien terhadap orang lain.
e.         Veracity
Mengacu pada mengatakan kebenaran. Book (1992) mengatakan bahwa bohong pada orang sakit atau menjelang ajal jarang dibenarkan. Kehilangan kepercayaan kepada perawat dan kecemasan tidak mengetahui kebenaran biasanya lebih merugikan. Contoh : agar pasien tidak kehilangan kepercayaan maka dalam menjelaskan penyakitnya jangan sampai membuat pasien menjadi droop.
f.         Justice
Prinsip bahwa individu memiliki hak diperlukan setara. Contoh :  merawat pasien tidak boleh melihat tingkatan social pasien.
N.    Advokasi :
a.       Memberikan penjelasan yang sesuai dengan penyakitnya, apabila pasien kurang mengerti pejelasan yang diberikan oleh dokter.
b.      Memberikan dukungan moral, agar klien lebih memiliki semangat untuk sembuh.
c.       Membeikanr penjelasan mengenai perawatan dan pengobatan yang harus pasien dapatkan agar cepat sembuh.




O.    ASUHAN KEPERAWATAN
          Pengkajian.
       Anamnesa.
       Insiden hidrosefalus: 5,8 per 10.000 kelahiran hidup
o Hidrosefalus dengan spinabifida terdapat kira-kira 3-4 per 1000 kelahiran hidup
o Type hidrosefalus obstruksi terdapat 99 % kasus pada anak-anak.
       Riwayat kesehatan masa lalu: o Terutama adanya riwayat luka/trauma kepala atau infeksi serebral
       Riwayat kehamilan dan persalinan : o Kelahiran yang prematur o Neonatal meningitis o Perdarahan subaracnoid o Infeksi intra uterin o Perdarahan perinatal, trauma/cidera persalinan.
           Pemeriksaan Fisik
o Biasanya adanya myelomeningocele, pengukuran lingkar kepala
( Occipitifrontal ) o Pada hidrosefalus didapatkan :
§          Tanda-tanda awal:
§          Mata juling             Sakit kepala
§          Lekas marah
§          Lesu
§          Menangis jika digendong dan diam bila berbaring
§          Mual dan muntah yang proyektil
§          Melihat kembar
§          Ataksia
§          Perkembangan yang berlangsung lambat
§          Pupil edema
§          Respon pupil terhadap cahaya lambat dan tidak sama
§          Biasanya diikuti: perubahan tingkat kesadaran, opistotonus dan spastik pada ekstremitas bawah
§          Kesulitan dalam pemberian makanan dan menelan
§          Gangguan cardio pulmoner
§          Tanda-tanda selanjutnya:
§          Nyeri kepala diikuti dengan muntah-muntah
§          Pupil edema
§          Strabismus
§          Peningkatan tekanan darah
§          Denyut nadi lambat
§          Gangguan respirasi
§          Kejang
§          Letargi
§          Muntah
§          Tanda-tanda ekstrapiramidal/ataksia
§          Lekas marah
§          Lesu
§          Apatis
§          Kebingungan
§          Sering kali inkoheren
§          Kebutaaan





Diagnosa keperawatan, Intervensi dan Rasional.
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan & Kriteria
Hasil

Intervensi

Rasional
1
Risiko perubahan
integritas kulit b/d ketidakmampuan bayi da-lam mengerakan kepala akibat pe-ningkatan ukuran dan
Tidak terjadi gangguan integritas kulit.
Kriteria:
Kulit utuh, ber-sih dan kering.
                
                
Kaji kulit kepala setiap 2 jam dan monitor terhadap area yang tertekan
Ubah posisi tiap 2 jam dapat dipertimbangkan untuk mengubah poisisi kepala
                
                
Untuk memantau keadaan integumen kulit secara dini.
Untuk meningkatkan

berat kepala


setiap jam.





                
                
                
Hindari tidak adanya linen pada tempat tidur Baringkan kepala pada bantal karet busa atau menggunakan
tempat tidur air jika mungkin. Berikan nutrisi sesuai kebutuhan.
                
                
sirkulasi kulit.
Linen dapat menyerap keringat sehingga kulit tetap kering Untuk mengurangi tekanan yang menyebabkan stres mekanik.





Jaringan mudah nekrosis bila kalori dan protein kurang.
2
Perubahan fungsi keluarga b/d situasi krisis (anak dalam catat fisik)
Keluarga menerima keadaan anaknya, mampu menjelaskan keadaan penderita.
Kriteria:
Keluarga berpartisipasi dalam
                
                
Jelaskan secara rinci tentang kon-disi klien, prosedur terapi dan prognosanya. Ulangi penjelasan tersebut bila perlu dengan contoh bila keluarga belum
                
                
Pengetahuan dapat mempersiapkan keluarga dalam merawat penderita. Keluarga dapat menerima seluruh informasi agar tidak


merawat anaknya
   Secara verbal keluarga da-pat mengerti tentang penyakit anaknya.
                
                
mengerti
Klarifikasi kesalahan asumsi dan
misinterpretasi
Berikan kesempatan keluarga untuk bertanya
                
                
menimbulkan salah persepsi Untuk menghindari salah persepsi
Keluarga dapat mengemukakan pe-rasaannya
3
Resiko tinggi terjadi cidera b/d peningkatan tekanan intra kranial
Tidak terjadi peningkatan TIK Kriteria:
Tanda vital da-lam batas nor-mal, pola nafas efektif, reflek cahaya                     positif, tidak                     tejadi gangguan                  kesadaran,                     tidak muntah dan ti-dak kejang.
                
                
                
                
                
                
Observasi ketat tanda-tanda peningkatan TIK
Tentukan skala coma
Hindari pemasangan infus di kepala
Hindari sedasi
Jangan sekalikali memijat atau
                
                
                
                
                
Untuk mengetahui secara dini peningkatan TIK Penurunan kesadar-an menandakakan adanya peningkatan TIK Mencegah
terjadi infeksi sistemik Tingkat kesadaran merupakan indika-tor peningkatan TIK Dapat mengakibat-kan sumbatan



memompa shunt untuk memeriksa fungsinya
Ajari keluarga mengenai tandatanda peningkatan TIK
sehing-ga terjadi pening-katan CSS atau obtruksi pada ujung kateter di peritonial.
Keluarga dapat ber-patisipasi dalam perawatan klien anak hidrosefalus.


P. PENKES

SATUAN ACARA PENYULUHAN

( SAP )

Tema
: Penyakit Hidrosefalus
Sub Tema
: Pengetahuan  tentang penyakit Hidrosefalus
Sasaran
:  Keluarga Tn. D
Tempat
:  Di rumah sakit
Hari/Tanggal
:  Senin, 17 Desember 2012
Waktu
:  30 Menit
A.    Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit, diharapkan Keluarga Tn. D dapat mengetahui tentang penyakit Hidrosefalus.
B.     Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit, diharapkan Keluarga Klien Dapat:
        Menjelaskan pengertian tentang penyakit Hidrosefalus.
        Menyebutkan penyebab yang dapat menimbulkan penyakit Hidrosefalus.
        Menyebutkan tanda/gejala tentang penyakit Hidrosefalus.
        Menjelaskan penatalaksanaan penyakit Hidrosefalus.
C.    Materi
1.       pengertian tentang penyakit Hidrosefalus.
2.       Penyebab penyakit Hidrosefalus
3.       Tanda dan gejala penyakit Hidrosefalus.
4. Penatalaksanaan penyakit Hidrosefalus.
D.    Metode
1.      Ceramah
2.      Tanya jawab

E.     Kegiatan Penyuluhan
No
Kegiatan
Penyuluh
Peserta
Waktu
1.
Pembukaan
     Salam pembuka
     Menyampaikan tujuan
penyuluhan
     Menjawab salam
     Menyimak,
Mendengarkan,
Menjawab pertanyaan
5  Menit
2.
Kerja/ isi
Penjelasan pengertian, penyebab, gejala & penatalaksanaan tentang penyakit Hidrosefalus
     Memberi kesempatan
peserta untuk bertanya
     Menjawab pertanyaan
     Evaluasi
       Mendengarkan
dengan penuh perhatian
       Menanyakan hal-hal yang belum jelas
       Memperhatikan
jawaban dari penceramah
       Menjawab pertanyaan
20  menit
3.
Penutup
      Menyimpulkan
      Salam penutup
     Mendengarkan
     Menjawab salam
5  menit
F.     Media
        Leaflet : Tentang penyakit Hidrosefalus
        Power point
G.    Sumber/Referensi
        Haws, paulette s. 2008.”Asuhan neonatal rujukan cepat”.Jakarta: EGC
        Subekti, nike budhi. 2007. “Buku saku managemen masalah BBL”. Jakarta : EGC
        Surasmi, asriningsih dkk. 2003. “Perawatan bayi resiko tinggi”. Jakarta : EGC




H.    Evaluasi
Formatif    :
i.         Klien dapat menjelaskan pengertian penyakit Hidrosefalus.
ii. Klien dapat  menyebutkan penyebab penyakit Hidrosefalus.
iii. Klien dapat menyebutkan tanda dan gejala penyakit Hidrosefalus.
iv. Klien  mampu menjelaskan penatalaksanaan penyakit Hidrosefalus.
Sumatif   :   Klien dapat mengetahui perawatan tentang penyakit  Hidrosefalus.
Jakarta ,   Oktober 2013
                       
Penyuluh


     BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN

Beberapa type hydrocephalus berhubungan dengan kenaikan tekanan intrakranial.
a.     Hidrocephalus Non – komunikasi (nonkommunicating hydrocephalus)
Biasanya diakibatkan obstruksi dalam system ventrikuler yang mencegah bersikulasinya CSF. Kondisi tersebut sering dijumpai pada orang lanjut usia yang berhubungan dengan malformasi congenital pada system saraf pusat atau diperoleh dari lesi (space occuping lesion) ataupun bekas luka.Pada klien dewasa dapat terjadi sebagai akibat dari obstruksi lesi pada system ventricular atau bentukan jaringan adhesi atau bekas luka didalam system di dalam system ventricular. Pada klien dengan garis sutura yag berfungsi atau pada anak – anak dibawah usia 12 – 18 bulan dengan tekanan intraranialnya tinggi mencapai ekstrim, tanda – tanda dan gejala – gejala kenaikan ICP dapat dikenali. Pada anak – anak yang garis suturanya tidak bergabung terdapat pemisahan / separasi garis sutura dan pembesaran kepala.

b.     Hidrosefalus Komunikasi (Kommunicating hidrocepalus)
Jenis ini tidak terdapat obstruksi pada aliran CSF tetapi villus arachnoid untuk mengabsorbsi CSF terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit atau malfungsional. Umumnya terdapat pada orang dewasa, biasanya disebabkan karena dipenuhinya villus arachnoid dengan darah sesudah terjadinya hemmorhage subarachnoid (klien memperkembangkan tanda dan gejala – gejala peningkatan ICP)

c.Hidrosefalus Bertekan Normal (Normal Pressure Hidrocephalus)
Di tandai pembesaran sister basilar dan fentrikel disertai dengan kompresi jaringan serebral, dapat terjadi atrofi serebral. Tekanan intrakranial biasanya normal, gejala – gejala dan tanda – tanda lainnya meliputi ; dimentia, ataxic gait, incontinentia urine. Kelainan ini berhubungan dengan cedera kepala, hemmorhage serebral atau thrombosis, mengitis; pada beberapa kasus (Kelompok umur 60 – 70 tahun) ada kemingkinan ditemukan hubungan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA


Haws, paulette s. 2008.”Asuhan neonatal rujukan cepat”.Jakarta: EGC
Subekti, nike budhi. 2007. “Buku saku managemen masalah BBL”. Jakarta : EGC
Surasmi, asriningsih dkk. 2003. “Perawatan bayi resiko tinggi”. Jakarta : EGC
DeVito EE, Salmond CH, Owler BK, Sahakian BJ, Pickard JD. 2007. Caudate structural abnormalities in idiopathic normal pressure hydrocephalus. Acta Neurol Scand 2007: 116: pages 328–332.
Peter Paul Rickham. 2003. Obituaries. BMJ 2003: 327: 1408-doi: 10.1136/ bmj.327.7428.1408.
Ropper, Allan H. And Robert H. Brown. 2005. Adams And Victor’s Principles Of Neurology: Eight Edition. USA.

No comments:

Post a Comment