TUMOR OTAK
AYU
KRISTIANA
(1110711009)
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS
PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2012-2013
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Tumor Otak”, tepat pada
waktunya.
Penulisan makalah ini juga merupakan
penugasan dari mata kuliah neurobehavior. Penulis mengucapkan terima kasih
kepada dosen pembimbing dalam pembuatan makalah ini dan teman-teman yang telah
memberikan dukungan dan membantu dalam pembuatan makalah ini, serta rekan-rekan
lain yang membantu pembuatan makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca dan penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca
guna memberikan sifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna mengingat penulis masih
tahap belajar dan oleh karna itu mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dan
kekurangan di dalam penulisan makalah ini.
Jakarta, Oktober 2013
Penulis
Anatomi Fisiologi Sistem Saraf
A. Pengertian Sistem Saraf
Sistem saraf tersusun oleh
berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi. Sistern ini meliputi
sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf merupakan salah satu
sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan rangsangan dari reseptor untuk
dideteksi dan direspon oleh tubuh. Sistem saraf memungkinkan makhluk hidup
tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan
luar maupun dalam.
Sistem saraf terdiri dari jutaan sel
saraf (neuron). Fungsi sel saraf adalah mengirimkan pesan (impuls) yang berupa
rangsang atau tanggapan.
Untuk menanggapi rangsangan, ada
tiga komponen yang harus dimiliki oleh sistem saraf, yaitu:
a.
Reseptor, adalah
alat penerima rangsangan atau impuls. Pada tubuh kita yang bertindak sebagai
reseptor adalah organ indera.
b.
Penghantar
impuls, dilakukan oleh saraf itu sendiri. Saraf tersusun dari berkas serabut
penghubung (akson). Pada serabut penghubung terdapat sel-sel khusus yang
memanjang dan meluas. Sel saraf disebut neuron.
c.
Efektor, adalah
bagian yang menanggapi rangsangan yang telah diantarkan oleh penghantar impuls.
Efektor yang paling penting pada manusia adalah otot dan kelenjar.
B. Sel Saraf (Neuron)

Sistem saraf terdiri atas sel-sel
saraf yang disebut neuron. Neuron bergabung membentuk suatu jaringan untuk
mengantarkan impuls (rangsangan). Satu sel saraf tersusun dari badan sel,
dendrit, dan akson.
a. Badan sel
Badan sel saraf merupakan bagian
yang paling besar dari sel saraf Badan sel berfungsi untuk menerima rangsangan
dari dendrit dan meneruskannya ke akson. Pada badan sel saraf terdapat inti
sel, sitoplasma, mitokondria, sentrosom, badan golgi, lisosom, dan badan nisel.
Badan nisel merupakan kumpulan retikulum endoplasma tempat transportasi
sintesis protein.
b.
Dendrit
Dendrit
Dendrit adalah serabut sel saraf
pendek dan bercabang- cabang. Dendrit merupakan perluasan dari badan sel.
Dendrit berfungsi untuk menerima dan mengantarkan rangsangan ke badan sel.
c. Akson
Akson disebut neurit. Neurit adalah
serabut sel saraf panjang yang merupakan perjuluran sitoplasma badan sel. Di
dalam neurit terdapat benang-benang halus yang disebut neurofibril. Neurofibril
dibungkus oleh beberapa lapis selaput mielin yang banyak mengandung zat lemak
dan berfungsi untuk mempercepat jalannya rangsangan. Selaput mielin tersebut
dibungkus oleh sel- selsachwann yang akan membentuk suatu jaringan yang dapat
menyediakan makanan untuk neurit dan membantu pembentukan neurit. Lapisan
mielin sebelah luar disebut neurilemma yang melindungi akson dari kerusakan.
Bagian neurit ada yang tidak dibungkus oleh lapisan mielin. Bagian ini disebut
dengan nodus ranvier dan berfungsi mempercepat jalannya rangsangan.
Berdasarkan struktur dan fungsinya,
sel saraf dapat dibagi menjadi 3macam, yaitu sel saraf sensori, sel saraf
motor, dan sel saraf intermediet (asosiasi).
·
Sel saraf
sensori
Fungsi sel saraf sensori adalah menghantar
impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon) dan sumsum
belakang (medula spinalis). Ujung akson dari saraf sensori berhubungan dengan
saraf asosiasi (intermediet).
·
Sel saraf
motor
Fungsi sel saraf motor adalah
mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar yang hasilnya
berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan. Badan sel saraf motor berada di
sistem saraf pusat. Dendritnya sangat pendek berhubungan dengan akson saraf
asosiasi, sedangkan aksonnya dapat sangat panjang.
·
Sel saraf
intermediet
Sel saraf intermediet disebut juga
sel saraf asosiasi. Sel ini dapat ditemukan di dalam sistem saraf pusat dan
berfungsi menghubungkan sel saraf motor dengan sel saraf sensori atau
berhubungan dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat. Sel
saraf intermediet menerima impuls dari reseptor sensori atau sel saraf asosiasi
lainnya.
Kelompok-kelompok serabut saraf,
akson dan dendrit bergabung dalam satu selubung dan membentuk urat saraf.
Sedangkan badan sel saraf berkumpul membentuk ganglion atau simpul saraf.
C. Impuls
Impuls adalah rangsangan atau pesan yang diterima oleh
reseptor dari lingkungan luar, kemudian dibawa oleh neuron. Impuls dapat juga
dikatakan sebagai serangkaian pulsa elektrik yang menjalari serabut saraf.
Contoh rangsangan adalah sebagai berikut.
a.
Perubahan dari dingin menjadi panas.
b.
Perubahan dari tidak ada tekanan pada kulit menjadi
ada tekanan.
c.
Berbagai macam aroma yang tercium oleh hidung.
d.
Suatu benda yang menarik perhatian.
e.
Suara bising.
f.
Rasa asam, manis, asin dan pahit pada makanan.
Impuls yang diterima oleh reseptor
dan disampaikan ke efektor akan menyebabkan terjadinya gerakan atau perubahan
pada efektor.
·
Gerakan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Gerak
sadar
Gerak sadar atau gerak biasa adalah
gerak yang terjadi karena disengaja atau disadari. Impuls yang menyebabkan
gerakan ini disampaikan melalui jalan yang panjang. Bagannya adalah sebagai
berikut.
b. Gerak
refleks
Gerak refleks adalah gerak yang
tidak disengaja atau tidak disadari. Impuls yang menyebabkan gerakan ini
disampaikan melalui jalan yang sangat singkat dan tidak melewati otak. Contoh
gerak refleks adalah sebagai berikut.
a.
Terangkatnya kaki jika terinjak sesuatu
b. Gerakan
menutup kelopak mata dengan cepat jika ada benda asing yang masuk ke mata.
c. Menutup
hidung pada waktu mencium bau yang sangat busuk.
d. Gerakan
tangan menangkap benda yang tiba-tiba terjatuh.
e. Gerakan
tangan melepaskan benda yang bersuhu tinggi
Mekanisme Penghantar Impuls
Impuls dapat dihantarkan melalui
beberapa cara, di antaranya melalui sel saraf dan sinapsis.
1.
Penghantaran Impuls Melalui Sel Saraf
Penghantaran impuls baik yang berupa
rangsangan ataupun tanggapan melalui serabut saraf (akson) dapat terjadi karena
adanya perbedaan potensial listrik antara bagian luar dan bagian dalam sel.
Pada waktu sel saraf beristirahat, kutub positif terdapat di bagian luar dan
kutub negatif terdapat di bagian dalam sel saraf. Diperkirakan bahwa rangsangan
(stimulus) pada indra menyebabkan terjadinya pembalikan perbedaan potensial
listrik sesaat. Perubahan potensial ini (depolarisasi) terjadi berurutan
sepanjang serabut saraf. Kecepatan perjalanan gelombang perbedaan potensial
bervariasi antara 1 sampai dengart 120 m per detik, tergantung pada diameter
akson dan ada atau tidaknya selubung mielin.
Bila impuls telah lewat maka untuk sementara serabut saraf tidak dapat dilalui oleh impuls, karena terjadi perubahan potensial kembali seperti semula (potensial istirahat). Untuk dapat berfungsi kembali diperlukan waktu 1/500 sampai 1/1000 detik.
Bila impuls telah lewat maka untuk sementara serabut saraf tidak dapat dilalui oleh impuls, karena terjadi perubahan potensial kembali seperti semula (potensial istirahat). Untuk dapat berfungsi kembali diperlukan waktu 1/500 sampai 1/1000 detik.
Energi yang digunakan berasal dari
hasil pemapasan sel yang dilakukan oleh mitokondria dalam sel saraf.
Stimulasi yang kurang kuat atau di
bawah ambang (threshold) tidak akan menghasilkan impuls yang dapat merubah
potensial listrik. Tetapi bila kekuatannya di atas ambang maka impuls akan
dihantarkan sampai ke ujung akson. Stimulasi yang kuat dapat menimbulkan jumlah
impuls yang lebih besar pada periode waktu tertentu daripada impuls yang lemah.
2. Penghantaran
Impuls Melalui Sinapsis
Titik temu antara terminal akson
salah satu neuron dengan neuron lain dinamakan sinapsis. Setiap terminal akson
membengkak membentuk tonjolan sinapsis. Di dalam sitoplasma tonjolan sinapsis
terdapat struktur kumpulan membran kecil berisi neurotransmitter; yang disebut
vesikula sinapsis. Neuron yang berakhir pada tonjolan sinapsis disebut neuron
pra-sinapsis. Membran ujung dendrit dari sel berikutnya yang membentuk sinapsis
disebut post-sinapsis. Bila impuls sampai pada ujung neuron, maka vesikula
bergerak dan melebur dengan membran pra-sinapsis. Kemudian vesikula akan
melepaskan neurotransmitter berupa asetilkolin. Neurontransmitter adalah suatu
zat kimia yang dapat menyeberangkan impuls dari neuron pra-sinapsis ke post-sinapsis.
Neurontransmitter ada bermacam-macam misalnya asetilkolin yang terdapat di
seluruh tubuh, noradrenalin terdapat di sistem saraf simpatik, dan dopamin
serta serotonin yang terdapat di otak. Asetilkolin kemudian berdifusi melewati
celah sinapsis dan menempel pada reseptor yang terdapat pada membran
post-sinapsis. Penempelan asetilkolin pada reseptor menimbulkan impuls pada sel
saraf berikutnya. Bila asetilkolin sudah melaksanakan tugasnya maka akan
diuraikan oleh enzim asetilkolinesterase yang dihasilkan oleh membran
post-sinapsis.
Bagaimanakah penghantaran impuls
dari saraf motor ke otot? Antara saraf motor dan otot terdapat sinapsis
berbentuk cawan dengan membran pra-sinapsis dan membran post-sinapsis yang
terbentuk dari sarkolema yang mengelilingi sel otot. Prinsip kerjanya sama
dengan sinapsis saraf-saraf lainnya.
Gerak merupakan pola koordinasi yang
sangat sederhana untuk menjelaskan penghantaran impuls oleh saraf. Gerak
pada umumnya terjadi secara sadar, namun, ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari
yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu
dari reseptor, ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh
otak, kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan, dibawa oleh saraf
motor sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor.
Gerak refleks berjalan sangat cepat
dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan
kontrol dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi
kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya
berkedip, bersin, atau batuk. Pada gerak refleks, impuls melalui jalan
pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang,
kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh set saraf
penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim tanggapan ke
saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan
pintas ini disebut lengkung refleks. Gerak refleks dapat dibedakan atas refleks
otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di dalam otak, misalnya, gerak
mengedip atau mempersempit pupil bila ada sinar dan refleks sumsum tulang
belakang bila set saraf penghubung berada di dalam sumsum tulang belakang
misalnya refleks pada lutut.
D. Fungsi Sistem
Saraf
a. Untuk mengetahui kejadian atau
perubahan yang terjadi di sekitar kita, dilakukan melalui alat indera.
b. Mengendalikan tanggapan atau reaksi
terhadap rangsangan yang terjadi pada tubuh kita.
c. Mengendalikan kerja organ-organ
tubuh
E. Klasifikasi Sistem
Saraf
Susunan sistem saraf manusia
tersusun dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat
terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang. Sedangkan sistem saraf tepi
terdiri atas sistem saraf somatis dan sistem saraf otonom. mempunyai 3 materi
esensial yaitu:
·
Badan sel yang membentuk bagian materi kelabu
·
Serabut saraf yang membentuk bagian materi putih
·
Sel-sel neuroglia, yaitu jaringan ikat yang terletak
di antara sel-sel saraf di dalam sistem saraf pusat
Pada otak, materi kelabu terletak di
bagian luar atau kulitnya (korteks) dan bagian putih terletak di tengah. Pada
sumsum tulang belakang bagian tengah berupa materi kelabu berbentuk kupu-kupu,
sedangkan bagian korteks berupa materi putih.
1. Sistem
Saraf Pusat
Sistem saraf pusat meliputi otak
(ensefalon) dan sumsum tulang belakang (Medula spinalis). Keduanya merupakan
organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat penting maka perlu
perlindungan
a. Otak
Otak terdiri dari dua belahan, belahan kiri mengendalikan tubuh bagian
kanan, belahan kanan mengendalikan belahan kiri. Mempunyai permukaan yang
berlipat-lipat untuk memperluas permukaan sehingga dapat ditempati oleh banyak
saraf. Otak juga sebagai pusat penglihatan, pendengaran, kecerdasan,
ingatan, kesadaran, dan kemauan. Bagian dalamnya berwarna putih berisi
serabut saraf, bagian luarnya berwarna kelabu berisi banyak badan sel saraf.
Otak terdiri dari 3 bagian, yaitu
.
1)
Otak besar (Cerebrum)
Otak besar berasal dari Otak depan (Prosoncephalon)
berkembang menjadi telencephalon dan diencephalon. Telencephalon berkembang
menjadi otak besar (Cerebrum). Diencephalon berkembang menjadi thalamus,
hipotamus. Otak besar
mempunyai fungsi dalam pengaturan semua aktivitas mental, yaitu yang berkaitan
dengan kepandaian (intelegensi), ingatan (memori), kesadaran, dan
pertimbangan. Otak besar merupakan sumber dari semua kegiatan/gerakan
sadar atau sesuai dengan kehendak, walaupun ada juga beberapa gerakan refleks
otak. Pada bagian korteks otak besar yang berwarna kelabu terdapat bagian penerima
rangsang (area sensor) yang terletak di sebelah belakang area motor yang
berfungsi mengatur gerakan sadar atau merespon rangsangan. Selain itu terdapat
area asosiasi yang menghubungkan area motor dan sensorik. Area ini
berperan dalam proses belajar, menyimpan ingatan, membuat kesimpulan, dan
belajar berbagai bahasa. Di sekitar kedua area tersebut dalah bagian yang
mengatur kegiatan psikologi yang lebih tinggi. Misalnya bagian depan merupakan
pusat proses berfikir (yaitu mengingat, analisis, berbicara, kreativitas) dan
emosi. Pusat penglihatan terdapat di bagian belakang.
a)
Thalamus terdiri dari
sejumlah pusat syaraf dan berfungsi sebagai “tempat penerimaan untuk sementara”
sensor data dan sinyal-sinyal motorik, contohnya untuk pengiriman data dari
mata dan telinga menuju bagian yang tepat dalam korteks.
b)
Hypothalamus berfungsi
untuk mengatur nafsu makan dan syahwat dan mengatur kepentingan biologis
lainnya.
2)
Otak tengah (Mesencephalon)
Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. Di depan otak
tengah terdapat talamus dan kelenjar hipofisis yang mengatur kerja
kelenjar-kelenjar endokrin. Bagian atas (dorsal) otak tengah merupakan lobus
optikus yang mengatur refleks mata seperti penyempitan pupil mata, dan juga
merupakan pusat pendengaran. Otak tengah tidak berkembang dan tetap menjadi
otak tengah.
3)
Otak belakang (Rhombencephalon)
Otak belakang berkembang menjadi
metencephalon dan mielencephalon. Metencephalon berkembang menjadi cerebellum
dan pons varolli. Sedangkan mielencephalon berkembang menjadi medulla
oblongata.

a) Otak kecil (serebelum)
Serebelum mempunyai fungsi utama dalam
koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi
tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya maka gerakan sadar
yang normal tidak mungkin dilaksanakan.
b) Sumsum sambung (medulla oblongata)

Sumsum sambung berfungsi menghantar
impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke otak. Sumsum sambung juga
memengaruhi jembatan, refleks fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah,
volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar pencernaan.
Selain itu, sumsum sambung juga mengatur gerak refleks yang lain seperti
bersin, batuk, dan berkedip.
c) Jembatan varol (pons varoli)
Jembatan varol berisi serabut saraf
yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar
dan sumsum tulang belakang..
b. Sumsum tulang belakang (medula spinalis)
Pada penampang melintang sumsum
tulang belakang tampak bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam
berbentuk kupu-kupu dan berwarna kelabu. Pada penampang melintang sumsum tulang
belakang ada bagian seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk
dorsal dan sayap bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor
dihantar masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor
keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada
tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor)
yang akan menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor.

Is2. Sistem Saraf Perifer / Tepi
Sistem
saraf perifer adalah saraf-saraf yang berada di luar sistem saraf
pusat (otak dan sumsum ulang belakang). Sistem
saraf perifer merupakan saraf yang menyebar pada seluruh bagian tubuh
yang melayani organ-organ tubuh tertentu,seperti kulit, persendian, otot,
kelenjar, saluran darah dan lain-lain. Tidak seperti sistem saraf pusat, sistem
saraf perifer tidak dilindungi tulang. Sistem
saraf perifer disusun oleh saraf otak (saraf kranial), yaitu
saraf-saraf yang keluar dari otak, dan saraf sumsum tulang belakang (saraf
spinal), yaitu saraf-saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang.
a. Saraf
sensoris (saraf aferen) disebut juga sel saraf indera,
karena berfungsi membawa rangsangan (impuls) dari indera ke saraf pusat (otak
dan sumsum tulang belakang)
b. Saraf
motoris (saraf eferen) berfungsi membawa rangsangan
(impuls) dari pusat saraf ke otot atau kelenjar berupa respon.
• Saraf Volunter/Somatik
(disadari)
Yaitu sistem saraf yang mengatur
segala gerakan yang dilakukan secara sadar atau dibawah koordinasi saraf pusat
atau otak. Berdasarkan asalnya sistem saraf
sadar dibedakan menjadi dua yaitu: sistem saraf kepala (cranial) dan
sistem saraf tulang belakang (spinal).
• Sistem
Saraf Involunter/Otonom (Tidak Disadari)
Sistem saraf otonom mempunyai peran
dalam mengendalikan tubuh yang tidak kita sadari, seperti denyut jantung,
gerakan-gerakan pada saluran pencernaan, sekresi enzim dan keringat.
Sistem saraf otonom disusun oleh
serabut saraf yang berasal dari otak maupun dari sumsum tulang belakang dan
menuju organ yang bersangkutan. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan
masing-masing jalur membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk
ganglion. Urat saraf yang terdapat pada pangkal ganglion disebut urat saraf pra
ganglion dan yang berada pada ujung ganglion disebut urat saraf post ganglion.
Sistem saraf otonom dapat dibagi
atas sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Perbedaan struktur
antara saraf simpatik dan parasimpatik terletak pada posisi ganglion. Saraf
simpatik mempunyai ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang menempel
pada sumsum tulang belakang sehingga mempunyai urat pra ganglion pendek,
sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat pra ganglion yang panjang karena
ganglion menempel pada organ yang dibantu. Sistem saraf simpatetik dan
parasimpatetik mempunyai efek yang berlawanan (antagonis). System saraf
parasimpatetik : memperlambat denyut jantung, menurunkan tekanan darah
mempercepat gerakan-gerakan usus serta sekresi kelenjar. Sementara system saraf
simpatetik kebalikannya.
a.
Saraf Parasimpatik
• mengecilkan pupil
• mengecilkan pupil
• menstimulasi aliran ludah
• memperlambat denyut jantung
• membesarkan bronkus
• menstimulasi sekresi kelenjar
pencernaan
• mengerutkan kantung kemih
b.
Saraf Simpatik
• memperbesar pupil
• menghambat aliran ludah
• mempercepat denyut jantung
• mengecilkan bronkus
• menghambat sekresi kelenjar
pencernaan
• menghambat kontraksi kandung kemih
Sistem simpatis terdiri atas serangkaian urat kembar
yang bermuatan ganglion-ganglion. Urat-urat itu bergerak dari dasar tengkorak
yang terletak di depan kolumna vertebra, lantas berakhir dalam pelvis di depan
koksigis, sebagai ganglion koksigeus. Ganglion-ganglion itu tersusun
berpasangan dan disebarkan dari daerah-daerah berikut:
·
Daerah leher : tiga pasang ganglion
servikal
·
Daerah dada: tiga pasang ganglion
torakal
·
Daerah pinggang: empat pasang ganglion
lumbal
·
Daerah pelvis: empat pasang ganglion
sakral
·
Di depan koksigis: ganglion koksigen
Ganglion-ganglion ini bersambung erat
dengan sistem saraf pusat melalui sumsum tulang belakang, dengan mmpergunakan
cabang-cabang penghubung, yang bergerak keluar dari sumsum tulang belakang
menuju ganglion, dan dari ganglion masuk menuju sumsumtulang belakang.
Ganglion simpatis lainnya berhubungan
dengan dua rangkaian besar ganglia ini, dan bersama serabut-serabutnya
membentuk pleksus-pleksus simpatis.
1.
Pleksus kardiak terletak dekat dasar
jantung serta mengarhkan cabang-cabangnya ke situ dan keparu-paru.
2.
Pleksum seliaka terletak disebelah
belakang lambung, dan melayni organ-organ dalam rongga abdomen.
3.
Pleksus mesenterikus (pleksus
hipogatilus) terletak di depan sakrum dan melayani organ-organ dalam pelvis.
Fungsi, serabut-serabut saraf simpatis
menyarafi otot jantung, otot-otot tak sadar semua pembulu darah, serta semua
alat dalam, seperti lambung, pangkreas, dan usus.Melayani serabut motorik
sekretorik pada kelenjar keringat, serabut-serabut motorik pada otot tak sadar
dalam kulit – arektores pilorum – serta mempertahankan tonus semua otot,
termasuk tonus otot sadar.
Sistem parasimpatis.Saraf kranialotonom
adalah saraf kranial ketiga, ketujuh, kesembilan, dan kesepuluh.Saraf-saraf ini
merupakan penghubung, tempat serabu-serabut parasimpatik lewat dalam
perjalanannya kelur dari otak menuju organ-organ yang sebagian dikendalikan
olehnya.Serabut-serabut yang mencapai serabut-serabut otot sirkular pada iris
merangsang gerakan-gerakan yang menentukan ukuran pupil mata – menggunakan
saraf kranial ketiga, yaitu saraf okulo motorik.
Serabut-serabut otot motorik sekretorik
mencapai kelenjar ludah melalui saraf ketujuh, fasial, serta saraf
kesembilan,glosofaringeus.
Saraf fagus atau saraf kranial kesepuluh
adalah serabut saraf otonom terbesar.Daerah layanannya luas, serta
serabut-serabutnya disebarkan ke sejumlah besar kelenjar dan organ.Penyebaran
ini sejalan dengan penyebaran serabut simpatis.
Saraf parasimpatis sakral keluar dari
sumsum tulang belakang melalui daerah sakral. Saraf-saraf ini membentuk
urat-urat saraf pada alat-alat dalam pelvis, dan bersama saraf
simpatismembentuk pleksus yag melayani kolon,rektum, dan kandung kemih.
No.
|
Saraf Kranial
|
Komponen
|
Fungsi dan distribusi
|
1.
|
N. Olfaktorius
|
Sensorik
|
Saraf
Penciuman/Penghidung . Dimulai di hidung dan diteruskan ke bulbus
olfaktorius.
|
2.
|
N. Optikus
|
Sensorik
|
Saraf Penglihatan.
Dimulai di retina dan diteruskan le lateral genikulat tubuh.
|
3.
|
N. Okulomotorius
|
Motorik
|
Melayani
sebagian besar otot eksterna mata. Juga menghantar saraf parasimpatis ke otot
iris. Secara klinis kerusakan pada saraf ini akan mengakibatkan ptosis,
juling dan kehilangan refleks terhadap cahaya dan daya akomodasi
·
Mengangkat kelopak mata atas
·
Konstriksi pupil
Timbul pada otak
tengah dan berakhir pada otot-otot yang menggerakan mata.
|
4.
|
N. Troklearis
|
Motorik
|
Gerakan mata ke bawah
dan ke dalam
kearah sebuah otot
mata, yaitu muskulus oblikus eksterna
|
5.
|
N. Trigeminus
|
Motorik
&
Sensorik
|
Otot temporalis dan
maseter. Mempersyarafi otot-otot pengunyah dan memiliki 3 cabang saraf
sensori: oftalmik, maksila dan mandibula.
·
Kulit wajah; dua pertiga depan kulit
kepala; mukosa mata; mukosa hidung dan rongga mulut; lidah dan gigi.
·
Refleks kornea atau refleks mengedip
|
6.
|
N. Abdusens
|
Motorik
|
Deviasi mata ke lateral.
Timbul pada ons dan berakhir pada salah satu otot penggerak mata.
|
7.
|
N. Fasialis
|
Motorik
Sensorik
|
·
Otot-otot ekspresi wajah termasuk otot
dahi, sekeliling mata serta mulut.
·
Pengecapan dua pertiga depan lidah
(rasa, manis, asam, dan asin).
|
8.
|
N. Acusticus /
vestibuloklearis
|
Sensorik
|
Bercabang dari telinga
dan koklea yang dapat menghasilkan pendengaran dan keseimbangan.
|
9.
|
N. Glosofaringeus
|
Motorik
&
Sensorik
|
·
Faring : menelan, refleks muntah
·
Parotis : salivasi
·
Faring, lidah posterior, termasuk rasa
pahit.
|
10.
|
N. Vagus
|
Motorik dan Sensorik
|
Mempersyarafi saluran
pencernaan dengan mengontrol sekresi dan pergerakan (peristaltik).
|
11.
|
N. Aksesorius
|
Motorik
|
Mempersyarafi
otot-otot leher, sebagian besar faring dan palatum.
|
12.
|
N. Hipoglosus
|
Motorik
|
Mempersyarafi
pergerakan lidah.
|
B.
BAGIAN-BAGIAN ALAT INDRA DAN FUNGSINYA PADA SISTEM KOORDINASI.
Indea
berperan sebagai reseptor, yaitu bagian tubuh yang berfungsi sebagai penerima
rangsangan. Ada lima macam indera yaitu :
1. Indra penglihatan
Rangsangan berupa cahaya reseptor berupa
retina mata diteruskan ke nervus opticus sampai ke otak area sensorik pada
lobus occipitalis
2. Indra penciuman
Rangsangan berupa aroma reseptor pada
selaput lendir bagian atas rongga hidung diteruskan ke nervus olfaktorius
sampai ke otak, area di otak pada lobus temporalis.
3. Indra perasa pengecap
Rangsangan berupa cairan diterima mukosa
lidah diteruskan oleh syaraf kranial 5,7,9 ke otak area sensorik pada lobus
temporalis
4. Indra pendengaran
Rangsangan berupa getaran/gelombang
suara resptor pada telinga bagian dalam sensorik melalui syaraf ke 8 ke otak area sensorik di otak pada lobus
temporalis bagian bawah
5. Indra peraba
Rangsangan yang berupa panas, dingin, tekanan, sentuhan
dan sakit/nyeri diterima oleh kulit .
BAB III
PEMBAHASAN
A. Definisi
Tumor otak adalah suatu pertumbuhan jaringan yang abnormal di dalam otak. Yang terdiri atas Tumor otak benigna dan maligna. Tumor
otak benigna adalah pertumbuhan jaringan abnormal di dalam otak, tetapi tidak
ganas, sedangkan tumor otak maligna adalah kanker di dalam otak yang berpotensi
menyusup dan menghancurkan jaringan di sebelahnya atau yang telah menyebar (metastase)
ke otak dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah.
B. Epidemiologi
Dimana tumor otak primer tersebut kira-kira 41% adalah glioma, 17%
meningioma, 13% adenoma hipofisis dan 12% neurilemoma. Pada orang dewasa 60%
terletak supratentorial sedang pada anak 70% terletak infratentorial. Pada anak
yang paling sering ditemukan adalah tumor serebellum yaitu meduloblastoma dan
astrositoma, sedangkan pada dewasa adalah glioblastoma multiforme.
C. Klasifikasi
Klasifikasi
Samuels (1986) berdasarkan atas lokasi tumor, yaitu :
1. Tumor supratentorial
a) Hemisfer otak :
Glioma : glioblastoma multiforme, astrositoma, oligodendroglioma,
1. Tumor supratentorial
a) Hemisfer otak :
Glioma : glioblastoma multiforme, astrositoma, oligodendroglioma,
meningioma, tumor metastasis
b) Tumor struktur median : adenoma hipofisis, tumor glandula
b) Tumor struktur median : adenoma hipofisis, tumor glandula
pinealis, kraniofaringioma
2. Tumor infratentorial
Dewasa :
a) Schwannoma akustikus (neurilemmoma, neurinoma akustik)
b) Tumor metastasis
c) Meningioma
d) Hemangioblastoma (Von Hippel – Lindau)
Anak-anak :
a) Astrositoma serebelaris
b) Medulloblastoma
c) Ependimoma
d) Glioma batang otak.3
2. Tumor infratentorial
Dewasa :
a) Schwannoma akustikus (neurilemmoma, neurinoma akustik)
b) Tumor metastasis
c) Meningioma
d) Hemangioblastoma (Von Hippel – Lindau)
Anak-anak :
a) Astrositoma serebelaris
b) Medulloblastoma
c) Ependimoma
d) Glioma batang otak.3
D. Etiologi
Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti,
walaupun telah banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang
perlu ditinjau, yaitu:
1. Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali
pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada
anggota-anggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber
yang dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor
familial yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada
bukti-buakti yang kuat untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang
kuat pada neoplasma.
2. Sisa-sisa Sel
Embrional (Embryonic Cell Rest)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang
mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada
kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas
dan merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi
pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.
3. Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat
mengalami perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu
terjadinya suatu glioma. Pernah dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah
timbulnya suatu radiasi.
4. Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar
yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses
terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara
infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.
5.
Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan.
Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone,
nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan
E. Patofisiologi
Gangguan neurologik pada tumor otak biasanya
dianggap disebabkan oleh dua faktor: gangguan fokal akibat tumor dan kenaikan
tekanan intrakranial. Gangguan fokal terjadi apabila terdapat penekanan
pada jaringan otak, dan infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak
dengan kerusakan jaringan neural. Perubahan suplai darah akibat tekanan tumor
yang tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri
pada umumnya bermanifestasi sebagai hilangnya fungsi secara akut dan mungkin
dapat dikacaukan dengan gangguan serebrovaskuler primer. Serangan kejang
sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuron dihubungkan dengan kompresi,
invasi, dan perubahan suplai darah ke jaringan otak. Peningkatan ICP disebabkan
oleh : bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya edema sekitar tumor,
dan perubahah sirkulasi cairan serebrospinal. Pertumbuhan tumor akan
menyebabkan bertambahnya massa karena tumor akan mendesak ruang yang relatif
tetap pada ruangan tengkorak yang kaku. Tumor ganas menimbulkan edema dalam
jaringan otak sekitarnya. Mekanisme belum begitu dipahami, tetapi diduga
disebabkan oleh selisih osmotik yang menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena dan
edema akibat kerusakan sawar darah otak, semua menimbulkan peningkatan volume
intrakranial dan ICP. Obstruksi sirkulasi CSF dari ventrikel lateralis ke ruang
subarachnoid menimbulkan hidrosefalus.
Peningkatan ICP akan membahayakan jiwa bila terjadi cepat akibat salah
satu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya. Mekanisme kompensasi
memerlukan waktu berhari-hari atau berbulan-bulan untuk menjadi efektif
sehingga tidak berguna bila tekanan intracranial timbul cepat. Mekanisme
kompensasi ini bekerja menurunkan volume darah intracranial, volume CSF,
kandungan cairan intrasel, dan mengurangi sel-sel parenkim. Peningkatan tekanan
yang tidak diobati mengakibatkan terjadinya herniasi unkus atau serebelum.
Herniasi unkus timbul bila girus medialis lobus temporalis tergeres ke inferior
melalui incisura tentorial oleh massa dalam hemisfer otak. Herniasi
menekan mesencephalon menyebakan hilangnya kesadaran dan menekan saraf otak
ketiga. Kompresi medulla oblongata dan henti napas terjadi dengan cepat.
Perubahan fisiologi lain yang terjadi akibat peningkatan ICP yang cepat adalah
bradikardi progesif, hipertensi sistemik, dan gagal napas.
F. Gambaran klinik
Gejala klinik
pada tumor intrakranial dibagi dalam 3 kategori, yaitu :
1. Gejala
Klinik Umum
Gejala umum timbul karena peningkatan tekanan intrakranial atau akibat
infiltrasi difus dari tumor. Gejala yang paling sering adalah sakit kepala,
perubahan status mental, kejang, nyeri kepala hebat, papil edema, mual dan
muntah. Tumor maligna (ganas) menyebabkan gejala yang lebih progresif daripada
tumor benigna (jinak). Tumor pada lobus temporal depan dan frontal dapat
berkembang menjadi tumor dengan ukuran yang sangat besar tanpa menyebabkan
defisit neurologis, dan pada mulanya hanya memberikan gejala-gejala yang umum.
Tumor pada fossa posterior atau pada lobus parietal dan oksipital lebih sering
memberikan gejala fokal dulu baru kemudian memberikan gejala umum.
Nyeri Kepala
Merupakan gejala awal pada 20% penderita dengan tumor otak yang kemudian
berkembang menjadi 60%. Nyerinya tumpul dan intermitten. Nyeri kepala berat
juga sering diperhebat oleh perubahan posisi, batuk, maneuver valsava dan
aktivitas fisik. Muntah ditemukan bersama nyeri kepala pada 50% penderita.
Nyeri kepala ipsilateral pada tumor supratentorial sebanyak 80 % dan terutama
pada bagian frontal. Tumor pada fossa posterior memberikan nyeri alih ke
oksiput dan leher.
Perubahan Status Mental
Gangguan konsentrasi, cepat lupa, perubahan kepribadian, perubahan mood
dan berkurangnya inisiatif adalah gejala-gejala umum pada penderita dengan
tumor lobus frontal atau temporal. Gejala ini bertambah buruk dan jika tidak
ditangani dapat menyebabkan terjadinya somnolen hingga koma.
Seizure
Adalah gejala utama dari tumor yang perkembangannya lambat seperti
astrositoma, oligodendroglioma dan meningioma. Paling sering terjadi pada tumor
di lobus frontal baru kemudian tumor pada lobus parietal dan temporal.
Edema Papil
Gejala umum yang tidak berlangsung lama pada tumor otak, sebab dengan
teknik neuroimaging tumor dapat segera dideteksi. Edema papil pada awalnya
tidak menimbulkan gejala hilangnya kemampuan untuk melihat, tetapi edema papil
yang berkelanjutan dapat menyebabkan perluasan bintik buta, penyempitan
lapangan pandang perifer dan menyebabkan penglihatan kabur yang tidak menetap.
Muntah
Muntah sering mengindikasikan tumor yang luas dengan efek dari massa
tumor tersebut juga mengindikasikan adanya pergeseran otak. Muntah berulang
pada pagi dan malam hari, dimana muntah yang proyektil tanpa didahului mual
menambah kecurigaan adanya massa intrakranial.
2. Gejala
Klinik Lokal
Manifestasi lokal terjadi pada tumor yeng menyebabkan destruksi parenkim,
infark atau edema. Juga akibat pelepasan faktor-faktor ke daerah sekitar tumor
(contohnya : peroksidase, ion hydrogen, enzim proteolitik dan sitokin),
semuanya dapat menyebabkan disfungsi fokal yang reversibel.
Tumor Kortikal
Tumor lobus frontal menyebabkan terjadinya kejang umum yang diikuti
paralisis pos-iktal. Meningioma kompleks atau parasagital dan glioma frontal
khusus berkaitan dengan kejang. Tanda lokal tumor frontal antara lain disartri,
kelumpuhan kontralateral, dan afasia jika hemisfer dominant dipengaruhi.
Anosmia unilateral menunjukkan adanya tumor bulbus olfaktorius.
Tumor Lobus Temporalis
Gejala tumor lobus temporalis antara lain disfungsi traktus kortikospinal
kontralateral, defisit lapangan pandang homonim, perubahan kepribadian,
disfungsi memori dan kejang parsial kompleks. Tumor hemisfer dominan
menyebabkan afasia, gangguan sensoris dan berkurangnya konsentrasi yang
merupakan gejala utama tumor lobus parietal. Adapun gejala yang lain
diantaranya disfungsi traktus kortikospinal kontralateral, hemianopsia/
quadrianopsia inferior homonim kontralateral dan simple motor atau kejang
sensoris.
Tumor Lobus Oksipital
Tumor lobus oksipital sering menyebabkan hemianopsia homonym yang
kongruen. Kejang fokal lobus oksipital sering ditandai dengan persepsi kontralateral
episodic terhadap cahaya senter, warna atau pada bentuk geometri.
Tumor pada Ventrikel Tiga dan Regio Pineal
Tumor di dalam atau yang dekat dengan ventrikel tiga menghambat ventrikel
atau aquaduktus dan menyebabkan hidrosepalus. Perubahan posisi dapat
meningkatkan tekanan ventrikel sehingga terjadi sakit kepala berat pada daerah
frontal dan verteks, muntah dan kadang-kadang pingsan. Hal ini juga menyebabkan
gangguan ingatan, diabetes insipidus, amenorea, galaktorea dan gangguan
pengecapan dan pengaturan suhu.
Tumor Batang Otak
Terutama ditandai oleh disfungsi saraf kranialis, defek lapangan pandang,
nistagmus, ataksia dan kelemahan ekstremitas. Kompresi pada ventrikel empat
menyebabkan hidrosepalus obstruktif dan menimbulkan gejala-gejala umum.
Tumor Serebellar
Muntah berulang dan sakit kepala di bagian oksiput merupakan gejala yang
sering ditemukan pada tumor serebellar. Pusing, vertigo dan nistagmus mungkin
menonjol.
3. Gejala
Lokal yang Menyesatkan (False Localizing Features)
Gejala lokal yang menyesatkan ini melibatkan neuroaksis kecil dari lokasi
tumor yang sebenarnya. Sering disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial,
pergeseran dari struktur-struktur intrakranial atau iskemi. Kelumpuhan nervus
VI berkembang ketika terjadi peningkatan tekanan intrakranial yang menyebabkan
kompresi saraf. Tumor lobus frontal yang difus atau tumor pada korpus kallosum
menyebabkan ataksia (frontal ataksia).
G. Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis pada penderita yang dicurigai menderita tumor
otak yaitu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik neurologik yang teliti,
adapun pemeriksaan penunjang yang dapat membantu yaitu CT-Scan dan MRI. Dari
anamnesis kita dapat mengetahui gejala-gejala yang dirasakan oleh penderita
yang mungkin sesuai dengan gejala-gejala yang telah diuraikan di atas. Misalnya
ada tidaknya nyeri kepala, muntah dan kejang. Sedangkan melalui pemeriksaan
fisik neurologik mungkin ditemukan adanya gejala seperti edema papil dan
deficit lapangan pandang.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
1. CT scan dan
MRI
Memperlihatkan semua tumor intrakranial dan menjadi
prosedur investigasi awal ketika penderita menunjukkan gejala yang progresif
atau tanda-tanda penyakit otak yang difus atau fokal, atau salah satu tanda
spesifik dari sindrom atau gejala-gejala tumor. Kadang sulit membedakan tumor
dari abses ataupun proses lainnya.
2. Foto polos dada
Dilakukan untuk mengetahui apakah tumornya berasal
dari suatu metastasis yang akan memberikan gambaran nodul tunggal ataupun
multiple pada otak.
3. Pemeriksaan cairan
serebrospinal
Dilakukan untuk melihat adanya sel-sel tumor dan juga
marker tumor. Tetapi pe`meriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama pada
pasien dengan massa di otak yang besar. Umumnya diagnosis histologik ditegakkan
melalui pemeriksaan patologi anatomi, sebagai cara yang tepat untuk membedakan
tumor dengan proses-proses infeksi (abses cerebri).
4. Biopsi
stereotaktik
Dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor
yang dalam dan untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi prognosis.
5. Angiografi
Serebral
Memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak
tumor serebral.
6. Elektroensefalogram
(EEG)
Mendeteksi gelombang otak abnormalpada daerah yang
ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada
waktu kejang.
H. Terapi
Jika memungkinkan, maka tumor diangkat melalui pembedahan. Pembedahan kadang menyebabkan kerusakan otak yang bisa menimbulkan kelumpuhan parsial, perubahan rasa, kelemahan dan gangguan intelektual. Tetapi pembedahan harus dilakukan jika pertumbuhannya mengancam struktur otak yang penting. Meskipun pengangkatan tumor tidak dapat menyembuhkan kanker, tetapi bisa mengurangi ukuran tumor, meringankan gejala dan membantu menentukan jenis tumor serta pengobatan lainnya.
Beberapa tumor jinak harus diangkat melalui pembedahan
karena mereka terus tumbuh di dalam rongga sempit dan bisa menyebabkan
kerusakan yang lebih parah atau kematian.
Meningioma, schwannoma dan ependimoma biasanya diangkat melalui pembedahan. Setelah pembedahan kadang dilakukan terapi penyinaran untuk menghancurkan sel-sel tumor yangt ersisa. Tumor ganas diobati dengan pembedahan, terapi penyinaran dan kemoterapi. Terapi penyinaran dimulai setelah sebanyak mungkin bagian tumor diangkat melalui pembedahan. Terapi penyinaran tidak dapat menyembuhkan tumor, tetapi membantu memperkecil ukuran tumor sehingga tumor dapat dikendalikan.
Meningioma, schwannoma dan ependimoma biasanya diangkat melalui pembedahan. Setelah pembedahan kadang dilakukan terapi penyinaran untuk menghancurkan sel-sel tumor yangt ersisa. Tumor ganas diobati dengan pembedahan, terapi penyinaran dan kemoterapi. Terapi penyinaran dimulai setelah sebanyak mungkin bagian tumor diangkat melalui pembedahan. Terapi penyinaran tidak dapat menyembuhkan tumor, tetapi membantu memperkecil ukuran tumor sehingga tumor dapat dikendalikan.
Kemoterapi digunakan untuk mengobati beberapa jenis kanker
otak.
Kanker otak primer maupun kanker otak metastatik memberikan respon yang baik terhadap kemoterapi.
Jika terjadi peningkatan tekanan di dalam otak, diberikan suntikan mannitol dan kortikosteroid untuk mengurangi tekanan dan mencegah herniasi. Pengobatan kanker metastatik tergantung kepada sumber kankernya. Sering dilakukan terapi penyinaran. Jika penyebarannya hanya satu area, maka bisa dilakukanpembedahan.
Kanker otak primer maupun kanker otak metastatik memberikan respon yang baik terhadap kemoterapi.
Jika terjadi peningkatan tekanan di dalam otak, diberikan suntikan mannitol dan kortikosteroid untuk mengurangi tekanan dan mencegah herniasi. Pengobatan kanker metastatik tergantung kepada sumber kankernya. Sering dilakukan terapi penyinaran. Jika penyebarannya hanya satu area, maka bisa dilakukanpembedahan.
Pemilihan jenis terapi pada tumor otak tergantung pada beberapa faktor,
antara lain kondisi umum penderita, tersedianya alat yang lengkap, pengertian
penderita dan keluarganya, luasnya metastasis. adapun terapi yang
dilakukan, meliputi terapi steroid, pembedahan, radioterapi dan kemoterapi.
Terapi Steroid
Steroid secara dramatis mengurangi edema sekeliling tumor intrakranial,
namun tidak berefek langsung terhadap tumor.
Pembedahan
Pembedahan adalah pengobatan yang paling umum untuk tumor otak. Tujuannya
adalah untuk mengangkat sebanyak tumornya dan meminimalisir sebisa mungkin
peluang kehilangan fungsi otak.
Operasi untuk membuka tulang tengkorak disebut kraniotomi. Hal ini dilakukan dengan anestesi umum. Sebelum operasi dimulai, rambut kepala dicukur. Ahli bedah kemudian membuat sayatan di kulit kepala menggunakan sejenis gergaji khusus untuk mengangkat sepotong tulang dari tengkorak. Setelah menghapus sebagian atau seluruh tumor, ahli bedah menutup kembali bukaan tersebut dengan potongan tulang tadi, sepotong metal atau bahan. Ahli bedah kemudian menutup sayatan di kulit kepala. Beberapa ahli bedah dapat menggunakan saluran yang ditempatkan di bawah kulit kepala selama satu atau dua hari setelah operasi untuk meminimalkan akumulasi darah atau cairan.
Efek samping yang mungkin timbul pasca operasi pembedahan tumor otak adalah sakit kepala atau rasa tidak nyaman selama beberapa hari pertama setelah operasi. Dalam hal ini dapat diberikan obat sakit kepala.
Operasi untuk membuka tulang tengkorak disebut kraniotomi. Hal ini dilakukan dengan anestesi umum. Sebelum operasi dimulai, rambut kepala dicukur. Ahli bedah kemudian membuat sayatan di kulit kepala menggunakan sejenis gergaji khusus untuk mengangkat sepotong tulang dari tengkorak. Setelah menghapus sebagian atau seluruh tumor, ahli bedah menutup kembali bukaan tersebut dengan potongan tulang tadi, sepotong metal atau bahan. Ahli bedah kemudian menutup sayatan di kulit kepala. Beberapa ahli bedah dapat menggunakan saluran yang ditempatkan di bawah kulit kepala selama satu atau dua hari setelah operasi untuk meminimalkan akumulasi darah atau cairan.
Efek samping yang mungkin timbul pasca operasi pembedahan tumor otak adalah sakit kepala atau rasa tidak nyaman selama beberapa hari pertama setelah operasi. Dalam hal ini dapat diberikan obat sakit kepala.
Masalah lain yang kurang umum yang
dapat terjadi adalah menumpuknya cairan cerebrospinal di otak yang
mengakibatkan pembengkakan otak (edema). Biasanya pasien diberikan steroid
untuk meringankan pembengkakan. Sebuah operasi kedua mungkin diperlukan untuk
mengalirkan cairan. Dokter bedah dapat menempatkan sebuah tabung, panjang dan
tipis (shunt) dalam ventrikel otak. Tabung ini diletakkan di bawah kulit ke bagian
lain dari tubuh, biasanya perut. Kelebihan cairan dari otak dialirkan ke perut.
Kadang-kadang cairan dialirkan ke jantung sebagai gantinya.
Infeksi adalah masalah lain yang dapat berkembang setelah operasi (diobati dengan antibiotic).
Operasi otak dapat merusak jaringan normal. kerusakan otak bisa menjadi masalah serius. Pasien mungkin memiliki masalah berpikir, melihat, atau berbicara. Pasien juga mungkin mengalami perubahan kepribadian atau kejang. Sebagian besar masalah ini berkurang dengan berlalunya waktu. Tetapi kadang-kadang kerusakan otak bisa permanen. Pasien mungkin memerlukan terapi fisik, terapi bicara, atau terapi kerja.
Infeksi adalah masalah lain yang dapat berkembang setelah operasi (diobati dengan antibiotic).
Operasi otak dapat merusak jaringan normal. kerusakan otak bisa menjadi masalah serius. Pasien mungkin memiliki masalah berpikir, melihat, atau berbicara. Pasien juga mungkin mengalami perubahan kepribadian atau kejang. Sebagian besar masalah ini berkurang dengan berlalunya waktu. Tetapi kadang-kadang kerusakan otak bisa permanen. Pasien mungkin memerlukan terapi fisik, terapi bicara, atau terapi kerja.
Radiosurgery stereotactic adalah tehnik "knifeless" yang lebih
baru untuk menghancurkan tumor otak tanpa membuka tengkorak. CT scan atau MRI
digunakan untuk menentukan lokasi yang tepat dari tumor di otak. Energi radiasi
tingkat tinggi diarahkan ke tumornya dari berbagai sudut untuk menghancurkan
tumornya. Alatnya bervariasi, mulai dari penggunaan pisau gamma, atau
akselerator linier dengan foton, ataupun sinar proton.
Kelebihan dari prosedur knifeless ini adalah memperkecil kemungkinan
komplikasi pada pasien dan memperpendek waktu pemulihan. Kekurangannya adalah
tidak adanya sample jaringan tumor yang dapat diteliti lebih lanjut oleh ahli
patologi, serta pembengkakan otak yang dapat terjadi setelah radioterapi.
Kadang-kadang operasi tidak dimungkinkan. Jika tumor terjadi di batang otak
(brainstem) atau daerah-daerah tertentu lainnya, ahli bedah tidak mungkin dapat
mengangkat tumor tanpa merusak jaringan otak normal. Dalam hal ini pasien dapat
menerima radioterapi atau perawatan lainnya.
Radioterapi
Tumor diterapi melalui radioterapi konvensional dengan radiasi total
sebesar 5000-6000 cGy tiap fraksi dalam beberapa arah. Kegunaan dari
radioterapi hiperfraksi ini didasarkan pada alasan bahwa sel-sel normal lebih
mampu memperbaiki kerusakan subletal dibandingkan sel-sel tumor dengan dosis
tersebut. Radioterapi akan lebih efisien jika dikombinasikan dengan kemoterapi
intensif.
Kemoterapi
Jika tumor tersebut tidak dapat disembuhkan dengan pembedahan, kemoterapi
tetap diperlukan sebagai terapi tambahan dengan metode yang beragam. Pada
tumor-tumor tertentu seperti meduloblastoma dan astrositoma stadium tinggi yang
meluas ke batang otak, terapi tambahan berupa kemoterapi dan regimen
radioterapi dapat membantu sebagai terapi paliatif.
I. Prognosis
Meskipun diobati, hanya sekitar 25% penderita kanker otak
yang bertahan hidup setelah 2 tahun. Prognosis yang lebih baik ditemukan pada
astrositoma dan oligodendroglioma, dimana kanker biasanya tidak kambuh dalam
waktu 3-5 tahun setelah pengobatan. Sekitar 50% penderita meduloblastoma yang
diobati bertahan hidup lebih dari 5 tahun.
Pengobatan untuk kanker otak lebih
efektif dilakukan pada:
- penderita yang berusia dibawah 45 tahun
- penderita astrositoma anaplastik
- penderita yang sebagian atau hampir seluruh tumornya telah diangkat melalui pembedahan.
- penderita astrositoma anaplastik
- penderita yang sebagian atau hampir seluruh tumornya telah diangkat melalui pembedahan.
Berdasarkan data di Negara-negara maju, dengan diagnosis dini dan juga
penanganan yang tepat melalui pembedahan dilanjutkan dengan radioterapi, angka
ketahanan hidup 5 tahun (5 years survival) berkisar 50-60% dan angka
ketahanan hidup 10 tahaun (10 years survival) berkisar 30-40%. Terapi
tumor otak di Indonesia secara umum prognosisnya masih buruk, berdasarkan
tindakan operatif yang dilakukan pada beberapa rumah sakit di Jakarta. 2
Meskipun diobati, hanya sekitar 25% penderita kanker otak yang bertahan
hidup setelah 2 tahun. Prognosis yang lebih baik ditemukan pada astrositoma dan
oligodendroglioma, dimana kanker biasanya tidak kambuh dalam waktu 3-5 tahun
setelah pengobatan. Sekitar 50% penderita meduloblastoma yang diobati bertahan
hidup lebih dari 5 tahun. Pengobatan untuk kanker otak lebih efektif dilakukan
pada:
penderita yang berusia dibawah 45 tahun
- penderita astrositoma anaplastik
- penderita yang sebagian atau hampir seluruh tumornya telah diangkat melalui
- penderita astrositoma anaplastik
- penderita yang sebagian atau hampir seluruh tumornya telah diangkat melalui
pembedahan.
J. Komplikasi
1. Edema Serebral
Peningkatan cairan otak yang berlebih yang menumpuk
disekitar lesi sehingga menambah efek masa yang mendesak (space-occupying).
Edema Serebri dapat terjadi ekstrasel (vasogenik) atau intrasel (sitotoksik)
2. Hidrosefalus
Peningkatan intracranial yang disebabkan oleh
ekspansin massa dalam rongga cranium yang tertutup dapat di eksaserbasi jika
terjadi obstruksi pada aliran cairan serebrospinal akibat massa.
3. Herniasi Otak
4. Peningkatan
intracranial yang terdiri dari herniasi sentra, unkus, dan singuli.
5. Epilepsi
6. Metastase
ketempat lain
BAB III
ASUHAN
KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
3.1.1 Data Demografi
Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya:
nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin,
status perkawinan, dan penanggung biaya.
3.1.2 Riwayat Sakit dan
Kesehatan
1. Keluhan utama
Biasanya klien mengeluh nyeri
kepala
1. Riwayat penyakit saat ini
Klien mengeluh nyeri
kepala, muntah, papiledema, penurunan tingkat kesadaran, penurunan penglihatan
atau penglihatan double, ketidakmampuan sensasi (parathesia atau anasthesia),
hilangnya ketajaman atau diplopia.
1. Riwayat penyakit dahulu
Klien pernah mengalami
pembedahan kepala
1. Riwayat penyakit keluarga
Adakah penyakit yang
diderita oleh anggota keluarga yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit
klien sekarang, yaitu riwayat keluarga dengan tumor kepala.
1. Pengkajian
psiko-sosio-spirituab
Perubahan kepribadian
dan perilaku klien, perubahan mental, kesulitan mengambil keputusan, kecemasan
dan ketakutan hospitalisasi, diagnostic test dan prosedur pembedahan, adanya
perubahan peran.
3.1.3 Pemeriksaan Fisik ( ROS
: Review of System )
Pemeriksaan fisik pada klien dengan tomor otak
meliputi pemeriksaan fisik umum per system dari observasi keadaan umum,
pemeriksaan tanda-tanda vital, B1 (breathing), B2 (Blood), B3 (Brain), B4
(Bladder), B5 (Bowel), dan B6 (Bone).
1. Pernafasan B1 (breath)
2. Bentuk dada : normal
3. Pola napas : tidak
teratur
4. Suara napas : normal
5. Sesak napas : ya
6. Batuk : tidak
7. Retraksi otot bantu napas ;
ya
8. Alat bantu pernapasan : ya
(O2 2 lpm)
9. Kardiovaskular B2 (blood)
10. Irama jantung : irregular
11. Nyeri dada : tidak
12. Bunyi jantung ; normal
13. Akral : hangat
14. Nadi : Bradikardi
15. Tekanana darah Meningkat
16. Persyarafan B3 (brain)
17. Penglihatan (mata) :
Penurunan penglihatan, hilangnya ketajaman atau diplopia.
18. Pendengaran (telinga): Terganggu bila
mengenai lobus temporal
19. Penciuman (hidung) : Mengeluh bau yang
tidak biasanya, pada lobus frontal
20. Pengecapan (lidah) :
Ketidakmampuan sensasi (parathesia atau anasthesia)
1. Afasia
: Kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif atau kesulitan
berkata-kata, reseotif atau berkata-kata komprehensif, maupun kombinasi dari
keduanya.
2. Ekstremitas
: Kelemahan atau paraliysis genggaman tangan tidak seimbang, berkurangnya
reflex tendon.
3. GCS
: Skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien, (apakah pasien
dalam kondisi koma atau tidak) dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan
yang diberikan.
Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score)
dengan rentang angka 1– 6 tergantung responnya yaitu :
a. Eye (respon membuka mata)
(4) : Spontan
(3) : Dengan rangsang suara (suruh pasien membuka
mata).
(2) : Dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri,
misalnya menekan kuku jari)
(1) : Tidak ada respon
b. Verbal (respon verbal)
(5) : Orientasi baik
(4) : Bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya
berulang-ulang ) disorientasi tempat dan waktu.
(3) : Kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi
kata-kata masih jelas, namun tidak dalam satu kalimat. Misalnya “aduh…,
bapak…”)
(2) : Suara tanpa arti (mengerang)
(1) : Tidak ada respon
c. Motor (respon motorik)
(6) : Mengikuti perintah
(5) : Melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan
stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(4) : Withdraws (menghindar / menarik extremitas atau
tubuh menjauhi stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(3) : Flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi
kaku diatas dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(2) : Extensi abnormal (tangan satu atau keduanya
extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi
rangsang nyeri).
(1) : Tidak ada respon
1. Perkemihan B4 (bladder)
1. Kebersihan : bersih
2. Bentuk alat kelamin :
normal
3. Uretra : normal
4. Produksi urin: normal
5. Pencernaan B5 (bowel)
1. Nafsu makan : menurun
2. Porsi makan : setengah
3. Mulut : bersih
4. Mukosa : lembap
5. Muskuloskeletal/integument
B6 (bone)
1. Kemampuan pergerakan sendi
: bebas
2. Kondisi tubuh: kelelahan
3.2 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan
peningkatan tekanan intrakranial.
2. Ketidakefektifan pola nafas
berhubungan dengan penekanan medula oblongata.
3. Perubahan perfusi jaringan
serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial, pembedahan tumor,
edema serebri.
4. Resiko cedera berhubungan
dengan vertigo sekunder terhadap hipotensi ortostatik.
5. Gangguan komunikasi verbal
berhubungan dengan efek afasia pada ekspresi atau interpretasi.
6. Resiko gangguan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan efek kemoterapi dan radioterapi.
7. Gangguan persepsi sensori
visual berhubungan dengan aneurisma.
8. Gangguan persepsi sensori
penghidu berhubungan dengan aneurisma.
9. Gangguan rasa nyaman
berhubungan dengan nyeri akibat tidak mampu menggerakan leher.
3.3 Intervensi Keperawatan
1.
1. Nyeri berhubungan
dengan peningkatan tekanan intrakranial.
Tujuan
: Nyeri yang dirasakan berkurang`1 atau dapat diadaptasi oleh klien
Kriteria hasil :
1. Klien mengungkapkan nyeri
yang dirasakan berkurang atau dapat diadaptasi ditunjukkan penurunan skala
nyeri. Skala = 2
2. Klien tidak merasa
kesakitan.
3. Klien tidak gelisah
Intervensi
Rasional
1.
Kaji keluhan nyeri: intensitas,
karakteristik, lokasi, lamanya, faktor yang memperburuk dan meredakan.
1.
Instruksikan pasien/keluarga
untuk melaporkan nyeri dengan segera jika nyeri timbul.
2.
Berikan kompres dingin pada
kepala.
1.
Mengajarkan tehnik
relaksasi dan metode distraksi
1.
Kolaborasi pemberian analgesic.
1.
Observasi adanya tanda-tanda
nyeri non verbal seperti ekspresi wajah, gelisah, menangis/meringis,
perubahan tanda vital.
2.
Nyeri merupakan pengalaman
subjektif dan harus dijelaskan oleh pasien. Identifikasi karakteristik nyeri
dan faktor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk
memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi
yang diberikan.
|
1.
Pengenalan segera meningkatkan intervensi
dini dan dapat mengurangi beratnya serangan.
2.
Meningkatkan rasa nyaman dengan
menurunkan vasodilatasi.
3.
Akan melancarkan peredaran
darah, dan dapat mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan
1.
Analgesik memblok lintasan
nyeri, sehingga nyeri berkurang
2.
Merupakan indikator/derajat
nyeri yang tidak langsung yang dialami.
|
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan denga
penekanan medula oblongata.
Tujuan : Pola pernafasan kembali normal
Tujuan : Pola pernafasan kembali normal
Kriteria Hasil :
1. Pola nafas efekif
2. GDA normal
3.
Tidak terjadi sianosis
Intervensi
|
Rasional
|
1.
Pantau frekuensi, irama,
kedalaman pernafasan. Catat ketidakteraturan pernafasan
1.
Posisikan semi fowler
1.
Anjurkan pasien untuk melakukan
nafas dalam
2.
Auskultasi suara nafas,
perhatikan daerah hipoventilasi dan adanya suara-suara tambahan yang tidak
normal
1.
Kolabolasi. Berikan terapi
oksigen
2.
Perubahan dapat menandakan
awitan kompliasi pulmonal atau menandakan lokalisasi keterlibatan otak.
Pernapasan lambat , periode apnea dapat perlunya ventilasi mekanis.
3.
Memudahkan ekspansi paru dan
menurunkan kemungkinan lidah jatuh yang menyumbat jalan nafas.
4.
Membuat pola nafas lebih
teratur.
|
1.
Mengidentifkasi adanya masalah
paruatau obstruksi jalan nafas yang membahayakan oksigenasi serebral atau
menandakan infeksi paru.
2.
Memaksimalkan oksigen pada
darah arteri dan membantu dalam pencegahan hipoksia. Jika pusat pernafasan
tertekan, mungkin diperlukan ventilasi mekanik.
|
1.
3. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan
peningkatan tekanan intrakranial, pembedahan tumor, edema serebri.
Tujuan
: Perfusi jaringan membaik
ditandai dengan tanda-tanda vital stabil.
Kriteria hasil :
1. Tekanan perfusi
serebral >60mmHg, tekanan intrakranial <15mmHg, tekanan arteri
rata-rata 80-100mmHg
2. Menunjukkan tingkat
kesadaran normal
3. Orientasi pasien baik
4. RR 16-20x/menit
5.
Nyeri kepala berkurang atau tidak terjadi
Intervensi
|
Rasional
|
1.
Monitor secara berkala tanda
dan gejala peningkatan TIK
A.
Kaji perubahan tingkat
kesadaran, orientasi, memori, periksa nilai GCS
B.
Kaji tanda vital dan bandingkan
dengan keadaan sebelumnya
C.
Kaji fungsi autonom: jumlah dan
pola pernapasan, ukuran dan reaksi pupil, pergerakan otot
D.
Kaji adanya nyeri kepala, mual,
muntah, papila edema, diplopia, kejang
E.
Ukur, cegah, dan turunkan TIK
i.
Pertahankan posisi dengan
meninggikan bagian kepala 15-30, hindari posisi telungkup atau fleksi tungkai
secara berlebihan
ii.
Monitor analisa gas darah, pertahankan
PaCO2 35-45 mmHg, PaO2 >80mmHg
iii.
Kolaborasi dalam pemberian
oksigen
iv.
Hindari faktor yang dapat
meningkatkan TIK
1.
Istirahatkan pasien, hindari
tindakan keperawatan yang dapat mengganggu tidur pasien
2.
Berikan sedative atau analgetik
dengan kolaboratif.
|
1.
Mengetahui fungsi retikuler
aktivasi sistem dalam batang otak, tingkat kesadaran memberikan gambaran
adanya perubahan TIK
2.
Mengetahui keadaan umum pasien,
karena pada stadium awal tanda vital tidak berkolerasi langsung dengan
kemunduran status neurologi
3.
Respon pupil dapat melihat
keutuhan fungsi batang otak dan pons
d. Merupakan tanda peningkatan TIK
1.
Peninggian bagian kepala akan
mempercepat aliran darah balik dari otak, posisi fleksi tungkai akan
meninggikan tekanan intraabomen atau intratorakal yang akan mempengaruhi
aliran darah balik dari otak
2.
Menurunnya CO2 menyebabkan
vasokonstriksi pembuluh darah
3.
Memenuhi kebutuhan oksigen
1.
Keadaan istirahat mengurangi
kebutuhan oksigen
2.
Mengurangi peningkatan TIK
|
1.
4. Resiko cedera berhubungan
dengan vertigo sekunder terhadap hipotensi ortostatik.
Tujuan
: Diagnosa tidak menjadi
masalah aktual
Kriteria hasil :
1. Pasien dapat
mengidentifikasikan kondisi-kondisi yang menyebabkan vertigo
2. Pasien dapat menjelaskan
metode pencegahan penurunan aliran darah di otak tiba-tiba yang berhubungan
dengan ortostatik.
3. Pasien dapat melaksanakan
gerakan mengubah posisi dan mencegah drop tekanan di otak yang tiba-tiba.
4.
Menjelaskan beberapa episode vertigo atau pusing.
Intervensi
|
Rasional
|
1.
Kaji tekanan darah pasien saat
pasien mengadakan perubahan posisi tubuh.
1.
Diskusikan dengan klien tentang
fisiologi hipotensi ortostatik.
2.
Ajarkan teknik-teknik untuk
mengurangi hipotensi ortostatik
A.
Untuk mengetahui pasien
mengakami hipotensi ortostatik ataukah tidak.
B.
Untuk menambah pengetahuan
klien tentang hipotensi ortostatik.
C.
Melatih kemampuan klien dan
memberikan rasa nyaman ketika mengalami hipotensi ortostatik.
|
1. Gangguan komunikasi verbal
berhubungan dengan efek afasia pada ekspresi atau interpretasi.
Tujuan
: Tidak mengalami kerusakan
komunikasi verbal dan menunjukkan kemampuan komunikasi verbal dengan orang lain
dengan cara yang dapat di terima.
Kriteria Hasil:
1. Pasien dapat mengidentifikasi
pemahaman tentang masalah komunikasi.
2. Pasien dapat membuat metode
komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan
3.
Pasien dapat menggunakan sumber-sumber dengan tepat
Intervensi
|
Rasional
|
1.
Perhatikan kesalahan dalam
komunikasi dan berikan umpan balik.
1.
Minta pasien untuk menulis nama
atau kalimat yang pendek. Jika tidak dapat menulis, mintalah pasien untuk
membaca kalimat yang pendek.
2.
Berika metode komunikasi
alternative, seperti menulis di papan tulis, gambar. Berikan petunjuk visual
(gerakan tangan, gambar-gambar, daftar kebutuhan, demonstrasi).
3.
Katakan secara langsung dengan
pasien, bicara perlahan, dan dengan tenang. Gunakan pertanyaan terbuka dengan
jawaban “ya/tidak” selanjutnya kembangkan pada pertanyaan yang lebih komplek
sesuai dengan respon pasien.
4.
Pasien mungkin kehilangan
kemampuan untuk memantau ucapan yang keluar dan tidak menyadari bahwa
komunikasi yang diucapkannya tidak nyata.
5.
Menilai kemampuan menulis dan
kekurangan dalam membaca yang benar yang juga merupakan bagian dari afasia
sensorik dan afasia motorik.
6.
Memberikan komunikasi tentang
kebutuhan berdasarkan keadaan/ deficit yang mendasarinya.
|
1.
Menurunkan kebingungan/ansietas
selama proses komunikasi dan berespons pada informasi yang lebih banyak pada
satu waktu tertentu.
|
1.
6. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuhberhubungan dengan efek kemoterapi dan
radioterapi.
Tujuan
: Kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi dengan adekuat
Kriteria hasil:
1. Antropometri: berat badan
tidak turun (stabil)
2. Biokimia: albumin normal
dewasa (3,5-5,0) g/dl
Hb
normal (laki-laki 13,5-18 g/dl, perempuan 12-16 g/dl)
1. Clinis: tidak tampak kurus,
terdapat lipatan lemak, rambut tidak jarang dan merah
2.
Diet: klien menghabiskan porsi makannya dan nafsu makan bertambah
Intervensi
|
Rasional
|
1. Kaji tanda dan gejala
kekurangan nutrisi: penurunan berat badan, tanda-tanda anemia, tanda vital
2. Monitor intake nutrisi
pasien
3. Berikan makanan dalam
porsi kecil tapi sering.
4. Timbang berat badan 3
hari sekali
5. Monitor hasil
laboratorium: Hb, albumin
6. Kolaborasi dalam
pemberian obat antiemetik
|
1. Menentukan
adanya kekurangan nutrisi pasien
1. Salah
satu efek kemoterapi dan radioterapi adalah tidak nafsu makan
2. Mengurangi
mual dan terpenuhinya kebutuhan nutrisi.
3. Berat
badan salah satu indikator kebutuhan nutrisi.
4. Menentukan
status nutrisi
1. Mengurangi
mual dan muntah untuk meningkatkan intake makanan
|
7. Diagnosa :
Gangguan persepsi sensori visual berhubungan dengan aneurisma
Tujuan
: Mempertahankan fungsi penglihatan dan mencegah kerusakan yang lebih
parah
Kriteria Hasil:
Mempertahankan lapang pandang tanpa kehilangan lebih
lanjut
Intervensi
|
Rasional
|
Mandiri:
1.
Kaji respon pupil:
1.
Inspeksi pupil dengan senter
kecil untuk mengevaluasi ukuran, konvigurasi, dan reaksi terhadap cahaya.
2.
Evaluasi tatapan klien untuk
menentukan apakah terdapat konjugasi (berpasangan, saling bekerja sama) atau
apakah gerakan mata abnormal.
3.
Evaluasi kemampuan mata untuk
melakukan abduksi dan adduksi
1.
Pastikan derajat atau tipe
kehilangan penglihatan
1.
Dorong mengekspresikan perasaan
tentang kehilangan atau kemungkinan kehilangan penglihatan
1.
Lakukan tindakan untuk membantu
pasien menangani keterbatasan penglihatan. Misalnya, kurangi kekacauan, atur
perabot, ingatkan memutar kepala ke subjek yang terlihat, perbaiki sinar
suram dan masalah penglihatan malam.
|
1.
Perubahan pupil menunjukkan
tekanan pada syaraf okulomotorius atau optikus
A.
Reaksi pupil diatur oleh
syarafokulomotorius (syaraf cranial III) pada batng otak.
1.
Gerakan mata konjugasi diatur
dari bagian korteks dan batang otak.
1.
Syaraf cranial VI atau syaraf
abdusen mengatur gerakan abduksi dan adduksi mata. Syaraf cranial IV atau
syaraf troklearis juga mengatur gerakan mata.
1.
Mempengaruhi harapan masa depan
pasien dan pilihan intervensi
1.
Intervensi dini mencegah
kebutaan bagi pasien dalam menghadapi kemungkinan atau mengalami kehilangan
penglihatan sebagian atau total. Meskipun kehilangan penglihatan telah
terjadi tak dapat diperbaiki kehilangan lanjut dapat dicegah.
2.
Menurunkan bahaya keamanan
sehubungan dengan perubahan lapang pandang atau kehilangan penglihatan dan
akomodasi pupil terhadap sinar lingkungan
A.
Kolaborasi:
|
Lakukan tindakan pembedahan pada tumor yang masih
bersifat jinak (benigna).
1.
Agen hiperosmotik. Contoh:
mannitol (osmitrol; gliserin)
1.
Dipifevren hidroclorida
(propine)
|
1.
Mencegah terjadinya metastase
ke organ lain serta mencegah kerusakan yang lebih parah.
2.
Digunakan untuk menurunkan
sirkulasi volume cairan, dimana akan menurunkan produksi aquos humor bila
pengobatan lain belum berhasil.
3.
Mungkin menguntungkan bila
pasien tidak berespon pada obat lain. Bebas efek samping seperti, penglihatan
kabur, kebutaan malam.
|
8. Diagnosa: Gangguan persepsi sensori penghidu
berhubungan dengan aneurisma
Tujuan: Mempertahankan fungsi pembau dan
mencegah kerusakan yang lebih parah
Kriteria Hasil: Mempertahankan fungsi pembau
Intervensi
|
Rasional
|
1.
Mandiri:
Lakukan uji indra pembau klien dengan memberi tester
bau yang khas seperti kopi dan bawang
1.
Memberi helth education
kepada pasien mengenai penurunan fungsi pembau
|
Mengetahui seberapa baik kemampuan membau klien
Membantu pasien untuk dapat menerima kondisi yang dialami
|
9. Diagnosa : Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan
nyeri akibat tidak mampu menggerakan leher
Tujuan : Memberikan kenyamanan gerak leher pada klien
Kriteria Hasil :
1. Klien dapat menggerakan
leher secara normal
2.
Klien dapat beraktifitas secara normal
Intervensi
|
Rasional
|
1.
Kaji rentang gerak leher klien
2.
Memberi helth education
kepada pasien mengenai penurunan fungsi gerak leher
3.
Kolaburasi dengan fisioterapi
4.
Mengetahui kemampuan gerak
leher klien
5.
Membantu pasien untuk dapat menerima
kondisi yang dialami
6.
Terapi dapat membantu
mengembalikan gerak leher klien secara normal
|
BAB
IV
PENUTUP
4.1.
KESIMPULAN
Tumor otak adalah suatu
pertumbuhan jaringan yang abnormal di dalam otak.
Yang terdiri atas Tumor otak benigna dan maligna. Tumor otak benigna adalah
pertumbuhan jaringan abnormal di dalam otak, tetapi tidak ganas, sedangkan
tumor otak maligna adalah kanker di dalam otak yang berpotensi menyusup dan
menghancurkan jaringan di sebelahnya atau yang telah menyebar (metastase)
ke otak dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah.
Tumor
disebabkan oleh mutasi DNA di dalam sel. Akumulasi dari mutasi-mutasi tersebut
menyebabkan munculnya tumor. Sebenarnya sel kita memiliki mekanisme perbaikan
DNA (DNA repair) dan mekanisme lainnya yang menyebabkan sel merusak dirinya
dengan apoptosis jika kerusakan DNA sudah terlalu berat. Apoptosis adalah
proses aktif kematian sel yang ditandai dengan pembelahan DNA kromosom,
kondensasi kromatin, serta fragmentasi nukleus dan sel itu sendiri. Mutasi yang
menekan gen untuk mekanisme tersebut biasanya dapat memicu terjadinya kanker.
Pengobatan tumor otak tergantung kepada lokasi dan jenisnya.Pemilihan jenis
terapi pada tumor otak tergantung pada beberapa faktor, antara lain kondisi
umum penderita, tersedianya alat yang lengkap, pengertian penderita dan
keluarganya, luasnya metastasis. adapun terapi yang dilakukan, meliputi
terapi steroid, pembedahan, radioterapi dan kemoterapi.
DAFTAR PUSTAKA
2. Adams and Victors, Intracranial
Neoplasms and Paraneoplastic Disorders in Manual of Neurology edisi 7,
McGraw Hill, New York, 2002 : 258 – 263
3. Adams and Victors, Intracranial
Neoplasms and Paraneoplastic Disorders in Principles of Neurology edisi
7, McGraw Hill, New York, 2001 : 676 – 721
4. Syaiful Saanin, dr, Tumor
Intrakranial dalam http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/Pendahuluan.html, dikutip tanggal 13 November 2004
5. Harsono, Tumor Otak dalam Buku
Ajar Neurologi Klinis edisi I, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1999
: 201 – 207
6. What you need to Know about Brain
Tumor at http://www.cancer.gov
7. Mahar, M., Proses Neoplasmatik di
Susunan Saraf dalam Neurologi Klinis Dasar edisi 5, Dian Rakyat,
Jakarta, 2000 : 390 – 402
8. Meyer, J.S., Gilroy J., Tumors of
the Central Nervous System in Medical Neurology edisi 2, McMillan
Publishing C. Inc, New York, 1995 : 611 – 629
9. Bradley, Walter G., Neuro-Oncology
in Pocket Companion to Neurology in Clinical Practice edisi 3,
Butterworth, Boston 2000 : 239 – 267
10. Howard L.W., Lawrence P. L.,
Malignancy and the Nervous System in Neurology edisi 5, Williams &
Wilkins, Philadelphia, : 139 - 142